My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Dimana Keluargaku?!



Semua persiapan pernikahan sudah selesai, tinggal menunggu waktu untukhari acara di mulai. Besok pagi acara sakral itu akan segera di gelar, membuat Alana semakin bimbang dengan segala kesedihan dalam dirinya. Dia bukan sedih karena tidak mau menikah dengan Delao. Justru Alana sangat senang ketika dia akan menikah dengan pria yang sangat dia cintai. Tapi masalahnya, Alana menikah tanpa kehadiran orang tuanya. Padahal mereka masih hidup, tapi Alana tidak tahu dimana keberadaannya.


"Sayang"


Alana mengerjap kaget saat mendengar suara suaminya itu. Lupa jika suaminya memang berada di dalam kamar, karena terlalu memikirkan tentang orang tuanya membuat Alana masuk ke dalam kamar dengan melamun.


"Eh, iya Sayang kenapa?"


Delano menarik lembut tangan Alana hingga gadis itu jatuh di atas pangkuannya. Delano menatap wajah Alana yang terlihat sangat cantik tanpa polesan make up sama sekali.


"Ada apa? Aku lihat dari kemarin kamu sering tidak fokus dan banyak melamun"


Alana menghela nafas pelan, dia menatap Delano dengan matanya yang berkaca-kaca. "Sayang, apa kamu tahu dimana keluargaku?"


Deg..


Dengan sengaja Delano tidak pernah membahas soal itu, karena dia tahu jika Alana akan sangat kecewa jika dirinya membahas tentang orang tuanya yang hilang tanpa jejak itu dari kota ini. Entah dimana mereka berada sekarang, Delano juga tidak tahu karena tidak terlalu memikirkan tentang keluarga Alana yang menghilang pada saat itu. Yang dia pikirkan hanya tentang Alana yang belum dia temukan keberadaannya.


Delano mengusap pipi Alana yang di basahi oleh air mata. Delano tidak suka melihat wanitanya ini menangis. "Kamu sudah punya aku, apa itu tidak cukup. Kamu cukup bersama denganku dan kita akan hidup bahagia bersama"


Alana menundukan kepalanya dengan isak tangis yang semakin keras. Tentu dia tahu arti dari ucapan Delano barusan, karena memang Delano juga tidak tahu keberadaan keluarga Alana. Delano hanya mencoba untuk menutupi agar Alana tidak begitu kecewa dengan keluarganya itu.


"Hiks.. Setelah mereka menumbalkan aku sebagai pembayaran hutang, sekarang mereka pergi begitu saja tanpa menghiraukan bagaimana nasib dan keadaan aku saat itu"


Alana bagaikan putri yang terbuang, tidak di perdulikan lagi oleh keluarganya sampai dia tidak lagi mempunyai tempat yang indah di keluarganya itu. Hanya sebuah luka dan kecewa yang telah dia terima dari keluarga yang telah menjadikan Alana tumbal sebagai penebus hutang.


"Sayang.." Delano meraih kepala Alana dan menyandarkannya di bahu. Tentu Delano merasa sesak sendiri ketika dia mendengar ucapan Alana yang jelas penuh dengan kerapuhan itu. "...Semuanya akan baik-baik saja selama kamu bersama denganku. Biarkan saja yang sudah berlalu, kita hanya perlu menjalani hidup kita saat ini. Tidak perlu terus menengok ke belakang"


"Tapi kenapa keluargaku begitu tega padaku? Apa salah aku pada mereka? HIks.. Padahal aku juga tidak pernah membantah setiap perintah yang mereka ucapkan. Aku selalu banyak mengalah dalam segala hal"


Satu tangan Delano yang berada di samping tubuhnya mengepal kuat, dia tentu tidak suka mendengar tangisan menyedihkan dari wanitanya ini.  Tapi apa yang bisa dia lakukan saat Alana menangis juga karena orang-orang terdekatnya.


