My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Aini Mempunyai Adik?!



Huwek..


Alana benar-benar merasa bingung dengan keadaan tubuhnya saat ini. Padahal dia hanya mencum bau parfum yang di pakai oleh suaminya. Sebenarnya bukan bau yang menyengat karena dia juga sering mencium bau parfum suaminya, dan tidak pernah sampai seperti ini.


"Sayang.."


Delano juga ikut bingung dan terkejut dengan apa yang terjadi pada istrinya ini. Delano yang melihat bagaimana Alana muntah-muntah pagi ini, tentu saja sangat bingung dan cemas.


"Kita ke rumah sakit saja sekarang, sampai muntah-muntah begini ah"


Alana membasuh wajahnya saat rasa mual sedikit mereda. Berbalik dan menatap suaminya yang menatapnya dengan begitu khawatir dan cemas.


"Aku tidak papa Sayang, fix deh ini kayaknya memang masuk angin saja"


Delano menghela nafas pelan, dia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membuat istrinya mau dia bawa ke rumah sakit untuk di periksa. Sepertinya memang Delano harus sedikit tegas dan memaksa agar Alana tidak terus menolak untuk di ajak ke rumah sakit.


"Aku tidak mau dengar apapun lagi, sekarang kamu ganti baju dan kita ke rumah sakit sekarang!"


"Sayang, aku hanya...."


"Tidak ada penolakan apapun lagi!"


Akhirnya Alana benar-benar tidak mempunyai alasan lagi untuk menolak ajakan suaminya untuk pergi ke Dokter. Alana hanya bisa pasrah karena Delano yang juga tidak lagi menerima bantahan apapun. 


"Hati-hati"


Delano menuntun Alana untuk menuruni anak tangga. Takut jika istrinya tiba-tiba pusing dan jatuh begitu saja. Bahkan mereka tidak sampai untuk sarapan, karena Delano yang ingin segera membawa Alana pergi ke rumah sakit. Delano yang sudah sangat khawatir dengan keadaan istrinya ini.


Sampai di rumah sakit, Alana langsung di periksa oleh Dokter tentang keluhan kesehatannya ini.


"Tadi pagi juga muntah Dok, kenapa ya?" tanya Delano yang menjelaskan tentang penyakit yang di alami oleh istrinya ini.


Dokter menganguk mengerti, dia langsung menyuruh Alana untuk berbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter pun langsung memeriksa keadaan Alana, sedikit menekan bagian perut Alana juga.


"Maaf, kapan terakhir kali anda datang bulan?"


Alana langsung menatap ke arah Delano yang berdiri disampingnya. Alana mulai berpikir ke arah yang berbeda tentang penyakit yang dia derita, ketika Dokter malah bertanya seperti itu.


"Mungkin 5 minggu yang lalu, saya memang belum datang bulan. Tapi memang biasanya juga telat, terkadang tidak sesuai jadwal"


Dokter mengangguk mengerti, lalu dia kembali melanjutkan pemeriksaan. Setelah itu Alana turun dari ranjang pemeriksaan dengan di bantu oleh suaminya. Duduk berhadapan di meja kerja Dokter, untuk mendengar penjelasan dari Dokter.


"Selamat ya, anda sedang hamil sekarang. Mungkin usia kadungannya baru 3 mingguan"


Alana terdiam mendengar penjelasan dari Dokter.


######


"Sayang, aku hamil? Ya ampun, usia Aini baru juga mau satu tahun. Bagaimana ini"


Alana yang baru bisa meluapkan kebingungannya ketika mereka sudah sampai di dalam kamar di rumah mereka ini. Tentu saja Delano juga terkejut ketika mendengarnya, dia tidak menyangka juga jika istrinya akan hamil dalam waktu yang terbilang cukup dekat.


