My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Sudah Bisa Melewati Semua Ini



Mungkin memang sudah menjadi pilihan yang terbaik menurut suaminya untuk Alana. Dia memang harus membiarkan Vina dengan pilihan hidupnya itu, tanpa harus mengganggunya lagi. Karena semakin Vina di kekang dan di ganggu kehidupannya, maka dia akan semakin murka dan tidak akan bisa terkendali. Jadi lebih baik Alana membiarkan saja dulu Vina dengan segala pilihan hidupnya itu.


Beberapa bulan berlalu sejak Ibunya meninggal. Alana sudah lebih bisa menjalani kehidupannya dengan baik dari sebelumnya. Sudah tidak ada lagi sebuah beban berat yang menimpa pundaknya. Alana sudah bisa hidup bahagia bersama anak dan suaminya.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya"


Delano mencium puncak kepala Alana, sebelum dia berangkat bekerja. Kebisaan yang sudah biasa Delano lakukan ketika dia akan berpergian.


"Hati-hati Sayang"


Delano mengangguk saja, dia berlalu dari ruang makan itu untuk segera pergi bekerja. Sementara Alana kembali ke kamarnya untuk mengecek Aini.


"Sudah di beri makan Aini nya, Mbak?" tanya Alana pada pengasuh anaknya. Memang AIni yang sudah di beri makanan pendamping asi beberapa hari yang lalu, di saat usianya sudah genap 6 bulan.


"Sudah Nona, sudah saya mandikan juga"


Alana mengangguk, dia mengambil alih Aini dari gendongan pengasuhnya itu. "Kamu sarapan dulu sana, nanti sakit"


Beginilah cara Alana memperlakukan semua pekerja di rumah ini. Tidak pernah pelit dengan makanan yang ada untuk semua pekerjanya, Alana ingin smeua orang yang bekerja di rumahnya ini, bisa merasakan juga makanan yang Alana dan Delano makan.


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu ke bawah"


"Ya"


Alana mengangguk menanggapi ucapan pengasuh anaknya itu. Setelah penagsuh itu pergi, barulah Alana membawa anaknya ke arah balkon kamar. Tempat dimana Aini akan berjemur dan menikmati matahari pagi.


"Kamu sudah mandi ya, wangi sekali si"


Alana menciumi AIni dengan gemas, awalnya dia tidak pernah menyangka jika dia bisa sampai mempunyai anak dari Delano setelah apa yang telah terjadi diantara mereka berdua untuk bisa mencapai sampai saat ini.


Pernah menjadi Ibu tiri bagi Delano, namun ternyata semuanya tidak merubah apapun. Karena Delano yang tetap ingin bersama dengan Alana apapun yang terjadi. Hingga mereka harus menjalin hubungan di belakang Dario.


Alana tahu jika hal yang dia dan Delano lakukan pada saat itu memang sangat keterlaluan, menjalin hubungan di belakang Dario disaat Alana sudah resmi menjadi istrinya Dario.


Semuanya telah berlalu, dan aku sudah bisa melewati semuanya.


#######


Siang ini Alana sengaja pergi ke perusahaan suaminya tanpa memberi tahu Delano lebih dulu. Alana membawakan makan siang untuk suaminya. Alana pergi ke Kantor dengan di antar oleh supir dan sengaja tidak membawa Aini.


Alana masuk ke dalam lobby perusahaan, helaan nafas panjang langsung terdengar dari Alana, ketika dia masuk ke dalam Kantor dan mulai terdengar suara bisik-bisik yang tidak jelas dari beberapa orang yang mungkin memang mengetahui jika Alana juga pernah menikah dengan Dario.


