
Plak..
"Kenapa kau tidak bisa menjaganya, kenapa harus hamil? Membuat ribet saja"
Tamparan yang di layangkan kekasihnya pada Vina, bukan yang pertama baginya. Namun sudah beberapa kali dia berlaku tamperamen seperti ini. Namun Vina sudah terlanjur terikat dengan dia, membuat Vina tidak bisa lepas darinya dan tidak bisa melakukan apapun.
"Seharusnya kamu yang memakai pengaman saat melakukannya. Bukannya malah menyalahkan aku ketika sekarang aku hamil"
Kekasihnya mencengkram dagu Vina dengan kasar. Sangat tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Vina barusan. "Berani sekali kau menyalahkan aku, sudah jelas kau itu hanya seorang wanita murahan yang tidak tahu diri. Bagaimana kau yang dengan rela memberikan tubuhmu padaku"
Tes..
Air mata Vina menetes begitu saja, dia tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini bersama dengan pria yang sudah sangat dia harapkan. Bahkan Vina sudah meninggalkan semuanya hanya demi hidup bersama dengan kekasihnya ini.
"Lepas..." Vina menghempaskan tangan kekasihnya yang mencengkram dagunya dengan begitu kasar. "...Aku tidak mau bersama denganmu lagi. Aku akan pergi dari sini dan membawa anak ini, jangan pernah berharap kamu akan bisa bertemu dengan anak ini"
Plak..
Sekali lagi, tamparan itu mendarat di pipinya hingga wajah Vina berpaling. "Berani sekali kau mengatakan hal itu padaku. Ingat ya, aku tidak akan pernah membuat kamu lepas dari cengkraman ku"
Vina terdiam mendengarnya, dia menatap kekasihnya yang pergi keluar dari Apartemen. Menutup pintu dengan sangat kasar, membuat Vina sedikit terlonjak karena kaget. Vina jatuh terduduk di atas sofa, dia benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini. Tangannya perlahan mengelus perutnya yang masih rata. Tentu saja tidak mungkin, Vina akan membenci anak yang berada dalam kandungannya.
Namun Vina juga bingung harus melakukan apa saat ini. Karena tidak mungkin juga dirinya menjalani kehamilannya dengan keadaan yang seperti ini. Bahkan pria yang membuatnya hamil saja tidak mau bertanggung jawab.
"Entah apa yang harus aku lakukan saat ini, bagaimana jika aku tidak bisa menjaga anak ini"
Vina hanya bisa menangis dengan keadaannya saat ini. Tidak pernah menyangka jika saat ini dia akan mengalami hal ini. Mungkin semua yang terjadi padanya memang sudah menjadi sebuah karma dari dirinya yang tidak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Ada sebuah penyesalan yang terjadi pada dirinya saat ini. Ketika Vina yang menjalani kehidupan yang seperti ini. Ada beberapa kata seandainya.. Namun Vina sadar, jika percuma untuk berandai-andai saat ini.
Semuanya sudah terjadi dan tidak akan pernah bisa terulang kembali.
######
Pagi ini Alana pergi bersama supir menuju tempat pemakaman umum. Dia merasa rindu pada Ibunya, membuat dia langsung ingin pergi berkunjung ke makamnya. Alana sudah izin pada suaminya untuk pergi ke tempat Ibunya di makamkan.
Bersimpuh di dekat makam Ibunya, dia mengelus batu nisan bertuliskan nama Ibunya itu. Dadanya masih terasa sesak ketika Alana mengingat kebersamaaannya bersama dengan Ibu.
"Maafkan Alana Bu, karena Alana tidak bisa menjaga Vina. Maaf, karena Alana telah membuat Vina marah pada Alana"
Alana terdiam dengan air mata yang mulai menetes begitu saja. Dia merindukan Ibu dan segala kenangan bersamanya. Meski Ibu tidak pernah memperlakukannya sama dengan Vina. Selalu ada perbedaan diantara sikap Ibu pada Alana dan Vina. Namun, mau bagaimana pun dengan keadaan yang pernah terjadi. Alana tetap menyayangi Ibunya.
