
Ya, sepertinya memang Delano harus memberikan sebuah ancaman pada keluarga istrinya itu agar mereka semua jera dengan semua ini. Alana tidak boleh menemui mereka lagi dan mereka pun tidak boleh menemui Alana.
"Sayang, jangan membuat aku bersedih kamu yang seperti ini. Kenapa tidak mau makan?"
Delano yang sekarang cukup kebingungan dengan sikap Alana, semenjak keluar dari rumah sakit, istrinya itu jadi tidak berselera makan. Apa mungkin Alana masih memikirkan tentang keluarganya.
Alana memeluk Delano, menyandarkan kepalanya di dada bidang Delano. "Sayang, aku ingin tahu siapa Ayah kandungku, kalau memang dia sudah meninggal dimana makamnya, aku ingin tahu"
Delano menghela nafas, dia tahu tidak akan mudah bagi Alana untuk menerima kenyataan ini. Dia yang sudah hidup puluhan tahun bersama Ayah yang dia anggap adalah Ayah kandungnya, tapi ternyata kenyataan mengubah semuanya.
"Pantas saja ya, Ayah selalu terlihat lebih mendahulukan Vina dalam hal apapun. Bahkan dia tidak pernah membelikan aku hadiah di saat aku ulang tahun. Selalu beralasan jika aku sudah besar dan tidak membutuhkan hadiah lagi. Padahal sejak kecil memang Ayah tidak pernah memberiku hadiah"
Delano menghembuskan nafas kasar, dia paling tidak suka mendengar tangisan Istinya. "Sudah, kamu jangan terus mengingat tentang semua itu. Biarkan aku mencari tahu semuanya. Aku akan mencari tahu dimana keberadaan Ayah kamu dan jika memang beanr dia sudah meninggal, aku juga akan menemukan makamnya"
Alana mendongak, dia menatap suaminya yang selalu bisa mengerti dia dan selalu bisa membantu Alana dalam hal apapun. Mungkin jika dulu Alana juga bilang pada Delano tentang dirinya yang akan menikah dengan Dario karena Ayahnya yang terelilit hutang. Mungkin Delano akan bisa menolongnya dan tidak akan membiarkan Alana menikah dengan Dario dan mengalami kisah yang rumit dan menyakitkan seperti ini.
"Terima kasih Sayang"
Rasanya Alana tidak bisa mengatakan apapun lagi selain kata terima kasih pada suaminya yang selalu ada untuknya dan setia menunggunya selama ini.
Cup..
Delano mengecup bibir istrinya dengan lembut. Memberikan luma*tan lembut di bibir istrinya itu. Tangan Delano menahan tengkuk leher Alana.
"Balasan karena kamu sudah tidak mau makan. Sekarang gimana? Mau makan atau aku makan?"
Alana memalingkan wajahnya yang memerah karena ucapan Delano barusan. Dia masih mencoba mengatur nafasnya yang hampir habis karena ciuman suaminya yang tidak memberikan jeda sedikit pun pada Alana.
"Yaudah, aku mau makan sekarang"
Delano tersenyum mendengarnya, dia mengambil makanan di atas meja. Mulai menyuapi Alana dengan perlahan. "Aku paling tidak suka melihat kamu yang sedih"
"Aku hanya ingin mengetahui semuanya, karena aku tidak mau terus di hantui rasa penasaran. Aku ingin tahu siapa Ayah kandungku"
"Aku yang akan mencari tahu, kamu hanya perlu diam dan pikirkan tentang kesehatan kamu. Soal itu, biar aku yang mengurus semuanya"
#####
Lerita terdiam saat dia mendapatkan surat pemindahan kerja ke kantor cabang. "Kenapa saya di pindahkan?"
