My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Merajuk



Dan ketika Delano pulang ke rumah, dia langsung di sambut oleh istrinya yang sedang merajuk. Bahkan Alana tidak tersenyum padanya ketika dia pulang, berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya.


"Sayang, tolong ambilkan aku handuk"


Alana tidak berkata apapun, tapi dia mengambilkan apa yang diminta oleh suaminya. Tapi sepertinya ini memang sengaja di lakukan oleh Delano. Karena ketika Alana menyodorkan handuk ke pintu kamar mandi yang setengah terbuka, Delano malah menarik tangan Alana hingga wanita itu ikut masuk ke dalam kamar mandi. Alana memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Delano yang polos.


"Sayang, kamu kenapa diam terus kayak gitu. Padahal aku tidak melakukan apapun loh"


Alana tidak menjawab, dia sedikit kesal saat tahu kalau Delano juga pernah hampir menikahi Lerita saat dia tidak ada. Namun Delano tidak menyerah begitu saja, dia meraih tangan Alana dan menariknya sampai Alana jatuh ke dalam pelukannya.


"Delan, baju aku jadi ikutan basah sekarang"


Delano tidak memperdulikan ucapan Alana, dia malah mengecup bahu dan leher Alana dengan lembut. Dan setelah itu, entah apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu.


Dan beberapa saat kemudian, Alana keluar dari dalam ruang ganti dengan wajah yang cemberut. Kesal juga dengan kelakuan suaminya di dalam kamar mandi tadi. Melihat istrinya yang cemberut, membuat Delano langsung menghampirinya dan memeluknya. Namun Alana langsung menepis tangan Delano yang memeluknya itu.


"Sayang, kamu kenapa si? Dari tadi kok cemberut terus sama aku"


Alana memalingkan wajahnya, entah kenapa rasa kesal di hatinya sangat besar saat dia tahu kalau Delano pernah mengajak Lerita untuk menikah. Mungkinkah karena hormon kehamilan juga yang membuat Alana begitu kesal pada suaminya itu hanya karena mendengar ucapan Lerita.


"Kamu pernah mengajak Lerita untuk menikah?"


"Hah?!"


Delano mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang di ucapkan Alana barusan. "Apa maksud kamu? Aku tidak pernah mengajak siapapun untuk menikah selain kamu. Karena hanya kamu yang akan aku nikahi dan aku ajak untuk menikah. Lagian kamu ini dapat kabar darimana si?"


"Lerita, tadi datang kesini dan mengatakan kalau dia dan kamu hampir saja menikahkalau aku tidak kembali hadir dalam kehidupan kamu"


Delano menghela nafas kasar, jelas dia tidak pernah menyangka jika Lerita masih saja mencoba untuk menghancurkan hubungannya dan Alana. Padahal sudah beberapa kali dia menggagalkan rencananya itu. Tapi sepertinya Lerita belum juga menyerah untuk memisahkan Alana dan Delano.


"Sayang, apapun yang dia ucapkan itu hanya sebuah kebohongan. Kamu jangan gampang percaya gitu saja dengan Lerita, sudah tahu kalau wanita itu berusaha untuk memisahkan kita"


Alana menoleh dan menatap suaminya, ya memang benar juga apa yang di katakan oleh Delano barusan. Tapi tetap saja Alana merasa kesal saat mendengar ucapan Lerita tadi.


"Lagian, kenapa kamu harus membukakan pintu untuk orang seperti dia si?"


"Ya, aku 'kan tidak tahu kalau tamu yang datang ke rumah ini, dia"


Delano merangkul bahu istrinya dengan lembut, mengecup pipinya itu dengan sangat dalam hingga Alana sedikit meringis. "Gemas aku sama tingkah bodoh kamu ini. Masih saja percaya dengan ucapan Lerita. Sudah tahu dia ingin memisahkan kita berdua sejak lama, kenapa kamu masih saja percaya dengan apa yang dia ucapkan"


Alana hanya mencebikan bibirnya saat Delano mengatainya bodoh. "Ya, kan aku kira kamu sempat jatuh cinta pada Lerita. Mengingat kita yang berpisah cukup lama, rasanya tidak mustahil juga jika kamu jatuh cinta pada wanita lain"


"Lihat aku!" Delano menangkup wajah Alana dan menatap manik hitam milik gadis itu dengan lekat. "...Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada siapapun lagi, karena hanya kamu yang berhasil membuat aku jatuh cinta. Sayang, aku hanya akan mencintaimu dan jatuh cinta padamu, sampai kapan pun"


"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah begitu tulus mencintaiku selama ini"


Delano mengangguk dan mengecup puncak kepala istrinya itu. Di balik itu ada tangannya yang mengepal kuat ketika dia mengingat ucapan Alana.


Lerita sudah mulai tidak bisa aku hadapi dengan hanya diam saja. Dia sudah berani mempengaruhi istriku, sudah tahu jika Alana ini sangat gampang sekali terpengaruh oleh siapa pun.


Delano tentu saja tidak akan membiarkan Lerita begitu saja. Dia tetap harus melakukan sesuatu agar Lerita jera dan tidak akan mengganggu kehidupannya bersama dengan Alana lagi.


######


"Sayang, dia menendang begitu kencang ya"


Antusias Delano saat dia merasakan tendangan dari anaknya dalam kandungan istrinya itu. Akhir pekan ini, Delano hanya habiskan waktu untuk bersama dengan istrinya. Bermanja dengan istrinya itu. Seperti saat ini saja, dia sedang tiduran di atas sofa dengan paha Alana yang menjadi bantalan. Delano terus mencium dan mengelus perut buncit Alana. Rasanya dia tidak pernah menyangka jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


"Sayang, kapan jadwal kamu periksa?"


Alana tersenyum saja melihat kelakuan Delano yang begitu antusias dengan kehamilannya ini. Dia memainkan rambut suaminya yang sedang tiduran di atas pangkuannya itu.


"Masih satu minggu lagi"


Delano tidur terlentang dan menatap wajah istrinya itu dari bawah. "Sayang, kamu tidak papa kalau bayi kita itu menendang? Tendangannya cukup kuat loh, pas aku rasakan tadi"


Alana tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Jelas sekali pertanyaan Delano itu terdengar lucu bagi Alana. "Tidak papa Sayang, lagian memang bagus kalau bayi kita aktif di dalam sana, itu artinya dia sehat"


Melihat senyuman istrinya, membuat Delano merasa gemas. Dia bangun dan langsung menyerang Alana dengan ciuman. Membuat istrinya itu gelagapan sampai dia hampir kehabisan nafas jika saja Delano tidak memberi jeda pada ciumannya ini.


"Sayang, kamu apaan si"


"Abisnya kamu sangat menggemaskan, ayo kita lanjutkan di dalam kamar saja"


Delano menggendong tubuh istrinya sambil terus mencium bibirnya dengan lembut. Berjalan menuju kamar dan masuk ke dalam kamar. Setelah itu terdengar sara-suara kenikmatan di dalam kamar itu.


Sepasang pengantin baru yang sedang memadu kasih dan cinta di dalam kamar. Saling menunjukan perasaan cinta masing-masing. Saling mengelurkaan ******* kenikmatan yang membuat suasana semakin memanas.


"Ahh.. Sayang, aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu, Delano"


******* panjang yang di iringi dengan ungkapan cinta yang entah sudah ke berapa kalinya. Namun keduanya seolah tidak pernah bosan untuk saling mengungkapkan cinta yang mereka punya. Alana dan Delano terlelap dengan saling berpelukan dengan tubuh mereka yang masih polos.


Bersambung