"Semoga Ibu bahagia disana"
Alana kembali pulang ke rumahnya setelah dia berkunjung ke makam mendiang Ibunya. Rasa rindunya sudah mulai terobati. Namun di perjalanan dia ingat sesuatu, Alana melewati Apartemen yang di tempat oleh Vina, ketika dia dengan sengaja mengikuti Vina dan kekasihnya pada saat itu. Alana sengaja berhenti disana hanya untuk melihat keadaan Vina. Berharap Vina mau bertemu dengannya dan tidak lagi marah padanya.
Alana menekan bel pintu Apartemen itu, menunggu sebentar sampai pintu terbuka. Alana tersenyum ketika melihat adiknya yang keluar dari dalam Apartemen.
"Vina, apa kabar? Kakak gak sengaja lewat dan mau menemui kamu sebentar"
"Mau apa Kakak kesini?"
Alana hanya tersenyum mendengar ucapan ketus Vina padanya. Sesungguhnya memang sudah Alana duga jika dia akan seperti ini ketika Alana menemuinya. Vina tidak akan pernah mau menerima Alana lagi, Vina sudah terlanjur sakit hati olehnya.
"Kakak hanya ingin melihat keadaan kamu saja"
"Aku tidak perlu kunjungan dari Kakak, sebaiknya Kakak pergi saja"
Vina langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras. Dia bersandar di pintu yang tertutup, dia menangis dengan helaan nafas yang panjang. Bukan karena dia tidak ingin mendengarkan ucapan Kakaknya, hanya saja karena Vina yang merasa malu dengan semua perlakuannya pada Alana.
Dia yang pernah menolak dengan sangat keras pada Kakaknya itu. Ketika Alana menginginkan Vina untuk tinggal bersamanya, namun dengan keras Vina menolak. Hingga sekarang Vina benar-benar merasakan penyesalan.
"Maafkan aku Kak, tapi aku tidak akan mau menyusahkan Kakak dengan masalah aku saat ini. Semuanya memang karena kesalahanku"
Alana memilih kembali ke rumah, dia tidak bisa memaksa adiknya untuk bisa menerima kehadirannya. Karena memang sejak dulu, dia juga tidak pernah dekat dengan adiknya itu. Namun sekarang Alana hanya ingin saling melindungi karena orang tua mereka yang sudah tidak berada di antara mereka.
Ketika Alana sampai di rumah, ternyata Abraham sudah berada di depan rumah. Seolah sengaja menunggu kedatangan Alana.
"Loh Pa, kapan datang?"
"Baru saja Nak, kangen sama kamu dan Aini. Kamu habis darimana?"
Alana mengajak masuk Ayahnya ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. "Aku habis dari makan Ibu, dan mampir ke Apartemen Vina. Tapi Vina masih marah sama aku, jadi dia tidak menerima kehadiran aku"
Abraham mengelus kepala anaknya dengan lembut. Dia tahu bagaimana hati Alana yang begitu baik dan tidak pernah mempunyai rasa dendam pada orang lain yang telah membuatnya terluka. Apalagi ini adalah keluarganya sendiri.
"Biarkan saja, nanti juga adik kamu itu bakal menyesal dengan apa yang telah dia lakukan padamu"
Alana mengangguk pelan, dia memeluk Ayahnya. Menyandarkan kepalanya di bahu Abraham. Alana benar-benar merasa mempunyai sandaran baru, selain pada Delano. Kehadiran Ayah kandungnya ini memang benar-benar membuat dirinya sangat bahagia. Alana yang sekarang sudah punya sandaran baru, membuat dia yang tidak lagi merasa sendiri dan kesepian.
"Terima kasih ya Pa, aku senang karena sekarang ada Papa yang menjadi sandaran aku. Bukan hanya Delano"
Abraham mengelus kepala Alana dan mengecup puncak kepalanya. "Takdir telah mempertemukan kita kembali dan sekarang Papa bahagia karena bisa bersama dengan anak Papa lagi"
Ya, takdir memang telah mempertemukan mereka kembali dan kebahagiaan ini yang sekarang mereka rasakan.
Bersambung