
Tidak!
Alana hampir berteriak kencang ketika melihat sebuah benda kecil di tangannya. Alana tidak pernah menyangka akan sampai terjadi seperti ini. Dia tidak berpikir sejauh ini juga, namun sekarang Alana tidak bisa melakukan apapun ketika apa yang dia lihat adalah nyata.
Sudah satu bulan lebih sejak Alana melakukannya untuk pertama kalinya dengan Delano. Dan hari ini suaminya akan pulang, tapi entah bagaimana dia harus menyambutnya sementara dia sedang berada dalam keadaan yang seperti.
"Ya Tuhan kenapa harus seperti ini?" Alana mengelus perutnya dengan pelan.
Meski dia bingung dan tidak pernah mengharapkan kehadiran seorang bayi dalam perutnya dengan keadaan yang seperti ini. Namun Alana juga merasakan debaran berbeda dalam hatinya. Dia jelas merasa jika dirinya juga menyayangi calon bayi dalam perutnya ini.
Alana kembali menatap benda di tangannya yang menunjukan garis dua berwarna merah dengan tegas. Alana bingung harus melakukan apa saat ini. Apa dia harus memberi tahu Delano tentang hal ini? Tapi apa semuanya akan baik-baik saja jika dia memberi tahu Delano saat ini.
Ya Tuhan, aku beanr-benar bingung harus melakukan apa saat ini. Bagaimana dia harus memberi tahu Delano, tapi dia juga tidak yakin dengan keputusannya ini.
"Alana.."
Deg...
Alana mengangkat bantal dan menyimpan benda itu di bawah bantal. Dia berdiri dengan sedikit merapikan rambutnya. Ketika pintu kamar terbuka, maka detak jantung Alana semakin kencang. Suaminya muncul di balik pintu. Berjalan ke arah Alana dengan tersenyum. Alana juga mencoba untuk membalas senyuman suaminya itu, meski hatinya sedang tidak tenang saat ini.
Dario memeluk Alana, dia sudah sangat merindukan istrinya dan merasa jika sudah saatnya dia menjamah tubuh istrinya setelah hampir satu bulan lebih dia meninggalkan Alana karena pekerjaan di luar kota yang begitu banyak yang harus segera dia selesaikan.
"Bagaimana keadaanmu? Kau pasti merindukanku ya, maaf ya karena aku terlalu lama berada di luar kota"
Alana hanya diam dengan kaku, bahkan dia tidak membalas pelukan dari suaminya itu. Alana hanya sedang bingungdan kacau, tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Emm. Mas, apa mau aku siapkan air untuk mandi?"
Dario melepaskan pelukannya, dia menatap Alana dengan lembut. Meski istrinya itu langsung mengalihkan pandangannya. Dario jelas tahu jika perasaan Alana tidak tertuju padanya, tapi kepada anaknya. Namun bukan Dario namanya jika tidak mampu memiliki wanita yang dia inginkan. Meski wanita itu adalah pacar anaknya sendiri.
"Apa kau baik-baik saja selama berada disini?"
Alana menganguk, dia memang baik-baik saja karena Delano selalu menjaganya dan menemaninya. Namun karena itu Alana dan juga Delano tidak bisa menahan hasrat mereka yang bergelora.
"Aku baik-baik saja Mas, bagaimana denganmu di sana? Apa baik-baik saja?"
"Ya, tentu"
Alana mengangguk mengerti, dia segera berjalan ke arah ruang ganti untuk menyiapkan air untuk suaminya mandi dan pakaian ganti untuk suaminya juga. Ketika Alana masih memilihkan pakaian ganti untuk suaminya, tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang. Alana mulai merasa resah, dia tidak nyaman dengan posisi ini meski dengan suaminya. Entahlah, hanya Delano yang mampu membuatnya nyaman.
"Airnya sudah siap Mas, kamu bisa mandi sekarang. Nanti airnya keburu dingin"
"Baiklah" Dario mengecup bahu Alana sebelum dia berlalu ke kamar mandi.
Alana menghela nafas pelan ketika suaminya sudah berlalu ke kamar mandi. Mungkin ini hanya kelegaan sementara saja, karena setelah ini mungkin Alana tidak akan bisa menolak lagi saat Dario akan meminta haknya.
Ya Tuhan, aku harus melakukan apa sekarang?
"Sayang, kamu jangan sampai melakukannya dengan Daddy. Pokoknya aku tidak akan rela jika kamu melakukannya selain denganku"
Alana menghembuskan nafas pelan ketika suara Delano sudah langsung terdengar, bahkan sebelum dia mengatakan hallo.
"Maaf Delan, tapi aku tidak bisa melakukan keinginan kamu. Aku tidak mungkin terus menolak dan menahan Daddy kamu untuk tidak melakukannya. Karena hal ini sudah pasti akan terjadi"
"Tidak Alana, kamu tidak..."
Tut...
Alana langsung memutuskan sambungan telepon dengan Delano. Karena saat ini dia juga sedang bingung harus bagaimana dan melakukan apa.
Di dalam rumahnya, Delano melempar ponselnya ke atas sofa dengan kesal. Dia mengusap wajah kasar dengan apa yang sedang dia hadapi ini benar-benar sangat membingungkan.
"Tidak, aku tidak boleh membiarkan Alana melakukannya dengan Daddy. Dia hanya akan menjadi milikku seorang"
######
Alana terdiam saat Dario yang sekarang sedang berdiri di depannya dengan tatapan yang penuh arti pada Alana. Dia melangkah mundur dengan tubuh yang begetar, jujur saat ini Alana tidak siap jika harus memberikan haknya pada Dario. Karena keadaan Alana yang juga sudah tidak suci lagi.
"Kenapa Alana? Apa kau takut? Tenang saja, aku akan melakukannya dengan pelan"
Kaki Alana sudah membentur ranjang tempat tidur. Dia tidak bisa menghindar kemana pun lagi. Apalagi ketika Dario mulai mendorong tubuh Alana hingga jatuh ke atas tempat tidur dengan terlentang. Posisi Alana yang seperti ini malah semakin membuat Dario merasa bergairah dan ingin segera untuk menjamah tubuh istrinya itu.
Alana memjamkan matanya ketika dia melihat Dario yang mulai merangkak ke atas tubuhnya. Mungkin saat ini Alana sudah tidak bisa menahan Dario untuk tidak melakukannya.Karena Alana juga sudah kehabisan cara, bagaimana lagi untuk bisa mencegah Dario agar tidak melakukannya pada Alana.
"Daddy..."
****..
Dario baru saja akan membuka kancing piyama tidur yang digunakan oleh Alana ketika suara lantang Delano mengganggunya. Awalnya Dario ingin mengabaikan saja, namun Delano malah semakin keras berteriak memanggilnya.
Dalam hati Alana merasa sangat lega ketika Delano datang dan menyelamatkan dia dari terkaman Ayahnya. Karena mau bagaimana pun, Alana tidak akan pernah bisa melakukannya dengan pria yang tidak dia cintai.
"Kamu tunggu sebentar disini, aku akan melihat dulu anak pengganggu itu"
Alana hanya menganguk, dan setelah Dario pergi dari dalam kamar, dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Mengancingkan kembali kancing piyama sempat dibuka oleh Dario.
"Mudah-mudahan Delano bisa mencegah Ayahnya agar tidak kembali lagi ke kamar ini. Aku benar-benar tidak bisa jika harus melakukannya dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai"
Karena dalam hati Alana, hanya ada Delano yang dia cintai dengan begitu besar. Entah apa yang mungkin akan terjadi diantara mereka kedepannya setelah ini.
Bersambung