
Siang ini Alana baru saja selesai masak untuk makan siang. Dia rencananya akan mengantarkan makan siang suaminya ke Kantor. Alana sangat senang sekali karena masalah dirinya bersama dengan adiknya telah terselesaikan. Tentu saja dia sangat berterima kasih pada Delano, karena memang dia yang paling berperan penting dalam semua ini.
Terima kasih Tuhan, karena telah mengirimkan Delano dalam hidup aku yang kacau, hingga sekarang aku sudah menemukan kebahagiaan aku karena Delano.
Rasanya terlalu banyak hal yang Delano lakukan untuk kebahagiaan dirinya. Tentu Alana tidak akan pernah lupa tentang bagaimana kisah mereka di mulai hingga sempat berakhir karena masalah yang tidak di duga. Namun pada akhirnya, Alana dan Delano tetap bisa melewati semua ini.
"Mbak, aku titip Aini dulu sebentar ya. Aku mau mengantarkan makan siang dulu ke Kantor suamiku. Aku juga sudah menyiapkan stok asi untuk Aini di lemari es"
"Baik Nona, tenang saja karena Aini selalu baik dan nyaman saja asalkan stok asi aman. Nona bisa tenang berduaan bersama dengan Tuan"
Alana tersenyum mendengar godaan dari pengasuh anaknya itu. "Kamu ini suka bisa aja deh. Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya"
"Iya Nona, hati-hati di jalan ya"
Alana pergi ke Kantor suaminya dengan menggunakan taksi online. Karena nantinya dia akan pulang bersama dengan suaminya sore hari.
Sampai di perusahaan suaminya, Alana langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam perusahaan. Kedatangan Alana tidak terlalu asing bagi mereka semua, karena memang Alana sudah sering datang ke Kantor suaminya ini. Jadi sudah banyak yang tahu tentang dirinya.
"Nona Alana, apa ingin bertemu dengan Tuan ya?" Sekretaris Delano langsung menyambut Alana dan mengangguk hormat padanya.
"Iya, apa Tuannya ada di ruangan?"
"Tuan Delano ada di dalam, silahkan masuk saja"
"Baik, terima kasih ya"
Alana berjalan menuju pintu ruangan suaminya. Dia langsung membukakan pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Dan Alana mendengus kesal ketika dia melihat Nagita yang berada di dalam ruangan suaminya. Memang tidak ada adegan yang seperti saat itu. Tapi Alana tetap saja merasa kesal dan tidak suka pada Nagita yang seolah sengaja sedang mendekati suaminya. Padahal dia tahu kalau Delano itu sudah menikah.
"Sayang, kamu datang kok tidak bilang dulu"
Alana berjalan santai ke arah Delano dan Nagita yang sedang duduk di sofa. Delano langsung berdiri dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Aku sengaja saja datang kesini tanpa memberi tahu kamu dulu. Ingin memberi kejutan saja sama suamiku!"
Alana melirik ke arah Nagita yang masih duduk disana. Dengan sengaja dia menekan nama suamiku itu agar Nagita sadar jika dia memang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mendekati Delano.
"Yaudah, kalau gitu kita langsung makan disini ya..." Delano menoleh pada Nagita yang masih berada di ruangannya ini. "...Nagita, kamu bisa keluar sekarang"
"Oh i-iya, saya permisi dulu Tuan"
"Hmm. Nanti kamu tinggal berikan saja hasil akhir filenya padaku"
"Baik Tuan"
Setelah Nagita pergi keluar dari ruangannya, Delano langsung menyuruh Alana untuk duduk dan tenang. Apalagi saat dia melihat wajah istrinya yang berubah menjadi kesal.
