My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Kemarahan Alana



Vina yang akan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, namun suara notifikasi pesan membuat dia mengurungkan niatnya. Vina langsung membuka pesan dari Kakaknya itu dengan sedikit malas. Namun ketika dia membaca pesan dari Alana, seketika tubuhnya mematung.


"I-ibu.." Vina langsung menepuk bahu kekasihnya yang sedang mengemudi motor sportnya itu. "...Ke rumah Kakak aku sekarang, Ibu aku meninggal"


"Hah?! Apa Vina?"


"Ibu aku meninggal, kita ke rumah Kakak aku sekarang" teriak Vina lebih kencang, karena bisingnya suara kendaraan di sekitarnya.


Vina sampai di depan rumah Kakaknya, terlihat banyak orang disana. Vina turun dari atas motor. Berjalan ke halaman rumah itu dengan kakinya yang bergetar hebat. Awalnya dia sempat mengira jika Kakaknya itu hanya sedang bercanda karena ingin Vina datang ke rumahnya saja. Tapi ternyata semuanya benar.


"IBU....."


Vina berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil Ibunya. Di dalam rumah suasana sedih begitu terasa, Kakaknya sedang duduk di sofa dengan suaminya yang berada di sampingnya. Vina langsung menghampiri Kakaknya, jatuh berlutut di lantai depan Alana.


"Kak, dimana Ibu?"


Alana menatap adiknya itu dengan matanya yang sudah sembab. Pemakaman Ibunya baru saja selesai, dan adiknya baru datang sekarang. Alana berdiri dan menghampiri adiknya itu.


Plak...


Sebuah tamparan yang mendarat sempurna di pipi kiri Vina. Alana benar-benar sangat kecewa dengan adiknya ini. Sudah sering dia mengalah dari Vina dalam hal apapun. Tapi bahkan Vina tidak bisa menjaga Ibunya dengan benar-benar baik.


"Untuk apa kamu datang Vina? Semuanya sudah selesai. Ibu sudah di makamkan, dan kamu yang selama ini selalu menjadi kesayangan Ibu, bahkan tidak ada di saat terakhir Ibu. Bagaimana pikiran kamu itu?"


Vina terdiam dengan wajah menunduk dan air mata yang mengalir di pipinya. Tangannya memegang pipi kirinya yang barusan di tampar oleh Kakaknya ini.


"Sejak kecil aku sudah banyak mengalah sama kamu. Kamu yang paling banyak mendapatkan kasih sayang Ibu. Tapi sekarang, bahkan di saat terakhirnya pun kamu tidak ada. Apa ini balasan dari kamu yang selalu mendapatkan kasih sayang Ibu dengan begitu besar?"


"Maafkan Vina Kak" lirih Vina dengan menundukan wajahnya di depan Alana. Bahkan dia tidak berani bergerak sedikit pun.


"Pergi dari sini, kamu sudah bukan siapa-siapa lagi untuk aku. Ibu sudah meninggal, maka hubungan saudara kita cukup sampai disini. Jangan anggap lagi aku Kakak kamu!"


"Kak Alana.."


Vina bahkan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Kakaknya itu. Alana langsung pergi dari hadapan adiknya, tidak perduli dengan banyak orang yang mungkin melihat dan mendengar pertengkaran dirinya dan Vina. Tapi saat ini Alana benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk terus bersikap baik pada Vina yang telah banyak mengorbankan dirinya hanya untuk kebaikannya sendiri.


Dulu saja, Ayah tidak akan terlibat dengan Dario dan hutang yang besar jika Vina tidak memaksakan diri untuk kuliah di tempat yang biayanya sangat mahal. Dan pada akhirnya tetap Alana yang harus berkorban untuk semua itu. Alana yang harus berkorban untuk menebus semua hutang yang Ayahnya lakukan pada perusahaan Dario. Alana benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak marah pada Vina. Saat ini dia sedang meluapka semua kemarahannya yang selama ini hanya dia tahan.


