My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Terbebani Dengan Kenyataan Yang Terjadi?!



Delano merasa terbebani dengan hal yang baru saja dia ketahui. Namun ternyata dia juga tidak mungkin mengatakannya pada Alana saat ini. Kondisi istrinya itu baru saja stabil dan Delano tidak mau menambah beban pikiran Alana yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan Alana dan juga bayinya.


"Sayang, airnya sudah siap"


Alana mengerutkan keningnya bingung, ketika dia melihat Delano yang malah melamun di atas sofa. Alana berjalan menghampirinya dan melambaikan tangannya di depan wajah Delano.


"Sayang.."


Delano mengerjap kaget, dia menatap Alana dengan wajah terkejut. Lalu beberapa detik kemudian dia baru tersenyum pada Alana.


"Sayang sudah siap airnya?"


"Iya, kamu lagi mikirin apa si? Kok kayak yang lagi banyak pikiran gitu"


Delano berdiri, dia memeluk istrinya dan memberi kecupan penuh kasih sayang di kedua pipinya. "Aku hanya sedang memikirkan kerjaan yang belum selesai tadi di kantor"


"Emm gitu ya, jangan terlalu di forsir tenaga dan pikirannya. Nanti kamu sakit"


"Iya Sayang"


Delano berlalu ke kamar mandi, sementara Alana menatap bingung pada punggung pria itu yang berlalu dari hadapannya. Tidak biasanya Delano seperti itu.  "Apa dia ada masalah ya di Kantor selain pekerjaannya yang belum selesai"


Alana memilih untuk menanyakan langsung pada Delano nanti, setelah suaminya selesai mandi. Alana menunggu suaminya di dalam ruang ganti dengan baju ganti untuk suaminya yang berada di tangannya.


Ketika Delano keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Alana yang sedang duduk di atas kursi di pojok ruangan. Delano segera menghampirinya.


"Sayang, ini baju ganti buat kamu" Alana menyodorkan pakaian di tangannya pada Delano, dia juga membantu suaminya itu untuk memakai pakainnya.


"Sayang, tidak ada masalah di Kantor 'kan?"


Delano menggeleng, memang tidak ada masalah apapun di perusahaannya. Masalahnya hanya tentang hal baru yang Delano ketahui tentang istrinya ini. Membuat dia sedikit kepikiran.


"Tidak ada Sayang, kamu tidak perlu memikirkan apapun karena memang tidak ada masalah apapun di Kantor"


Alana mengalungkan tangannya di leher suaminya, menatap Delano dengan lekat. "Terus kenapa kamu kayak yang lagi banyak masalah seperti itu. Dari tadi kamu banyak melamun deh"


Cup..


Delano mengecup bibir istrinya dengan gemas. "Tidak papa Sayang, kan aku sudah bilang hanya sedang memikirkan pekerjaan yang belum selesai di Kantor tadi"


Alana mengecup pipi suaminya dengan lembut, lalu dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada bidang suaminya itu.


"Sayang kalau ada apa-apa kamu bilang saja sama aku ya, kalaupun aku tidak bisa membantu apa-apa. Tapi setidaknya aku bisa menjadi tempat kamu untuk bercerita"


Delano memeluk istrinya dengan hangat, dia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu. "Iya Sayang"


######


Alana mulai tidak nyaman dalam posisi tidurnya sejak kehamilannya yang semakin membesar. Malam ini saja dia hanya bolak balik kanan kiri, untuk mencari kenyamanan dalam tidurnya. Namun, tetap saja dia tidak bisa tidur. Akhirnya dia memilih bangun dan duduk bersandar di atas tempat tidur.


Mengelus perutnya dengan lembut, rasanya sudah mulai terasa sesak jika dia tertidur. Posisi apapun selalu membuatnya tidak nyaman.


"Sayang, kok tidak tidur?"


Delano yang menyadari jika istrinya terbangun. Dia langsung ikut bangun dan melihat keadaan istrinya. Menatap Alana yang sedang bersandar itu.


