
Delano memejamkan matanya, meski dia tidak yakin bisa tidur dengan lelap malam ini. Karena istri yang biasa dia peluk tidak ada disampingnya saat ini.
Arghh..
Delano kembali terbangun dengan memeluk guling. Terlihat sangat miris sekali keadaannya saat ini. "Aku benar-benar sudah candu dengan tubuh istriku itu. Aku tidak akan bisa tidur kalau tanpa Alana di sampingku"
Delano jadi kesal sendiri dengan keadaan ini. Mau marah juga dia tidak mungkin marah pada istrinya yang sedang merajuk. Yang ada Alana akan semakin tidak mau memaafkannya. Jadi dia memilih untuk bersabar saja.
Ketika Alana terbangun di tengah malam, dia mulai merasa tidak bisa tidur karena tidak ada yang bisa dia peluk. Alana merasa tidak nyaman tidur sendirian. Dia turun dari atas tempat tidur, dan berjalan keluar dari kamarnya.
Alana masuk ke dalam kamar tamu yang di tempati oleh suaminya. Dia melihat suaminya yang sedang tertidur sambil memeluk guling. Alana mengambil guling dalam pelukan suaminya, lalu dia masuk ke dalam pelukan suaminya, menggantikan guling yang tadi.
Aku tetap tidak bisa jauh-jauh dari kamu.
Alana menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Merasa nyaman dengan pelukan suaminya. Tangan suaminya terangkat dan ikut memeluknya, namun dia menatap suaminya dan matanya masih terpejam. Mungkin Delano sadar jika Alana telah ada disampingnya.
Sampai pagi Alana tetap tidur di kamar tamu bersama dengan suaminya. Dan Delano yang bangun lebih dulu, tentu sadar dengan kehadiran istrinya di sampingnya. Rasanya Delano ingin tertawa sendiri ketika melihat istrinya sendiri yang datang menghampirinya, padahal dia sendiri yang menyuruhnya untuk pergi dari kamar mereka.
Cup..
Delano mengecup kening istrinya, dia semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya. "Aku sudah bilang, kalau kamu tidak akan kuat tidak bersama denganku"
Alana mengerjap ketika mendengar suara suaminya. Dia mendongak dengan bibir mencebik pada suaminya. Dan hal itu membuat Delano langsung mencium bibir istrinya dengan begitu lembut.
Alana melingkarkan tangannya di leher suaminya, menikmati ciuman yang di berikan oleh suaminya. "Sayang, kamu jelasin kemana semalam?"
Delano tersenyum mendengar itu, lalu dia mengecup kening istrinya. "Aku hanya ada pekerjaan sebentar, tidak ada apa-apa seperti yang ada di dalam pikiran kamu"
"Beneran? Tidak ada yang kamu sembunyikan?"
Delano langsung menggeleng pelan, dia tentu menyembunyikan hal dari istrinya. Tapi memang Delano belum bisa melakukan apapun. Dia belum bisa memberi tahukan apa yang sebenarnya terjadi karena hanya akan membuat Alana kepikiran dan ujung-ujungnya akan membuat kesehatannya terganggu juga.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, makanya jangan langsung marah gitu aja. Tanya dulu apa yang kamu pikirkan itu, karena tidak semuanya yang kamu pikirkan itu benar adanya"
Alana menyandarkan kepalanya kembali di atas dada suaminya. Dia memang kesal dengan Delano yang tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa meminta izin padanya tadi malam. Tapi dia juga tidak bisa berlama-lama berjauhan dengan Delano.
"Makanya kalau memang mau kemana-mana itu bilang dulu sama aku, jadi akunya tidak curiga sama kamu"
"iya Sayang, aku minta maaf"
#####
Setelah kejadian itu Delano lebih hati-hati lagi saat ingin bertemu dengan Abraham. Karena pasti Alana akan selalu curiga padanya. Jadi mulai sekarang Delano sering bertemu dengan Abraham di kantor saja. Lebih mudah untuk mencari alasan jika istrinya bertanya.
