
"Aku capek banget, banyak pekerjaan di Kantor. Jadi lagi gak mood untuk membahas hal lain"
Jawaban suaminya membuat Alana mengangguk saja, mungkin Delano memang sengaja berkata seperti itu karena dia tahu apa yang akan Alana tanyakan padanya.
Biarkan dia istirahat saja dulu, kasihan juga kalau aku langsung memberondongnya dengan segala pertanyaan.
Suasana cukup terasa tenang di dalam ruangan VVIP Restaurant ini. Alana juga menikmati menu makanannya. Begitupun dengan suaminya. Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati makanan dan alunan musik yang terdengar begitu merdu di telinga.
Alana benar-benar tidak berani untuk bertanya pada Delano. Dia jelas melihat wajah suaminya yang lelah, dan Alana juga tidak mau sampai membuat Delano semakin pusing dengan urusan adiknya. Lagian jika Delano memang sudah menemui Vina, sudah pasti dia akan langsung bercerita padanya.
"Sudah makannya? Kita langsung pulang saja ya, aku benar-benar capek banget"
Alana mengangguk, dia tidak tahu harus melakukan apa. Karena memang Delano yang terlihat sangat lelah dari wajahnya. Akhirnya setelah mereka selesai makan, mereka pun langsung pulang.
Namun ketika Alana keluar dari Restaurant itu, dia jelas melihat pemandangan yang tidak dia sangka akan melihatnya. Seorang pria yang baru saja turun dari motor dan menghampiri wanita yang sudah turun lebih dulu dari atas motor itu. Menampar dan mendorong wanita itu hingga jatuh ke atas aspal.
"Vina.."
Alana langsung berlari ke arah adiknya itu. Yang ternyata menjadi korban pelecehan dan kekerasan dari kekasihnya sendiri. Alana membantu Vina berdiri, dia menata pria itu dengan penuh kemarahan.
Plak..
Dengan berani Alana menampar wajah pria itu. "Jangan pernah menyakiti adikku! Kau itu seorang pria, tapi kenapa berani menyakiti seorang wanita di depan banyak orang seperti ini. Asal kamu tahu, hanya seorang pria pecundang yang berani main tangan pada wanita"
Vina menunduk diam di belakang tubuh Kakaknya. Tidak menyangka juga akan bertemu dengan Alana disini. Sebenarnya Vina juga tidak tahu kenapa dia di minta turun dan tiba-tiba saja kekasihnya itu menamparnya di depan umum seperti ini.
"Berani sekali kau!"
Tangan pria itu sudah melayang dan hampir mengenai pipi Alana, namun tangan kekar suaminya berhasil menahannya. Memelintir tangan pria itu hingga ke belakang tubuhnya sampai dia menjerit keskitan.
"Jangan pernah berani menyakiti wanitaku! Atau kau akan mati di tanganku"
Alana terdiam melihat itu, untuk pertama kalinya dia melihat Delano yang seperti ini. Wajahnya yang marah itu terlihat sangat menakutkan. Alana langsung menahan suaminya untuk tidak memukuli pria itu, karena dia juga tidak mau kalau sampai nama baik suaminya akan tercemar.
"Sayang udah, kita pergi saja darisini. Kamu hanya tinggal urus semuanya dengan polisi. Jangan mengotori tangan kamu sendiri"
Delano mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur di atas aspal. Delano menarik tangan istrinya untuk pergi darisana, Alana juga menarik tangan Vina agar ikut bersamanya. Sampai di depan mobil Delano, Alana langsung menatap adiknya yang sejak tadi hanya menunduk.
"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan ucapan Kakak? Kan sebelumnya Kakak sudah bilang kalau pria itu bukan pria yang baik buat kamu"
Vina menunduk dengan tangannya yang saling bertaut. "Maafkan aku Kak, aku juga tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Aku tahu atas semua kebodohan aku ini, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun karena memang aku yang sudah terjerat oleh dia"
Alana hanya menghembuskan nafas kasar mendengarnya. Melihat sendiri bagaimana adiknya yang disakiti oleh pria lain. Entah harus bagaimana Alana menghadapi dan menyikapi semua ini.