"Aku tidak bisa tidur, engap banget gak nyaman tidurnya"


Delano menyandarkan tubuhnya dengan setengah berbaring. Dia melebarkan kakinya, menyuruh Alana untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Sini, kamu tidur disini, bersandar sama aku"


"Tidak papa, ayo cepat pindah kesini. Ini masih malam dan kamu harus banyak istirahat"


Dan Alana menurut untuk masuk ke dalam pelukan suaminya, tubuhnya bersandar di dada Delano dengan tangan Delano yang terus mengelus perutnya dengan lembut.


"Apa sekarang sudah nyaman?"


Alana mengangguk, dia bisa tidur dengan cukup nyaman dalam pelukan suaminya. Delano mengecup puncak kepala istrinya. Dia tidak mau istri yang sangat dia cintai itu harus kembali terluka ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya terjadi.


Terkadang Delano juga merasa bingung kenapa harus Alana yang mengalami semua ini. Padahal Alana selalu baik pada setiap orang dan dia juga adalah anak penurut pada orang tuanya. Tapi entah kenapa kebaikannya ini seolah tidak terlihat oleh mereka semua.


"Aku tidak akan rela membiarkan kamu terluka dengan semua ini. Lebih baik kamu tidak mengetahui kenyataannya"


######


Pagi ini Delano terbangun dengan tubuhnya yang terasa sangat remuk. Ternyata membuat istrinya nyaman cukup membuat tubuhnya sakit juga.


"Sayang maaf ya karena aku, sekarang badan kamu jadi sakit semua"


Tapi sungguh Delano tidak menyesal karena sudah melakukan itu. Karena sekarang dirinya mendapatkan pijat gratis dari istrinya ini. Tentu saja tidak hanya pijatan saja yang Delano minta, tapi juga dengan hal lain yang tentunya membuat dia puas dan terlihat lebih segar pagi ini.


"Terima kasih ya Sayang, aku senang sekali"


Alana hanya mencebikan bibirnya ketika mereka keluar dari dalam kamar dan wajah suaminya yang terlihat begitu bahagia. "Kamu yakin tidak akan terlambat bekerja? Ini sudah siang loh"


Cup..


Delano sengaja mencuri kecupan di pipi istrinya. "Terlambat sedikit saja tidak akan apa-apa. Karena aku 'kan yang menjadi Bosnya sekarang"


"Dih sombong banget kamu"


Delano hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Tapi apa yang dia katakan memang kenyataannya, Delano yang sekarang sudah menjadi pemimpin perusahaan besar peninggalan Ayahnya itu.


"Beruntung ya karena hanya aku anaknya Daddy, kalau sampai Daddy punya anak lagi dari para wanita selingkuhannya itu pasti aku tidak akan menjadi pewaris utama perusahaan Daddy"


Alana tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu. Memang terkadang Delano itu selalu bikin Alana ingin tertawa.


"Kamu ini aneh-aneh aja deh, emangnya kamu mau kalau sampai ada anak Daddy kamu yang lain?"


"Enggaklah, aku tidak akan menerimanya kalau memang ada. Lagian aku yakin kalau Daddy hanya akan mempunyai anak dari Mommy saja"


"Iya terserah kamu deh"


Alana berjalan lebih dulu ke arah ruang makan. Delano hanya tersenyum sambil mengikuti istrinya itu. Makan sarapan di meja makan dengan tennag. Delano bahagia melihat istrinya yang makan dengan cukup lahap pagi ini.


"Nah gitu dong, makan yang banyak biar kamu tetap sehat"


"Ya ampun Sayang, aku lupa kalau hari ini jadwal aku periksa ke Dokter kandungan"


"Kamu ini, kenapa bisa lupa si. Habis sarapan langsung siap-siap kita pergi ke rumah sakit sekarang"


"Tapi 'kan kamu mau pergi bekerja, aku bisa pergi naik taksi saja"


Tentu saja Delano tidak akan mengizinknnya. Karena sesibuk apapun dia, tetap akan mendahulukan istrinya dalam hal apapun. Apalagi untuk periksa kandungan.


"Aku antar kamu dulu untuk periksa kandungan, baru nanti pergi ke Kantor"


Bersambung