My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Apa Ini Adil?



Dengan kebingungan dalam dirinya, Alana tetap membukakan pintu. Dan yang dia lihat bukan Delano, tapi seorang pria yang tidak Alana kenal. Penampilan pria itu membuat Alana sedikit takut, pria dengan tinggi tegap dan pakaian yang serba hitam. Ketika Alana ingin menutup pintu, tangan pria itu langsung menahannya membuat Alana tidak bisa menutup pintu.


"Saya hanya di suruh Tuan Delano untuk menjemput anda sekarang"


Mendengar nama Delano membuat Alana langsung menatap pria itu. "Dimana Delano sekarang? Dia baik-baik saja 'kan?"


"Mari Nona ikut saya, anda akan tahu nanti"


Dan Alana hanya mengikuti pria itu, entah kenapa dia juga merasa perasaannya yang tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Delano. Gumamnya dalam hati.


Dan ketika sampai di tempat tujuan, Alana hanya terdiam ketika melihat banyaknya orang di rumah Dario. Alana sedikit bingung dengan keadaan saat ini. Dia turun dari mobil dan menatap pada pria yang menjemputnya di Apartemen tadi. Baru saja Alana ingin bertanya, namun semuanya sudah terjawab ketika dia tidak sengaja melihat bendera kuning di depan rumah Dario ini.


"Si-siapa yang meninggal?"


Tubuh Alana mulai bergetar, dia takut akan terjadi sesuatu pada Delano. Entah kenapa dalam pikirannya adalah Delano yang meninggal.Namun Alana berharap semua itu hanya pikirannya saja.


"Tuan Dario, semalam dia kritis dan meninggal dunia menjelang pagi tadi. Saat ini jenazahnya masih dalam perjalanan"


Alana terdiam mendengar itu, dia terbayang wajah Dario yang dulu sempat menikah dengannya. Pria yang sempat menjadi suaminya, meski mereka tidak saling mencintai. Alana masuk ke dalam rumah dan menunggu di ruang tengah. Para pelayat sudah banyak yang berdatangan, mungkin mereka ingin menyambut Dario datang ke rumah ini meski untuk yang terakhir kalinya.


Alana duduk di kursi dengan tangan yang saling bertaut di atas pangkuannya. Alana sedang menunggu kedatangan Delano karena dia juga tidak tahu bagaimana keadaan Delano saat ini.


"Delan, aku minta maaf karena sudah berprasangka buruk padamu" lirihnya


Seseorang yang duduk di samping Alana, membuat dia menoleh dan cukup terkejut saat melihat siapa yang duduk di sampingnya itu.


"Hai, Alana apa kabar?"


Alana terdiam, dia bingung sendiri harus mengatakan apa saat ini ketika Lerita yang datang menghampirinya. Mengingat bagaimana pertemuan terakhir dirinya dengan Lerita, ketika Lerita yang memohon pada Alana untuk tidak muncul kembali dalam kehidupan Delano karena dirinya yang saat ini memang sudah menikah dengan Delano.


Dan sekarang Alana malah bertemu dengan Lerita di rumah Delano, tentu saja Alana jadi bingung harus melakukan apa saat ini. Alana yang jadi bingung harus mengelak bagaimana lagi jika Lerita mempertanyakan keberadaannya di rumah Delano ini.


"Tidak usah terkejut, aku tahu kalau kamu sudah kembali pada kehidupan Delano. Aku juga mengerti jika kamu juga tidak mungkin melahirkan anak kamu itu tanpa Ayah. Tapi, apa kamu bisa untuk pergi dari kehidupan Delano setelah anak kamu itu lahir?"


Deg..


Sebuah pertanyaan yang Alana sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Meninggalkan Delano setelah dirinya melahirkan anak ini, lalu dia akan hidup tanpa anak yang dengan susah payah dia lahirkan ini? Rasanya Alana tidak akan bisa membiarkan itu terjadi.


"Tidak masalah, karena aku juga pasti bisa memberikan Delano keturunan. Kamu cukup melahirkan dengan selamat anak yang kamu kandung itu dan cukup anak kamu tahu kalau dia lahir bukan tanpa Ayah"


Ucapan Lerita malah semakin membuat hati Alana tersayat. Bagaimana dia yang harus merelakan Delano bahagia dengan wanita lain, sementara dirinya hanya bisa hidup bersama dengan anak dari pria yang sangat dia cintai itu. Apa ini adil?