"Bapak sama anaknya, di nikahi dua-duanya Bos. Bener-bener hebat banget"


"Iya, tidak tahu diri banget ya. Kayak yang enggak ada malunya"


"Iya, kok Tuan Delano juga mau ya menikahi mantan Ibu tirinya. Pastinya udah gak perawan dong"


"Ya, tentunya sudah jebol"


Tawa itu terdengar begitu jelas di telinga Alana, dia segera masuk ke dalam lift untuk menghindari mereka semua yang sedang membicarakan tentang pernikahannya dengan Delano yang pastinya akan sangat sulit untuk di terima oleh masyarakat. Bagaimana tidak? Alana menikah dengan mantan anak tirinya sendiri. Tentu saja hal yang jarang sekali terjadi di negara kita ini.


Ting..


PIntu lift terbuka, dia langsung keluar dari dalam kotak besi itu dan berjalan ke arah ruangan suaminya. Mengangguk sopan pada meja sekertaris suaminya di depan ruangan Delano.


"Sayang"


Alana langsung membuka pintu ruangan dengan wajah yang ceria. Namun tubuhnya langsung mematung di ambang pintu dengan wajah yang terkejut ketika dia melihat pemandangan di depannya.


Delanu yang sedang berada di atas wanita yang berada di sofa. Posisi yang benar-benar membuat semua orang yang melihatnya pasti akan salah faham dengan posisi itu. Termasuk Alana sekarang, dia tentu tidak mungkin dia tidak salah faham ketika melihat posisi suaminya. Meski Delano langsung berdiri dan menghampirinya dengan wajah yang terkejut dan panik ketika dia melihat kehadiran Alana.


"Sayang, kamu kesini kok tidak bilang-bilang si"


Alana menatap wajah suaminya dengan datar. Dia hanya sedang menjadi wanita yang cemburu pada suaminya. Alana masuk ke dalam ruangan Delano, melewati suaminya tanpa berucap sepatah kata pun. Alana duduk di atas sofa, tepat di samping wanita yang masih berada disana.


"Sayang, kamu kesini bawa makan siang ya. Nagita, kamu bisa keluar"


Delano langsung menghampiri istrinya, dia takut sekali ketika melihat wajah Alana yang terlihat sangat datar dan tidak mempunyai lagi senyuman di wajahnya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi keluar dulu"


Wanita yang Delano panggil Nagita itu langsung keluar dari ruangan Delano. Setelah dia pergi, barulah Delano mulai menjelaskan apa yang telah terjadi pada istrinya. Delano yang tidak mau kalau Alana sampai salah faham.


"Sayang, tadi aku hanya tidak sengaja tersandung dan jatuh di atas Nagita. Tapi aku tetap nahan kok pake tangan, jadi tidak sampai kena tubuhnya. Sayang, percaya 'kan sama aku?"


Alana memalingkan wajahnya dengan mendengus kesal. "Senang banget kayaknya bisa bersama dengan wanita cantik tadi ya. Pantas saja betah banget berada di Kantor"


"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Aku tidak melakukan apapun. Tolong percaya dong sama aku"


Alana menghembuskan nafas pelan, dia tahu bagaimana suaminya yang sangat membenci Ayahnya yang tidak setia. Dan tentu tidak mungkin juga jika Delano akan melakukan hal yang sama dengan Ayahnya.


"Yaudah, jangan sampai kamu buat hal yang macam-macam dengan wanita lain disini. Apalagi banyak banget wanita yang cantik disini"


"Iya Sayang, aku gak akan pernah macam-macam sama kamu. Kan hanya kamu yang aku sayang"


Alana cemberut, dia mencebikan bibirnya mendengar ucapan suaminya itu. "Awas saja kalau sampai berani berkhianat di belakang aku. Padahal kamu tahu sendiri kalau aku hanya punya kamu dan tidak punya siapa-siapa lagi"


Delano langsung memeluk istrinya, mencium pipinya dengan lembut. Tentu saja dia tidak akan berani tidak setia pada Alana. Karena untuk mendapatkannya saja sudah melewati banyak rintangan dan tantangan yang besar.


"Kamu bawa makan siang ya 'kan, kita makan ya sekarang"


Alana menghentikan acara merajuknya, dia memilih untuk membuka kotak makanan yang dia bawa dan mereka pun makan siang bersama di ruangan Delano.


Bersambung