
"Alana.."
Tubuh Alana mematung seketika, dia berbalik dan menatap orang yang memanggilnya itu. Alana menatap wajah orang itu dan dia benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan orang ini.
"Jadi ini beneran kamu, Alana. Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika akan bertemu denganmu. Ternyata kamu bekerja disini"
Alana hanya diam dan menunduk, dia mencoba untuk menutupi perutnya yang buncit. Alana tidak mau sampai Lerita melihatnya, namun sepertinya percuma karena tidak mungkin Lerita tidak melihat perutnya yang sudah membuncit itu.
Akhirnya Alana mau saja ketika Lerita mengajaknya untuk berbicara sebentar. Alana sudah izin pada atasannya sebelum dia mengikuti Lerita ke arah luar Restaurant. Masuk ke dalammobil milik Lerita, dan mereka akanberbicara disana saja.
"Jadi Alana, aku sudah tahu kalau kamu bercerai dengan Om Dario karena kamu yang sedang hamil anaknya Delano. Tapi aku mohon sama kamu untuk tidak menemui Delano lagi. Karena dia yang sebenarnya sudah menikah denganku"
Alana menunduk sambil mengelus perutnya, sebenarnya tanpa harus Lerita katakan Alana juga sudah tahu karena sudah dua kalu Alana datang ke rumah Delano dan selalu melihat Lerita yang ada disana. Hal itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban bagi Alana.
"Iya, aku tidak akan menemui Delano"
Keputusan yang mungkin tidak sengaja Alana ambil dengan dari hatinya. Dia hanya tidak mau jika nantinya dirinya yang akan menjadi perusak pernikahan orang lain.Alana juga sudah sangat kecewa dengan Delano yang sudah tidak lagi mencintainya. Delano yang tidak lagi menepati janji dan ucapannya.
"Aku hanya akan menikah denganmu, Alana"
Ucapan kala itu hanya menjadi angin lalu yang tidak ada artinya. Nyatanya sekarang Delano telah membuat Alana terluka.
Alana kembali bekerja setelah dia bertemu dengan Lerita. Meski dia bekerja dengan sedikit kurang fokus. Alana tentu masih kepikiran tentang ucapannya pada Lerita. Dia yang berjanji tidak akan menemui Delano lagi, sementara terkadang Alana selalu merasa ingin melihat Delano. Meski dari jauh. Alana yang entah kenapa biss tersenyum begitu saja ketika melihat Delano walapun dari kejauhan.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan Delano begitu saja"
Semuanya hanya karena cinta Alana untuk Delano yang begitu besar. Delano yang menjadi cinta pertamanya dan telah memiliki hatinya seutuhnya. Namun entah kenapa kisah mereka yang begitu rumit hingga Alana tidak bisa mempunyai kesempatan untuk bisa bersama dengan Delano dan bahagia bersama.
######
Delano baru selesai bekerja dan dia baru saja sampai di rumah. Kali ini dia pulang ke rumah Ayahnya. Tidak ada alasan, karena memang Delano yang semaunya dia mau pulang kemana"
"Daddy sudah menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Alana"
Akhirnya Dario berfikir lebih luas, dia tidak mungkin terus tidak membantu anaknya mencari cintanya hanya karena Dario yang kecewa atas hubungan terlarang diantara Delano dan Alana.
Delano berjalan ke arah Ayahnya, dia duduk di samping Ayahnya. "Terima kasih Dad, maaf karena aku sudah membuat pernikahan Daddy hancur"
"Maafkan Daddy untuk semua kesalahan Daddy padamu Delan. Sekarang Daddy tahu bagaimana kamu yang juga begitu terluka dengan keadaan ini. Maafkan Daddy atas semua kesalahan Daddy"
Delano menatap Ayahnya, dia benci dengan dirinya sendiri yang saat ini terlihat sangat lemah. Dia menatap Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak pernah menyangka jika Dario akan bisa berubah seperti ini. Mungkin memang di balik semua masalah yang di hadapinya sekarang telah membuat Dario sadar dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Delano.