"Jangan mengingat-ngingat tentang hal itu lagi. Karena memang hanya akan membuat kamu sakit dan terluka. Sekarang pikirkan tentang masa depan kamu dan kita"


Delano mengelus perut besar Alana, karena dia ingin menyadarkan Alana tanpa kata. Jika memang masih ada orang yang harus dia perjuangkan daripada terus memikirkan tentang keluarganya yang jelas tidak pernah peduli padanya lagi.


Alana terdiam, dia memegang tangan Delano yang sedang mengelus perutnya itu. Jelas dia ingat jika masih ada calon bayinya yang harus dia perjuangkan kebahagiaannya.


"Sekarang kamu sadar 'kan, kalau kamu sedih pastinya calon anak kita juga akan bersedih"


Alana mengangguk, dia mengusap sisa air matanya dan menatap Delano dengan tersenyum. "Maaf ya karena aku malah menangis di saat pernikahan kita ini akan segera di laksanakan"


"Sekarang pikirkan saja tentang kita"


Alana mengangguk, dia memeluk leher Delano dengan erat.  Menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Delano memang masih menjadi seseorang yang selalu membuat Alana tenang. Dalam kondisi apapun, Alana selalu bisa tenang karena Delano yang selalu bisa menenangkan dirinya.


"Sayang, aku ingin makan rujak deh"


Setelah acara sedih, kini Delano di buat geleng-geleng kepala dengan keinginan Alana yang tiba-tiba itu. Tentang wanita hamil yang selalu menginginkan hal-hal yang terkadang tidak masuk akal. Tapi keinginan Alana kali ini memang tidak termasuk dengan hal yang aneh. Tapi ketika melihat waktu saat ini, hal itu menjadi sangat aneh.


"Sayang tidak ada yang berjualan rujak di malam seperti ini"


Alana langsung cemberut mendengar itu, padahal dia sudah sangat menginginkan makanan itu. Sudah terbayang segarnya makan rujak di malam hari.


"Yaudah, kalau gitu kita buat saja rujaknya. Kalau beli, aku tidak yakin akan menemukannya"


Alana mengangguk dan menyetujuinya, karena memang dia sangat ingin makan rujak malam ini. "Yaudah, ayo kita ke dapur"


Akhirnya malam ini Delano menemani calon istrinya untuk makan rujak. Dia menatap ngilu ketika Alana begitu lahap memakan mangga muda yang Delano sendiri tidak tahu jika ada buah itu di dalam lemari es.


"Kamu kapan membeli mangga muda? Perasaan aku tidak pernah membelinya, tapi kok sudah berada di dalam kulkas?"


Alana tersenyum dengan deretan giginya yang jelas terlihat. "Aku beli kemarin, pas kamu pergi buat cek gedung"


Mata Delano menyipit mendengar itu, dia menatap Alana dengan sedikit kesal. "Berani sekali keluar rumah tanpa memberi tahu aku? Kalau sampai kamu kenapa-napa, gimana"


Alana tersenyum menenangkan pada calon suaminya yang terlihat khawatir berlebihan ketika Alana mengatakan jika dirinya pergi saat Delano sedang tidak ada di rumah. Alana tahu kekhawatiran Delano itu karena dia pernah Alana tinggalkan selama beberapa bulan ini.


Alana memegang tangan Delano yang berada di atas meja. "Sayang, aku hanya berjalan-jalan ke depan komplek saja. Jadi kamu tidak perlu panik begitu. Lagian aku juga tidak papa 'kan? Ibu hamil itu harus selalu di kekang untuk tidak keluar dari rumah. Ibu hamil juga butuh keluar untuk mencari suasana baru agar tidak bosan"


Delano menghela nafas pelan, dia mengecup punggung Alana dengan lembut. "Jangan melakukan hal itu lagi, kalau memang kamu ingin sesuatu atau ingin pergi kemana pun. Harus bilang dulu padaku"


"Tapi janji ya, kalau aku izin sama kamu maka kamu harus izinkan aku untuk pergi"


"Tergantung, kamu mau perginya kemana dan sama siapa"


Alana langsung mencebikan bibirnya ketika mendengar jawaban Delano yang memang sudah dia duga. Delano hanya tertawa melihat wajah cemberut calon istrinya itu.


Bersambung