Alana menghela nafas pelan, tidak seharusnya dia mengeluh dengan kehadiran anak keduanya ini. "Mungkin memang sudah saatnya Aini mempunyai adik"


Delano mengangguk, dia memeluk istrinya. Tentu dia terkejut, namun tetap merasa bahagia karena sebentar lagi, dia akan mempunyai lagi anak. "Terima kasih ya Sayang karena kamu sudah memberikan kebahagiaan ini. Terima kasih karena kamus sudah memberikan aku kebahagiaan yang sebenarnya"


Alana mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca, tentu saja dia juga tidak bisa memungkiri jika dirinya tetap bahagia  dengan kehadiran anak keduanya ini. Meski pada awalnya membuatnya terkejut.


#######


Saat ini tiba juga, Alana yang sudah begitu cantik dengan gaun yang indah melekat di tubuhnya itu. Dia masuk ke dalam kamar Vina, untuk melihat adiknya yang sedang di rias oleh MUA yang sengaja Alana undang ke rumahnya ini, untuk merias adiknya yang sebentar lagi akan menjalani kelulusan.


"Wah, cantik banget kamu Vin. Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menyelesaikan pendidikan kamu"


Vina tersenyum, dia berdiri dan memeluk Kakaknya itu. Jika bukan karena Alana, mungkin kehidupan Vina tidak akan sampai seperti ini. Vina tahu bagaimana Alana yang menjadi penyelamat hidup dan masa depannya.


"Terima kasih ya Kak, karena Kakak sudah membantu aku. Jika bukan karena Kakak mungkin aku tidak akan bisa menyelesaikan kuliah"


Alana mengelus punggung adiknya itu, tentu saja dia juga ikut bahagia dengan kebahagiaan yang di rasakan oleh adiknya ini.  "Kakak melakukan semua ini, karena memang Kakak tidak mau kalau kamu harus hancur masa depannya hanya karena tidak ada orang tua yang melindungi kamu sekarang. Ingat Vina, kamu masih punya Kakak yang akan menjadi pelindung kamu"


Vina menganggu, betapa dia harus banyak bersyukur karena hidupnya sudah terselamatkan oleh kehadiran Kakaknya ini. Alana yang menjadi sosok pahlawan dalam hidupnya.


"Yang terpenting sekarang, kamu harus bisa menjaga diri kamu dan tetap menjadi Vina yang sekarang. Vina yang baik"


"Iya Kak, aku janji akan tetap menjadi Vina yang sekarang. Vina yang dulu, akan aku buang jauh-jauh"


Karena berubah lebih baik akan lebih menenangkan dalam hidupnya. Vina yang tidak lagi merasa benci pada siapapun termasuk pada Kakaknya.


"Yaudah ayo pergi"


Vina dan Alana keluar dari kamar, disana ada Delano yang menunggu dengan memangku Aini. "Berangkat sekarang?"


"Iya ayo kita berangkat sekarang"


Delano berdiri dengan menggendong anaknya, merangkul pinggang istrinya. Delano tersenyum pada Vina yang berada disana.


"Selamat atas kelulusan kamu ya, Vin"


Vina mengangguk, dia tahu bagaimana Kakak iparnya ini yang berperan sangat penting dalam kehidupan dirinya dan juga Kakaknya.


"Iya Kak, terima kasih untuk semuanya ya. Karena Kakak sudah membantu aku dan mau menerima aku dalam kehidupan rumah tangga Kakak dan Kak Alana"


"Semuanya karena Kakak kamu. Jadi, kamu jangan pernah lagi mengecewakan Kakak kamu"


"Baik Kak, aku tidak akan pernah membuat Kakak kecewa lagi padaku. Aku akan membalas semua kebaikan Kakak selama ini, dengan menunjukan kesuksesan aku"


Alana tersenyum mendengar ucapan adiknya. Tahu bagaimana adiknya yang sekarang sudah benar-benar berubah.


"Kakak tunggu janji kamu itu" ucap Alana sambil menepuk bahu adiknya itu. Dia senang melihat Vina yang benar-benar sudah berubah lebih baik sekarang.


Bersambung