Suara mobil ambulance mengalihkan Alana dan Lerita. Alana langsung berdiri dan berjalan keluar rumah untuk melihat keadaan Delano yang pastinya sangat kacau saat ini. Dan benar saja, ketika Delano keluar dari mobil, wajahnya terlihat sangat lesu dan terlihat jelas kesedihan di wajahnya itu.


Alana ingin mendekat pada Delano dan memeluk pria itu untuk memberikan kekuatan padanya. Tapi Alana sadar jika disana juga ada Lerita. Meski Delano pernah berkata jika Lerita dan dirinya tidak pernah menikah. Tapi mendengar ucapan Lerita barusan, jelas membuat Alana juga bingung harus percaya pada siapa.


Delano menatap sayu pada wanita hamil yang juga menatap ke arahnya. Alana yang seolah ingin menghampiri Delano, namun dia tidak berani. Membuat Delano yang akhirnya berjalan ke arahnya dan memeluknya. Alana tentu saja terkejut ketika Delano memeluknya.


Tangan Alana terangkat dan mengelus punggung Delano dengan lembut. "Kamu kuat Delan, aku yakin kamu bisa melewati semua ini dengan tegar. Daddy kamu juga pasti tidak ingin melihat kamu yang terus bersedih karena kepergiaannya"


Delano tidak menjawab apa-apa, tapi dia hanya memeluk Alana. Menyandarkan kepalanya di bahu Alana. Saat ini hanya Alana yang membuat Delano tenang. Akhirnya Alana membawa Delano menjauh dari kerumunan orang. Dia tahu jika pria itu harus mempunyai waktu untuk menenangkan diri dari kerumunan orang-orang yang datang.


Lerita yang jelas melihat bagaimana Delano yang lebih memilih menghampiri Alana, tentu saja sangat kesal. Merasa jika usahanya selama ini sangat sia-sia, karena ternyata Delano masih saja mendepankan Alana dan tidak pernah memperdulikan Lerita yang selama ini selalu mengejar dirinya.


Aku tidak akan menyerah begitu saja, pokoknya aku harus mendapatkan Delano bagaimana pun caranya. Karena aku tidak mungkin menyerah begitu saja setelah semua perjuanganku selama ini.


######


Alana membawa Delano ke sebuah kamar tamu. Dia mendudukan Delano di atas sofa, lalu dia mengambilkan minum untuk pria itu. "Minum dulu biar kamu lebih tenang"


Delano menatap Alana dengan mata sayunya, dia menerima pemberian air dari Alana dan meminumnya. "Terima kasih Sayang"


Alana mengangguk, dia mengambil kembali gelas di tangan Delano dan menyimpannya di atas meja. Lalu Alana menggenggam tangan Delano dengan lembut. "Delan, kamu harus kuat dengan semua ini. Daddy kamu juga pastinya sudah tenang disana. Bersedih wajar, karena kehilangan orang terkasih memang sangat berat. Tapi bersedih sewajarnya dan jangan berlarut-larut"


Delano menatap Alana dengan lembut, memang di saat dirinya dalam keadaan terpuruk sekalipun hanya Alana yang mampu menenangkan Delano dengan segala kelembutan dan ketulusannya.


"Aku ikhlas dengan kepergiaan Daddy ini, karena tidak ada yang bisa menghalangi maut untuk siapa pun makhluk yang hidup di muka bumi ini. Hanya saja aku masih terlalu shock karena kepergian Daddy ini terlalu cepat. Bahkan dia juga tidak menunjukan tanda-tanda kalau dia seang sakit selama ini. Kondisi tubuhnya yang langsung drop kemarin hingga akhirnya meninggal, benar-benar membuat aku sangat terkejut dan merasa tidak percaya"


Alana mengelus bahu Delano, dia mengerti bagaimana perasaan Delano saat ini. "Semuanya sudah takdir Tuhan, jadi kamu hanya perlu ikhlas menerima semua ini. Aku yakin kok, kalau Daddy kamu sudah bahagia disana"


Bersambung