Arghh..
Alana terkejut saat tiba-tiba adiknya berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya. "Kamu kenapa?"
"Arghh.. Perut aku sakit Kak, sakit sekali"
"Da-darah? Vina, kamu..."
"Kak, tolong selamatkan bayiku Kak"
Deg...
Alana terdiam mendengar itu, tentu saja dia terkejut dengan ucapan Vina barusan. "Ba-bayi? Ya ampun Vina, kamu hamil"
Mendengar teriakan istrinya membuat Delano yang sudah masuk ke dalam mobil keluar kembali dan menatap Vina yang meringis kesakitan dengan darah di sekitar kakinya.
"Cepat bawa masuk Sayang, kita bawa Vina ke rumah sakit sekarang"
Alana langsung membawa Vina masuk ke dalam mobil suaminya. Dia sangat panik saat ini. Melihat adiknya yang meringis kesakitan dan juga darah yang terus mengalir di kaki Vina.
Ya Tuhan semoga anaknya Vina baik-baik saja.
Sampai di rumah sakit, Vina langsung di tangani oleh Dokter. Namun ternyata Dokter tetap tidak sanggup untuk mempertahankan bayi dalam kandungan Vina. Dia tetap harus mengeluarkan bayi itu.
"Karena usianya yang masih rentan sekali dan bayinya yang masih sangat kecil. Saya sudah melakukan apapun, namun saya tetap tidak bisa mempertahankan bayi dalam kandungan Nona Vina"
Alana memeluk Delano sambil menangis, dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan adiknya dalam kondisinya yang seperti ini sekarang. Delano mencoba menenangkan istrinya yang pastinya akan sangat terkejut dengan keadaan ini.
"Lakukan saja yang terbaik untuk Vina Dok"
Dokter mengangguk, dia memberikan surat yang perlu Delano tanda tangani untuk persetujuan melakukan tindakan pada Vina. Delano membawa Alana untuk duduk di kursi tunggu. Alana yang masih menangis dalam pelukannya. Alana hanya merasa telah gagal sebagai seorang Kakak, dia telah membiarkan adiknya terjerumus pada sebuah pergaulan bebas
"Sayang, sudah dong jangan terus menangis"
"Aku tidak menyangka jika Vina sudah sejauh itu bersama kekasihnya"
"Aku tahu, kamu pasti akan terkejut dan pastinya bingung dengan keadaan ini. Tapi asal kamu tahu, mungkin semua ini sudah di tuliskan oleh Tuhan. Vina tidak bisa mempertahankan kehamilannya, karena jika tetap bertahan pun, kekasihnya itu tidak mungkin akan mau bertanggung jawab"
Benar, mungkin semua ini memang sudah menjadi jalan ceritanya. Karena tidak mungkin juga Vina memang harus mengalami hal ini agar dia tidak harus menanggung anak dalam kendungannya sendirian. Karena mantan kekasihnya juga tidak akan pernah mau bertanggung jawab.
"Sayang, pokoknya kamu harus laporkan mantan kekasih Vina ke polisi. Dia sudah membuat adikku merasakan kehilangan anak pertamanya"
Delano mengangguk, karena tanpa di suruh pun dia akan melakukannya. Delano tidak mungkin membiarkan begitu saja mantan kekasih adik iparnya itu bebas. Sementara dia sudah menghancurkan masa depan dan kehidupan seorang gadis.
"Aku akan melakukan yang terbaik, tidak akan pernah aku membiarkan dia bebas begitu saja"
Alana mengangguk, dia tahu jika suaminya juga pasti akan sangat kesal dengan kejadian ini. "Aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengan Vina, namun dalam keadaan yang seperti ini"
"Semuanya sudah takdir, Sayang. Kita tidak akan bisa mengubah takdir"
Bersambung