
Akhirnya semua perjuangan Delano untuk mencari Alana dan bisa menemukan Alana, kini bisa berbuah manis. Alana yang telah kembali percaya padanya, tidak ada lagi yang perlu Alana ragukan dengan semua yang telah terjadi saat ini dan di masa lalu. Semuanya sudah bisa dia lewati sampai saat ini.
Setelah tamu Delano sudah cukup tegar atas meninggal Ayahnya, mereka kembali ke Apartemen karena Alana yang ingin mengambil barang disana.
"Mau makan apa? Biar aku masak sekarang"
Alana terkekeh mendengar tawaran dari Delano itu. Bagaimana Delano yang malah ingin melayani Alana, seharusnya Alana yang melakukan itu.
"Biar aku saja yang masak, masa malah kamu yang membuatkan makanan untuk aku"
Alana berdiri dan berlalu ke dapur dengan di ikuti oleh Delano. Alana mulai memakai apron dan mulai mengambil bahan masakan di dalam lemari es. Dia mulai memotong-motong sayuran. Delano ikut duduk di kursi meja makan dan melihat bagaimana Alana yang begitu cekatan memotong sayuran.
"Sayang, kapan kamu akan periksa kandungan? Selama kamu kabur dari aku, kamu tetap melakukan pemeriksaan 'kan?"
Delano mendengus kesal ketika mengatakan hal itu. Mengingat kembali ketika Alana yang pergi meninggalkannya dan membuat Delano kelimpungan mencari dirinya.
"Aku melakukan pemeriksaan, tapi kadang suka terlambat dari jadwal yang di tentukan Dokter. Karena aku juga kerja, jadi harus nunggu jadwal libur"
Delano langsung menyipitkan matanya, menatap Alana. "Lagian kamu kenapa harus pergi dari aku? Memangnya kamu pikir kalau aku tahu kamu sedang hamil anak aku, maka aku tidak mau bertanggung jawab seperti kebanyakan pria di luar sana?"
Alana menghentikan kegiatan memotongnya, dia menoleh pada Delano yang menatapnya itu. Sebenarnya Alana ingin menceritakan semuanya, tapi mengingat jika Delano baru saja kehilangan Ayahnya, maka Alana lebih memilih untuk mengurungkan niatnya itu.
"Aku hanya merasa bingung saja dengan keadaan kita ini. Aku tidak mau menghancurkan hubungan kamu dan Daddy kamu"
Alasan yang cukup tepat Alana berikan pada Delano.Meski sebenarnya dia pergi juga bukan hanya karena itu, tapi karena di begitu tersiksa ketika Dario yang mengurungnya di dalam gudang.
"Padahal aku tidak pernah merasa terganggu dengan hal itu. Kamu tahu sendiri kalau aku dan Daddy pernah tidak akur selama beberapa tahun sejak dia berselingkuh dari Mommy"
Alana tersenyum pada Delano, dia tahu bagaimana Delano yang begitu menyayangi Ibunya hingga dia tidak bisa memaafkan kelakuan Ayahnya selama beberapa tahun. Terkadang Alana juga tidak pernah menyangka kalau Delano bisa setia seperti ini, sementara Ayahnya saja adalah pria yang suka memainkan wanita.
"Sudah ah, kenapa harus membahas masa lalu. Sekarang kita fokus saja pada masa depan"
Alana berdiri dari duduknya dan mulai memasak masakannya. Delano ikut berdiri dan memeluk Alana dari belakang. Entahlah, saat ini Delano sedang sangat bahagia dan dia juga tidak bisa jauh-jauh dari Alana selama dia berada di rumah.