"Sayang duduk dulu ya"
"Dia itu siapa si? Kenapa selalu berada disini? Kamu pasti tiap hari bersama dengannya ya, lihat kecantikannya dan apa tadi, kenapa dia harus memakai pakaian kurang bahan begitu. Sengaja ya ingin menggoda kamu"
"Sayang, dia itu memang karyawan yang mengurus proyek baru dari perusahaan ini. Jadinya aku sering ada meeting dengan dia hanya untuk membahas tentang proyek itu. Maaf ya, tapi kamu tenang saja karena aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Karena memang aku tidak akan bisa berpaling dari kamu"
Alana menatap Delano dengan wajah yang cemberut. Malah semakin membuat Delano gemas saja, dia merasa cukup senang karena ternyata Alana bisa juga menunjukan perasaan cemburunya pada Delano. Karena selama ini selalu saja Delano yang menunjukan perasaan cemburunya.
"Ayo kita makan sekarang, bukannya kamu bawa makanan ya. Pastinya enak banget nih masakan istri aku"
Delano mengambil paper bag yang di bawa oleh Alana dan mengeluarkan kotak makanan di dalamnya. Delano langsung membuka kotak makanan itu. Namun Alana masih diam saja, seolah dia tidak tertarik untuk makan bersama dengan suaminya.
"Sayang, ayo dong udahan kesalnya. Kita makan sekarang ya"
Delano memeluk istrinya dan menyandarkan kepalanya di dada Alana. Menghirup aroma tubuh Alana yang selalu menjadi cinta untuk Delano.
Akhirnya Alana menyerah juga dengan rasa kesalnya. Dia mengelus kepala suaminya dengan lembut. "Yaudah sekarang ayo makan dulu. Aku hanya takut saja kalau kamu akan tergoda dengan wanita-wanita cantik yang berada di luaran sana. Yang pastinya lebih segalanya dari aku"
Delano mendongak, dia mengecup bibir istrinya sekilas. "Tidak asa yang lebih segalanya dari kamu, karena memang hanya kamu yang terbaik untuk aku"
Alana tersenyum, dia mengelus pipi suaminya yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Rasanya jika seperti ini, Delano tidak ingin jauh dari Alana lagi. Cukup sekali saja dia hampir gila karena kehilangan Alana.
"Udah ah, ayo kita makan sekarang"
Alana menyiapkan makanan untuk suaminya dan dirinya. Alana mengambil satu sendok makanan dan menyuapi suaminya. Tentu saja Delano sangat senang mendapat suapan makanan dari istri tercintanya.
"Makasih Sayang"
"Sudah ah, jangan manja. Makan sendiri"
Delano terkekeh mendengar ucapan Alana, dia langsung bergerak dari posisi nyamannya dan mulai memakan makanan yang di bawa oleh istrinya.
Makan berdua di ruang kerja suaminya ini, selalu mendapatkan cerita tersendiri. Alana tahu jika suaminya tidak mungkin mau mengkhianati cinta mereka yang sudah banyak rintangan dan tantangan yang mereka hadapi semua ini. Delano tidak mungkin menyia-nyiakan semua perjuangannya selama ini.
"Sayang, Aini tidak apa-apa jika di tinggal terlalu lama?"
"Tadi pas aku tinggal di lagi tidur, baru saja aku kasih asi. Aku pulang saja setelah kita selesai makan"
"Kamu datang kesini sama siapa tadi? Pak supir 'kan lagi ambil cuti pulang kampung"
Sepertinya Delano baru saja sadar dengan kedatangan istrinya ke Kantor dan dia sadar kalau supir di rumah mereka sedang ambil cuti.
"Sama taksi online, memangnya kenapa?"
"Aku antar pulang saja, kenapa gak bilang sama aku kalau mau kesini. Mungkin aku akan jemput kamu, tidak akan membiarkan kamu naik taksi online"
Alana menghela nafas pelan, karena memang suaminya yang tidak pernah mengizinkan dia pergi dengan taksi online karena memang dia yang selalu terllau khawatir padanya.
"Yaudah, aku pulangnya bareng kamu aja nanti"
Bersambung