"Semuanya sudah berlalu Dad, biarkan saja yang sudah berlalu. Yang jelas aku sudah memaafkan Daddy"
Keharuan ini berakhir dengan pelukan hangat diantara Ayah dan anak ini. Sudah saatnya Delano menutup semua luka di masa lalu, dia sudah seharusnya membuka lembaran baru dengan Ayahnya ini. Sekarang Delano hanya harus segera menemukan Alana yang pergi dalam keadaan sedang mengandung anaknya.
Dan saat ini Delano yang sedang tiduran di atas tempat tidur dengan menatap foto Alana di ponselnya. Alana yang tersenyum manis pada kamera terlihat begitu menggemaskan.
"Aku merindukanmu, apa kamu tidak mau kembali padaku?"
Rasanya Delano sudah mulai lelah dengan hidupnya, karena dia tidak bisa hidup tanpa Alana di sampingnya. Dan sekarang entah kemana Alana pergi. Delano sudah snagat merindukannya. Apalagi ketika beberapa kali dia datang ke rumah orang tua Alana dan ternyata mereka telah pndah. Entah itu bersama dengan Alana atau tidak.
Di tempat yang berbeda, Alana juga sedang tiduran di atas tempat tidur dengan bayang-bayang Delano yang memenuhi pikirannya.
Namun ucapan Lerita juga menyadarkan Alana jika dirinya sudah tidak bisa berharap pada Delano lagi. Alana yang sudah tidak mungkin bisa bersama dengan Delano yang nyatanya sudah menikah dengan Lerita.
"Aku mencintaimu Delan, tapi sepertinya memang cinta kita tidak akan pernah bisa bersatu"
Dengan rasa sakit di hatinya, Alana mencoba untuk menguatkan hatinya.Delano yang sudah bahagia dengan istrinya, jadi tidak mungkin Alana menghancurkan semua itu.
Alana mengelus perutnya dengan lembut, tersenyum ketika merasakan tendangan dari dalam sana. Namun dengan matanya yang berkaca-kaca. "Sabar ya Nak, kamu akan baik-baik saja bersama Ibu dan kamu akan bahagia bersama Ibu"
Tidak akan ada wanita yang mau hidup seperti ini. Alana juga tidak pernah menyangka sedikit pun akan mengalami hal ini. Padahal dirinya sudah berharap lebih ketika dia menjalin kasih dengan Delano. Alana sudah beanr-benar berharap akan bisa hidup bahagia dengan Delano. Semua rencana hidup mereka hancur begitu saja ketika kedua orang tuanya yang memaksa Alana untuk menikah hanya karena tidak mau Ayah di hukum atas apa yang dia lakukan.
Namun mereka tidak tahu jika dengan paksaan dari mereka telah membuat Alana hancur. Alana yang kehilangan kekasihnya dan harus merelakan hidupnya hancur hingga saat ini. Namun, kedua orang tuanya tidak sama sekali melihat pengorbanan Alana itu. Dengan teganya mereka meninggalkan Alana yang sedang hancur dan menganggap dirinya sudah meninggal dunia.
"Semua akan baik-baik saja Alana, kamu akan hidup baik-baik saja bersama dengan anakmu"
Begitulah cara Alana menyemangati dirinya sendiri yang hampir menyerah dengan hidup ini. Hanya anak dalam kandungannya yang membuat Alana kuat sampai saat ini. Karena mau bagaimana pun, Alana tetap seorang Ibu yang menyayangi anaknya dan Alana juga tidak mau anaknya ikut sengsara seperti dirinya. Jadi Alana sedang berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk calon bayinya ini.
"Besok kita periksa ke Dokter ya Nak, kamu akan selalu baik-baik saja bersama dengan Ibu"
Bersambung