"Kalau memang tidak boleh membahas masa lalu.Maka kita bicara saja soal pernikahan kita"
Alana langsung berbalik dan menatap Delano dengan wajah yang sedikit bingung dan juga terkejut. "Memangnya kamu sudah yakin untuk menikahi aku?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Delano menyentil kening Alana, membuat Alana sedikit meringis. Lalu Delano mengelus kening Alana yang tadi dia sentil. "...Kamu sudah hamil anak aku, kenapa juga kamu masih mempertanyakan itu? Jelas saja aku sudah yakin dengan keputusan aku ini. Karena sejak dulu pun aku tidak pernah ragu ketika memilih kamu sebagai pelabuhan hatiku"
Alana tersenyum tipis mendengar itu dengan wajahnya yang sedikit memerah karena dia yang merasa malu dengan ucapan Delano barusan. Tangan Alana melingkar di pinggang Delano dengan senyumannya yang penuh arti.
Cup..
"Sudah berani ya sekarang, apa kita akan memulainya lagi?"
Alana menggeleng pelan, tentu saja dia tidak mau memulai kesalahan lagi yang pernah dia lakukan dulu. "Jangan melakukannya lagi sebelum kita benar-benar telah menikah. Aku tidak mau memulai kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu"
Delano mengangguk, dia juga tahu tentang itu.Tentu saja Delano juga tidak ingin melakukan kesalahan yang sama pada Alana setelah semuanya yang terjadi.
"Nanti kita periksa kandungan kamu ya, aku ingin tahu bagaimana keadaan kamu dan calon bayi kita"
"Tapi masih belum jadwalnya aku ke Dokter"
"Tidak papa, aku ingin mengetahui keadaan kamu dan calon bayi kita sekarang. Kamu tahu bagaimana perasaan aku saat aku tahu kamu sedang hamil dan kamu malah melarikan diri dari aku. Perasaan aku langsung kacau seketika, aku memikirkan tentang kamu. Aku takut kamu akan menggugurkan anak itu seperti banyak cerita yang aku dengar"
"Aku juga calon Ibu dan aku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu pada anakku sendiri. Meski aku bingung bagaimana keadaan aku di masa depan jika aku tidak kembali bertemu dengan kamu lagi"
Delano tahu masa sulit yang di lewati Alana pada saat itu. Jelas dia tidak mungkin melakukan hal yang akan merugikan anaknya sendiri. Delano tahu itu.
######
Setelah selesai makan siang, Delano langsung membawa Alana ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Delano benar-benar ingin mengetahui bagaimana keadaan calon bayinya itu.
Hati Delano bergetar ketika dia melihat layar monitor yang menunjukan anaknya. Tangannya terus menggenggam tangan Alana dengan sesekali mengecupnya.
"Semuanya baik, posisi bayi juga sudah bagus. Tidak akan beresiko jika melahirkan secara normal"
Alana tersenyum mendengar itu, memang cita-citanya untuk bisa melahirkan secara normal. Alana ingin menjadikan dirinya benar-benar berjuang untuk melahirkan anaknya ke dunia ini.
"Ada yang ingin mengetahuI jenis kelaminnya?"
"Iya Dok, apa jenis kelaminnya?" Delano terlihat sangat tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anaknya itu.
"Sepertinya kalian akan mendapatkan seorang putri"
Delano menatap Alana dengan senyuman yang merekah. Jelas di bahagia sekali saat ini, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah. Tidak peduli apapun jenis kelamin anaknya, yang penting anaknya lahir dan selamat.
Delano mengecup kening Alana dengan lembut, tidak merasa malu dengan Dokter wanita yang berada disana. Yang jelas dia hanya ingin menunjukan kasih sayangnya dan kebahagiaannya ini pada Aalana.
"Terima kasih karena sudah memberikan aku kebahagiaan ini. Aku mencintimu" bisik Delano lembut di telinga Alana.
Alana hanya diam dengan wajahnya yang terasa memanas. Dia melirik Dokter yang memalingkan wajahnya ketika melihat kelakuan Delano. Sungguh Alana sendiri malu dengan kelakuan Delano yang seolah tidak tahu tempat itu.
Bersambung