Alana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis dengan sesenggukan. Dadanya yang begitu terasa sesak sekarang. Bagaimana Alana yang selalu menahan amarah dan apa yang ingin dia katakan pada keluarganya selama ini.


Alana yang tidak bisa menolak, bahkan seolah tidak di izinkan untuk sekedar menggelengkan kepala untuk menolak perkataan orang tuanya. Alana bukan anak yang penurut, tapi dia di paksa untuk terus menuruti semua keinginan orang tuanya. 


Delano masuk ke dalam kamar, menghela nafas pelan ketika dia melihat istrinya yang sedang menangis. Delano berdiri di depan Alana, mengelus kepalanya dengan lembut.


Alana memeluk tubuh Delano yang berdiri di depannya. Menyandarkan kepalanya di perut Delano dengan tangisannya yang semakin menjadi. Alana hanya ingin mengeluarkan rasa sesak di dadanya ini.


######


Vina berjalan keluar rumah dengan kepala yang menunduk. Dia jelas tidak bisa terus memaksa Kakaknya yang sudah tidak mau bertemu lagi dengannya dan tidak mau lagi menjadi saudaranya. Vina menyadari semua kesalahannya, dia merasa wajar jika Alana sekarang begitu marah padanya. Karena selama ini, Alana tidak punya keberanian hanya untuk mengeluarkan kemarahannya.


"Vina.."


Panggilan dari kekasihnya itu membuat Vina mendongak, dia segera mendekati kekasihnya dan memeluknya. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang"


"Kamu masih punya aku, kita akan hidup bahagia sekarang. Sudahlah, kamu lupakan saja Kakak kamu dan keluarga kamu yang lain, kamu sudah punya aku sekarang"


Senyuman pria yang memeluk Vina itu jelas mengandung arti tertentu. Namun Vina tidak menyadari itu. Dia menganggap jika kekasihnya adalah sosok penolong dalam hidupnya disaat semua orang pergi meninggalkannya.


"Kita pergi sekarang ya, kamu harus tetap bahagia bersama denganku"


Vina mengangguk, dia melepaskan pelukannya dan menatap pria yang memeluknya itu. "Aku mencintaimu"


"Aku juga"


Vina pergi bersama dengan kekasihnya itu, tidak menyadari jika kepergiannya di awasi oleh Alana dari jendela kamarnya.


"Dia lebih memilih pacarnya itu daripada Ibu yang telah membesarkannya selama ini"


Delano memeluk tubuh istrinya dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Alana. "Sudahlah, kamu hanya perlu menenangkan diri kamu dulu. Vina juga butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Nanti setelah kalian berdua sama-sama tenang, barulah kalian bisa bertemu kembali dan membicarakan semuanya"


Delano tahu jika Alana mengatakan smeua itu hanya karena dia yang sedang termakan emosi. Bukan benar-benar dari hatinya. Delano tahu kalau istrinya ini juga sangat menyayangi adiknya itu. Namun semua beban dan kesedihan yang Alana terima selama ini membuat Alana tidak bisa menahan kemarahan dan kekesalannya pada adiknya itu.


"Aku ingin istirahat, rasanya tubuh aku sangat lelah"


Delano mengangguk, dia menuntuk istrinya ke arah tempat tidur. "Tidurlah, tenangkan hati dan pikiran kamu"


Delano menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Memberikan kecupan di kening istrinya itu sebelum dia pergi keluar kamar. Delano menemui Abraham yang masih berada di ruang tengah rumah ini. Duduk di samping Ayah mertuanya itu.


"Bagaimana dengan keadaan Alana?"


"Dia baik-baik saja, mungkin hanya sedikit emosi pada adiknya itu. Sekarang dia sedang tidur. Biarkan dia menenagkan pikirannya dulu"


Abraham mengangguk mengerti mendengar itu.


Bersambung