My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Persiapan Perniakahan



Alana menatap wajah Delano yang sudah terlelap. Perlahan tangannya mengelus pipi Delano. Besok pagi adalah hari dimana mereka akan menikah. Alana tahu bagaimana Delano yang begitu bersemangat untuk mempersiapkan semuanya.Jadi dia juga harus lebih berekpestasi lebih dalam pernikahan itu agar tidak terus bersedih karena memikirkan orang tuanya yang menghilang.


Semoga besok acaranya berjalan dengan lancar.


Ada setitik perasaan tidak enak dalam hati Alana. Entah kenapa dia merasa gelisah menghadapi hari esok. Takut jika semuanya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Alana membaringkan tubuhnya di samping Delano, dia masuk ke dalam pelukan hangat pria itu dan mencoba untuk memejamkan mata. Alana tidak tahu kenapa dia malah sangat sulit untuk tertidur, apa yang terjadi di hari esok membuat Alana terus memikirkannya.


Hingga Alana benar-benar hanya tertidur beberapa jam saja, sampai pagi ini dia terbangun dengan wajah yang masih mengantuk. Alana sudah tidak menemukan Delano ketika dia bangun dari tidurnya, namun dia melihat dua orang wanita yang berdiri di dekat meja rias.


"Kalian siapa?" tanya Alana dengan matanya yang menyipit karena dia yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Kami yang akan merias anda untuk acara hari ini, Nona. Sekarang mari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh Nona"


"Eh kalian mau apa?"


Alana terkejut saat mereka mendekati Alana yang masih berada di atas tempat tidur, dan mereka yang ingin membuka  piayama tidur yang di kenakan oleh Alana.


"Kami akan membantu anda untuk mandi Nona, kamu sudah siapkan air untuk Nona mandi"


Alana langsung menggeleng dengan wajahnya yang terkejut. Tentu saja, dia sudah dewasa, kenapa harus mandi dengan di bantu oleh dua wanita di depannya ini.


"Aku bisa mandi sendiri, kalian tidak perlu membantu aku mandi. Kalian tunggu saja disini"


Alana langsung turun dari atas tempat tidur dan berjalan cepat ke kamar mandi agar kedua wanita itu tidak mengikutinya. Ketika Alana masuk ke dalam kamar mandi, dia cukup terkejut dengan bak mandi yang biasa dia pakai itu kini di penuhi dengan kelopak mawar merah yang terlihat indah.


Kaki jenjang Alana berjalan perlahan menuju bak mandi itu. Di atas lantai juga banyak kelopak mawar yang berjatuhan. Alana langsung mencium aroma mawar yang tercium ci penjuru ruangan bercampur dengan lilin aromaterapi yang menyala di setiap sudut.


Kaki jenjang Alana mulai masuk ke dalam bak mandi, dia berendam dengan begitu nyaman di dalam bak mandi itu. Kepalanya bersandar pada pinggir bak mandi dengan mata yang terpejam untuk membuat rileks tubuh dan pikirannya. Alana juga bingung kenapa Delano sampai menyiapkan semua ini, padahal mereka berdua baru saja akan menikah. Tapi  suasana di dalam kamar mandi ini sudah seperti pengantin baru di malam pertama saja. Kamar mandi yang di taburi banyak kelopak bunga mawar.


"Aku tidak mengerti kenapa Delano sudah menyiapkan semua in. Tapi aku juga menikmatinya"


Alana menikmati aroma terapi yang menenangkan dirinya. Hingga setengah jam kemudian dia baru keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lebih rileks. Kedua wanita yang tadi berada di dalam kamar, kini sudah berada di ruang ganti dengan pakaian di tangannya.


"Mari ganti bajunya dulu, Nona. Kita akan segera pergi ke gedung dan Nona biar kami rias di sana"


Alana mengambil pakaian dari tangan salah satu dari dua wanita di depannya ini. "Yaudah kalian keluar dulu sana, aku mau ganti baju dulu"


Lagian kenapa juga mereka harus masuk ke dalam sini, aku juga bisa ganti baju sendiri.


Setelah berganti pakaian, Alana keluar dari ruang ganti dan segera pergi dengan kedua wanita itu menuju gedung dimana tempat acara pernikahannya dan Delano akan dilaksanakan. Alana langsung di baw ke sebuah ruangan dimana dia akan di sulap menjadi seorang putri oleh tangan kedua wanita yang di tugaskan oleh Delano itu. Dan hari ini Alana tidak pernah menyangka jika saat ini akan terjadi juga.


Aku tidak tahu bagaimana takdir Tuhan, tapi saat ini aku berharap jika aku bisa bahagia seterusnya bersama dengan Delano.


Ya, semuanya sudah terjadi. Rasanya tidak mungkin juga Alana bisa memutar waktu, karena semuanya sudah terjadi dan dia hanya bisa menjalani hidupnya yang sekarang. Tidak untuk kejadian masa lalu yang menjadikan dia selalu kecewa dengan apa yang pernah terjadi dalam hidupnya dan kisah cintanya.


Namun pada akhirnya semuanya juga telah terselesaikan. Alana tetap bisa kembali pada Delano, cinta sejatinya itu.


"Nona, mari kita segera keluar karena Tuan sudah menunggu anda"


Alana menghembuskan nafas pelan, dia sangat takut dan gugup untuk keluar ruangan. Bertemu dengan banyak orang dengan keadaan dia saat ini. Alana memang menjadi seorang pengantin, tapi dia juga tidak melupakan jika dirinya sekarang sedang mengandung. Meski gaun pengantin yang dia kenakan tidak terlalu memperlihatkan dengan jelas perut besarnya itu. Tapi karena memang kehamilannya yang sudah besar, membuat perut Alana tetap terlihat cukup jelas.


Alana berjalan perlahan melewati karpet merah yang tergelar di aula gedung. Di ujung sana sudah berdiri Delano dengan balutan jas yang membuatnya semakin terlihat sangat gagah.


Kakinya terus melangkah dengan mata yang berkaca-kaca. Seharusnya di acara sakral seperti ini, ada orang tuanya yang menuntun Alana hingga sampai di depan pria yang akan menjadi suaminya. Tapi, harapan Alana itu hanya sebuah angan yang tidak akan pernah terjadi. Karena nyatanya keluarganya tidak ada yang hadir satupun di acara pernikahannya ini.


Ketika Alana sudah benar berada di depan Delano, air matanya menetes begitu saja. Dia segera menghapus kasar air mata yang ada di pipinya itu, menatap Delano dengan senyuman. Alana takut jika Delano mengira kalau dirinya tidak bahagia menikah dengannya sampai dia menangis seperti itu.


Delano meraih tangan Alana, mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Kenapa menangis hmm? Apa kamu tidak senang dengan pernikahan kita ini?"


Alana menggeleng pelan, dia menatap Delano dengan penuh cinta. "Aku senang, sangat senang dengan perniakahan ini. Terima kasih ya Delan, karena kamu sudah memberikan aku kebahagiaan ini"


"Karena aku juga sangat bahagia menikah denganmu. Aku mencintaimu, Alana"


"Aku juga mencintaimu, Delano"


Kata cinta yang kembali terucap, entah sudah berapa kali kata cinta itu terucap. Namun keduanya seolah tidak pernah lelah dan bosan untuk mengatakan cinta pada pasangannya. Karena memang hanya itu yang bisa keduanya tunjukan sebagai tanda cinta tulus mereka.


Aku tidak pernah menyangka jika hari ini akan terjadi juga. Pesta pernikahan aku dan Delan.


Bersambung