
Delano menghela nafas pelan, dia tahu jika Lerita tidak menerima begitu saja keputusan ini. "Aku tahu kalau potensi kamu dalam bekerja itu sangat baik. Karena di sini semua posisi sudah terisi, jadi aku memilih kamu untuk pindah ke Kantor cabang dan kamu akan mempunyai jabatan yang bagus disana, bagaimana? Ingin tetap disini, tapi hanya menjadi karyawan biasa atau pindah ke Kantor cabang dengan jabatan yang lebih tingi?"
Delano sudah menduga jika Lerita pasti akan tergiur dengan tawarannya itu. Tentu saja karena Delano tahu jika keinginan Lerita untuk memilikinya hanya karena sebuah obsesi saja, bukan karena cinta yang tulus.
Dan benar saja, Lerita langsung menyetujui tentang tawaran Delano barusan. Sudah dapat terlihat jelas jika Lerita hanya terobsesi saja padanya. Bukan cinta yang tulus, karena jika cintanya tulus dia tidak akan tergiur dengan tawaran apapun jika tawaran itu akan membuatnya jauh dari Delano.
"Sayang, kamu sengaja memindahkan Lerita ke kantor cabang?" tanya Alana saat mereka sudah kembali masuk ke dalam rumah, setelah Lerita pergi dari rumah mereka ini.
"Tentu saja, aku tidak ingin dia terus mengganggu kamu dengan segala cara licik dia hanya untuk memisahkan kita berdua. Lagian aku juga yakin kalau dia pasti akan menyerah dengan tawaran yang aku berikan padanya"
Alana merangkul lengan suaminya, menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. Mereka berjalan menuju kamar. "Karena hanya aku yang tulus mencintaimu Delan, aku tidak akan pernah mau meskipun kamu memberikan aku tawaran yang sangat mewah. Karena yang aku inginkan hanya menikah dengan kamu dan hidup bersama dengan kamu"
Delano mengecup puncak kepala istrinya, dia membuka pintu kamar dan mereka masuk ke dalam kamar. "Tidak usah jadi belanja sekarang saja ya, biar Mbak saja yang belanja. Kamu diam saja di rumah"
Alana langsung cemberut mendengar itu, dia duduk di pinggir tempat tidur dengan bibir yang mencebik kesal. "Aku 'kan tidak di izinkan untuk keluar rumah, jadi aku hanya ingin belanja saja biar aku bisa menghilangkan kebosanan aku ini. Masa kamu tidak mau mengantar aku si"
Delano menghela nefas pelan, jika sudah seperti ini dia pasti tidak akan bisa menolak. "Yaudah, tunggu sebentar aku mau mandi dulu"
Wajah Alana langsung berbinar senang mendengar itu. Tentu saja, karena dia merasa bosan untuk terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Jadi acara belanja bulanan ini hanya Alana jadikan alasan agar dirinya bisa keluar rumah sejenak.
Delano yang medorong kereta belanja dengan Alana yang berada di sampingnya. Memilih barang dan makanan yang dia butuhkan. Hal ini yang Alana inginkan saat nantinya dia sudah menikah, hal yang sering dia tonton di drama. Hal yang membuat para wanita baper dengan adegan itu. Dan saat ini Alana bisa merasakan langsung adegan seperti ini.
"Sayang, kamu bisa pelan-pelan saja jalannya. Kita tidak akan kehabisan barang disini, Kalau pun kehabisan masih banyak di tempat lain"
Alana tersenyum tipis, dia memperlambat cara berjalannya. Takut jika suaminya itu akan langsung mengajaknya pulang jika dia tidak menurut apa perkataannya.
"Sayang, aku ingin makan di luar ya"
Delano mengangguk, saat ini dia sedang menjadi suami yang akan menuruti semua keinginan istrinya yang sedang hamil. Delano ingin memberikan waktu yang cukup untuk Alana, agar istrinya itu tidak merasa di abaikan olehnya karena terus sibuk dengan pekerjaan.
"Aku mau makan rujak yang pedas sekali"
"No!"
Seketika Delano langsung menyesal karena dia telah dengan gampang mengiyakan keinginan istrinya itu. Jika dia tahu kalau keinginan istrinya itu memang tidak jauh dari makanan yang pedas dan menurut Delano terlalu tidak sehat untuk seorang Ibu hamil.
"Ihh Sayang, kok gitu si. Katanya mau menuruti keinginan aku"
Delano menggeleng pelan sambil menatap istrinya dengan tatapan yang tajam. "Aku akan mengajak kamu makan, tapi tidak dengan makanan pedas. Ingat Sayang, kamu itu sedang hamil, jadi harus pilih makanan yang sehat"
Alana cemberut mendengar itu, tapi suaminya itu tidak akan memperdulikan dirinya yang merajuk jika menyangkut kesehatannya"
"Makan makanannya dengan benar, jangan membuat aku marah Sayag"
Alana menghela nafas pelan, memang suaminya ini akan berubah menjadi sosok yang tegas jika menyangkut tentang dirinya. "Iya Sayang, tapi kamu belikan aku rujak ya setelah ini"
Delano tetap menggeleng, padahal Alana sudah menunjukan wajahnya yang begitu imut. Namun tetap tidak menjadi efek apa-apa untuk suaminya itu.
"Mulai sekarang harus makan yang sehat, aku tahu kalau kamu membeli rujak selalu pedas dan itu tidak baik untuk kesehatan kamu"
"Ck. Kamu lebay deh Sayang. Padahal saat aku belum bertemu dengan kamu lagi, aku sering makan makanan yang pedas loh"
"Nah itu dia, sudah pasti tidak akan ada yang melarang kamu dan memperhatikan kesehatan kamu selain aku. Makanya sekarang biarkan aku memperhatikan kamu. Jangan sering membantah"
Akhirnya Alana tidak bisa membantah apapun lagi. Dia tahu jika Delano memang tidak suka untuk di bantah dalam hal seperti ini. Suaminya yang sedang dalam mode posesifnya saat ini.
######
Delano baru saja menerima sebuah kabar dari seseorang yang dia suruh untuk mencari keberadaan Ayah kandung dari Alana yang kata Ibunya sudah meninggal itu. Sekarang Delano baru saja mengetahui hal baru.
Sial, ternyata istriku ini masih saja terus di bohongi oleh mereka.
Delano kembali pulang ke rumah, ketika dia melihat senyuman istrinya. Entah kenapa hati Delano malah merasa sakit karena dia merasa jika istrinya pasti akan sangat terluka saat tahu kenyataan yang ada. Kebenaran yang baru saja dia ketahui kemarin, sudah cukup membuat shock berat hingga pingsan.
Apa kenyataan kali ini akan membuatnya seperti itu lagi. Hal itu yang membuat Delano masih berpikir ulang, apa memang harus da mengatakan yang sebenarnya pada Alana atau tidak. Melihat keadaan istrinya yang sedan hamil membuat Delano takut akan membuat istri dan calon anaknya kenapa-napa nantinya.
Lebih baik tidak aku katakan sekarang, Alana baru saja pulih. Lagian dia juga tidak menanyakan tentang hal itu.
"Sayangku lagi apa?" Delano mencium pipi dan bibir istrinya dengan lembut.
"Nungguin kamu, mau mandi dulu atau langsung makan? Aku sudah masak banyak buat kamu"
"Aku mandi dulu saja"
"Yaudah kalau gitu biar aku siapkan airnya"
Alana langsung berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan peralatan mandi untuk suaminya. Sementara Delano hanya diam di atas sofa dengan pikiran yang kacau.
Bersambung