"Karena disana lebih membutuhkkan kamu. Kinerja kamu cukup baik selama bekerja di kantor kami ini. Jadi kamu lebih di butuhkan di Kantor cabang"
Lerita merasa jika penjelasan dari atasannya ini tidak masuk akal. Dia merasa jika pemindahannya ini memang di sengaja. "Saya ingin bertemu dengan Tuan Delano secara langsung, karena saya ingin mendengar langsung alasan saya di pindahkan ke Kantor cabang"
Lerita meremas surat pemindahan kerja di tangannya itu. Dia keluar dari ruangan atasannya, lalu dia menelepon Delano. Lerita tidak bisa menerima begitu saja keputusan ini.
"Hallo, Delan apa maksud kamu memindahkan aku ke Kantor cabang? Kalau ini tentang masalah kita, kamu seharusnya profesional dong. Jangan mencampurkan urusan pribadi dan kerjaan"
Delano yang tidak melihat dulu siapa yang menelepon karena dirinya yang sedang memeriksa berkas. Akhirnya merasa menyesal karena langsung mengangkat begitu saja sambungan telepion itu. Kalau dia tahu itu adalah telepon dari Lerita, mungkin dia tidak akan mengangkatnya.
"Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting"
Delano langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari si penelepon. Delano benar-benar malas meladeni Lerita. Sejak wanita itu sudah mulai melakukan hal yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Alana.
Argghhh..
Lerita menjerit dengan kesal, dia benar-benar tidak bisa membiarkan Delano terus bersikap seperti ini padanya. Lerita tidak terima jika dirinya harus di pindahkan ke Kantor cabang yang jaraknya cukup jauh dari Kota ini. Jelas Lerita tidak mau dan tidak terima dengan keputusan sepihak ini.
######
Di dalam rumah, Alana yang sedang duduk di atas sofa sambil menonton drama yang baru saja tayang hari ini. Alana sedang menunggu suaminya pulang sore ini, karena Delano janji akan menemaninya belanja sore ini setelah dia pulang bekerja.
Namun Alana malah mendapatkan tamu yang tidak dia harapkan. Dia adalah Lerita yang sengaja datang untuk protes tentang keputusan sepihak Delano.
"Maaf Lerita, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Kalau kamu ingin protes, silahkan protes saja pada suamiku. Karena urusan pekerjaan tidak ada kaitannya dengan aku, sebagai istrinya"
Tangan Lerita mengepal erat mendengar jawaban Alana yang malah semakin membuatnya kesal. Alana yang seolah dengan sengaja menekan kata suamiku dan istrinya di depan Lerita. Seolah dia sednag menunjukan kepemilikannya atas Delano pada Lerita, wanita yang selalu mengejar suaminya itu.
"Aku sudah bicara dengan Delano, tapi dia benar-benar tidak menanggapi aku. Kamu jangan mempengaruhinya hanya karena kamu takut aku merebut Delano dari tangan kamu"
Alana tersenyum tipis mendengar itu, meski sebenarnya dia memang takut jika Delano akan terpincut oleh wanita lain di luar sana, termasuk Lerita. Tapi Alana juga bukan wanita egois yang harus melakukan semua ini hanya karena dia takut suaminya di rebut oleh wanita lain.
"Lerita, aku memang takut jika suamikua kan tergoda oleh wanita lain. Tapi aku tidak akan melakukan hal seperti itu, karena aku bukan wanita yang egois. Lagian urusan pekerjaan benar-benar tidak ada urusannya dengan aku"
"Ada apa ini?!"
Delano yang baru saja pulang bekerja langsung menghampiri mereka, saat dia melihat ada Lerita yang seperti sedang berdebat dengan istrinya. Delano takut istrinya akan kenapa-napa.
Lerita langsung menoleh dan menatap Delano dengan kesal. "Delan, apa maksud kamu memindahkan aku ke Kantor cabang? Kamu tidak perlu mencampurkan urusan pekerjaan dan pribadi"
Lerita langsung menyerang Delano dengan pertanyaan itu. Sangat kesal dengan keputusan Delano yang sepihak itu. Padahal Lerita hanya bisa bertemu dengan Delano saat dia bekerja saja.
Bersambung