
Delano menatap istrinya yang terlelap malam ini. Mengelus lembut kepala istrinya itu. Delano menghembuskan nafas pelan, sebenarnya dia selalu merasa bersalah karena sudah membohongi istrinya tentang keberadaan Ayah kandungnya itu. Tapi Delano juga tidak mau Alana shock dan nantinya akan membuat dia dan bayinya terancam.
Ting..
Suara notifikasi dari ponselnya membuat Delano langsung melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu. Pesan dari Ayah mertuanya yang sudah menunggu Delano untuk bertemu malam ini. Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Delano.
Cup..
Delano mengecup kening istrinya sebelum dia pergi meninggalkan Alana. "Aku pergi hanya sebentar kok" lirihnya dengan sangat pelan.
Delano pergi menemui Abraham, sementara Alana yang baru saja mendengar pintu kaamr yang tertutup langsung membuka kedua matanya. Dia mulai tidak bisa mengendalikan rasa curiganya pada Delano yang selalu pergi diam-diam di malam hari. Seolah memang ada yang dia sembunyikan dari Alana.
"Sebenarnya dia akan pergi kemana malam-malam begini?"
Seandainya Alana tidak memikirkan tentang kondisinya sekarang yang sedang hamil besar, mungkin dia akan pergi menyusul suaminya dan ingin mengetahui apa yang di lakukan suaminya malam-malam begini, belum lagi dia yang selalu pergi diam-diam dari Alana. Namun Alana tetap memikirkan tentang kondsi bayinya, dia tidak mau jika keegoisannya ini akan membuat dirinya membahayakan calon bayinya.
Akhirnya Alana memilih untuk menunggu suaminya pulang dan langsung menanyakan apa yang sebenarnya Delano sembunyikan darinya. Alana sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak curiga dan berpikir yang tidak-tidak pada suaminya jika sikap Delano yang seperti ini sekarang, seolah dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dari Alana.
Dua jam kemudian, Delano baru kembali ke rumahnya. Hari juga sudah larut, dan dia membuka pintu kamar dengan perlahan karena takut akan mengganggu tidur istrinya. Tapi Delano malah kaget sendiri saat melihat Alana yang duduk di atas sofa dengan menatapnya dengan tajam.
"Sayang kamu kok gak tidur?"
Delano mulai merasakan hawa panas yang tidak baik-baik saja. Sorot mata istrinya jelas membuat dia sedikit merinding. Dia tahu akan ada huru-hara besar malam ini.
"Tidur? Memangnya kalau aku tidur kamu mau kemana? Setelah aku tidur, kamu akan pergi dengan mengendap-ngendap seperti maling, iya?! Sekarang jujur aja deh, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku? Apa kamu selingkuh?"
Delano terkejut mendengar itu, dia langsung berjalan mendekati istrinya, berlutut di atas lantai dan ingin meraih tangan istrinya namun langsung di tepis kasar oleh Alana.
"Sayang, kamu jangan mikir kejauhan. Aku tidak mungkin selingkuh dari kamu, apalagi sekarang kamu sedang hamil besar begini"
Alana memalingkan wajahnya, dia benar-benar marah dan kesal pada Delano yang masih belum mau berkata jujur padanya. Sampai Alana ingin menangis rasanya, saat suaminya yang masih saja menyembunyikan sesuatu darinya.
"Justru karena aku sedang hamil, pastinya kamu akan merasa bosan padaku dengan tubuhku yang semakin gemuk ini. Aku tahu kalau kamu malas 'kan melihat tubuh aku yang tidak berbentuk ini, jadinya kamu memilih untuk mencari wanita lain di luar sana"
"Ya ampun Sayang, kamu ngomong apaan si? Aku tidak akan pernah merasa bosan sama kamu, bagaimana pun keadaan kamu"
Alana mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya yang sangat sensitif ini. Dia mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya. "Keluar kamu, aku tidak mau tidur sekamar dengan suami yang tukang selingkuh"
"Sayang jangan bercanda, aku bisa jelasin semuanya. Jangan usir aku dari kamar ini, aku tidak bisa tidur tanpa kamu"
Alana berdiri dan menyuruh Delano berdiri lalu mendorongnya ke arah pintu kamar. "Pokoknya aku gak mau tidur sama kamu, aku malas melihat wajah kamu yang tukang selingkuh itu"
"Sayang dengarkan aku dulu, aku bisa jelasin...Sayang..Sayang.."
Dan Delano benar-benar di dorong keluar oleh istrinya. Alana menutup pintu dengan kasar sampai membuat Delano terlonjak kaget, karena tidak menyangka istrinya yang lemah lembut itu akan berubah seperti singa betina saat sedang marah dan cemburu. Sebenarnya hanya pikiran Alana saja yang mengira dirinya selingkuh. Padahal jelas tidak sama sekali.
"Sayang, ayo buka dong. Masa aku tidur di luar" Delano masih belum menyerah, dia terus mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu, berharap istrinya akan membukakan pintu untuknya.
"Kamar di rumah ini banyak, kamu tidur saja disana kenapa juga harus pusing dan malah tidur di luar"
Delano menghela nafas pelan, benar-benar tidak bisa jika dia harus tidur terpisah dari istrinya. Delano sudah terbiasa tidur sambil memeluk istrinya. Tapi sekarang dia malah di suruh untuk tidur terpisah dari istrinya itu, tentu saja dia tidak bisa.
"Ayolah Sayangku, Cintaku.. Aku tidak akan bisa tidur tanpa kamu disampingku"
"Berisik tahu, istrinya mau tidur malah di gangguin. Sana tidur saja di kamar tamu"
Lampu kamar langsung mati, menandakan jika Alana memang sudah bersiap untuk tidur. Delano mengusap wajahnya dengan frustasi, sepertinya memang malam ini dia harus tidur tanpa bersama istri tercinta karena istrinya yang sedang marah padanya.
Akhirnya dengan berjalan gontai, Delano masuk ke dalam kamar tamu. Duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang lesu. Mengusap wajahnya dengan kasar, dia mengambil ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan pada Ayah mertuanya. Berupa aduan karena dia yang harus tidur di kamar terpisah karena harus bertemu dengan Ayah mertuanya itu. Namun, Abraham malah tertawa membaca pesan dari Delano itu.
Sabar aja dulu, namanya juga orang hamil.
Dan Delano benar-benar kesal dengan Abraham yang malah seperti mengejeknya itu. Delano tidak lagi membalas pesan dari Ayah mertuanya itu. Dia menaruh ponsel di atas nakas, lalu dia tidur terlentang di atas tempat tidur. Baru beberapa menit saja sudah membuat dia tidak bisa tidur karena istrinya yang tidak ada disampingnya.
"Maaf Sayang karena aku belum bisa berkata yang sejujurnya. Biarkan aku dan Papa kamu menyelesaikan dulu rencana kami, supaya kamu tidak ikut memikirkan apa yang sedang kami rencanakan ini"
Delano memilih untuk merahasiakan semuanya, karena dia tahu kalau Alana akan sangat kepikiran jika mengetahui yang sebenarnya terjadi dan apa yang sedang di rencanakan oleh Ayahnya itu.
Aku akan memberi tahu kamu di waktu yang tepat.
Bersambung