"Aku tidak bisa nih sering-sering bertemu dengan Papa. Alana sudah marah-marah dan sering curiga tidak jelas padaku"
Abraham terkekeh mendengar itu, tentu saja dia tidak bisa menahan tawanya ketika melihat bagaimana menantunya itu yang sangat takut dengan putrinya, bahkan hanya karena istrinya itu marah saja, Delano sudah begitu takut. Tapi Abraham bersyukur karena memang dirinya jelas melihat bagaimana menantunya itu yang sangat mencintai Alana.
"Baiklah, pokoknya kamu tetap rahasiakan dulu tentang itu. Karena memang Papa ingin menyelesaikan dulu urusan Papa dengan Ibunya Alana"
Delano mengangguk, dia mengerti bagaimana perasaan Abraham. Ayah mertuanya itu pasti tidak akan pernah terima jika anak satu-satunya malah di perlakukan tidak baik oleh ibunya sendiri.
"Sayang, kok lama sekali pulangnya. Aku 'kan kangen"
"Ini aku sudah pulang cepet loh, aku pulang sore sengaja agar bisa makan malam bersama dengan kamu nanti malam"
Sebenarnya Delano sudah terbiasa dengan sikap manja istrinya ini. Karena memang mood Alana yang selalu berubah-ubah sejak kehamilan. Jadi sebisa mungkin Delano harus men-stabilkan emosi dan mood istrinya itu.
"Sayang, aku sudah pulang cepat. Jadi nanti malam kita akan makan bersama"
Alana mengangguk, dia selalu senang ketika suaminya selalu menyempatkan diri untuk bisa makan malam bersama dengan dirinya. Hal sederhana seperti itu sudah sangat membuat Alana bahagia.
"Yaudah, sekarang kamu mandi dulu ya. Aku akan masak kesukaan kamu untuk makan nanti malam"
"Iya Sayang"
Delano berendam di dalam bak mandi, dia masih saja memikirkan tentang Ayah mertuanya yang masih berencana untuk memberi pelajaran pada Ibu Alana dan keluarganya.
######
Malam ini Ibu dan Vina yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya langsung menyambut kedatangan suaminya yang baru saja datang bekerja. Wajah Ayah yang terlihat begitu lesu, membuat Ibu bertanya.
"Ayah kenapa? Kok lesu gitu mukanya?"
Ayah duduk di atas sofa dengan wajah yang masih sangat lesu dan tidak bersemangat. "Ayah di pecat Bu"
"Hah! Apa?!"
"Kenapa bisa Yah? Apalagi yang Ayah perbuat sampai di pecat dari pekerjaan Ayah ini?" tanya Ibu yang sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dari suaminya itu.
"Ayah ketahuan lagi melakukan penggelapan dana perusahaan, tapi Ayah yakin kok karena sudah benar-benar menyembunyikan barang bukti dengan se-rapih mungkin. Tapi entah kenapa tiba-tiba barang bukti itu sudah berada di tangan polisi"
"Apa?! Polisi Yah? Bagaimana bisa?" teriak Vina yang begitu terkejut dengan kabar berita yang Ayahnya bawa.
"Ayah juga tidak tahu, sepertinya memang ada yang sengaja menjebak Ayah"
"Terus kita harus bagaimana Yah?"
Ayah menggeleng pelan, karena dia juga tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Semua bukti jelas sudah tertuju padanya dan dia tidak akan bisa mengelak lagi.
"Ayah juga tidak tahu harus bagaimana Bu"
"Terus kuliah Vina gimana? Vina gak mau ya kalau sampai harus gagal kuliah"
Ayah dan Ibu tidak menjawab, karena mereka juga sedang bingung sekarang. Entah apa yang akan mereka lakukan saat ini. Selintas Ibu teringat pada Alana, saat dulu Ayahnya hampir kena kasus yang sama. Dia yang menolong dan menyelamatkan mereka. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang akan menyelamatkan mereka.
Apa ini sebuah balasan untuk aku?
Bersambung