
Alana bangun pagi ini dengan suasana hati yang masih sama. Kesedihan atas kehilangan Ibunya masih membekas di hatinya. Meski Ibu selalu memperlakukan Alana dan Vina itu berbeda, tapi tetap ada sebuah kenangan tersendiri yang tidak bisa Alana lupakan. Ibu bersikap buruk pada Alana, bukan berarti dia tidak pernah baik pada Alana. Karena mungkin dirinya juga tetap anak Ibu yang tidak bisa Ibu hapuskan sampai kapanpun.
"Sayang, ayo sarapan"
Delano masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan yang dia ambil dari bawah. Delano duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kaki istrinya dengan lembut.
"Sarapan dulu ya"
Alana menghela nafas pelan, sebenarnya dia masih tidak berselera makan untuk makan apapun. Kejadiannya masih terlalu cepat untuk bisa Alana abaikan begitu saja. Alana yang masih bersedih atas kepergian Ibu untuk selamanya.
"Aku mau mandi dulu saja, nanti saja aku makan sarapannya"
"Yaudah iya, kalau begitu kamu mandi dulu saja. Aku akan menunggu kamu disini"
Alana mengangguk, dia turun dari tempat tidur. Berjalan ke arah ruang ganti untuk mandi. Alana berendam di bak mandi dengan nyaman, memejamkan matanya untuk menikmati air hangat yang merendam tubuhnya. Mencoba untuk menenangkan tubuh dan pikirannya ini.
Bayangan ketika dia marah besar pada Vina terbayang dalam ingatannya. Alana menghela nafas pelan saat dia sadar apa yang telah dia katakan. Sebenarnya semua itu hanya sebuah kemarahan sesaat saja, karena tidak mungkin Alana sampai tidak mau mengakui Vina sebagai saudaranya lagi.
"Maafkan Kakak Vina, Kakak sudah salah berbicara"
Alana menghembuskan nafas pelan, dia keluar dari bak mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Alana harus mencari keberadaan Vina setelah dia usir kemarin. Pastinya gadis itu sedang kebingungan sekarang karena tidak punya tempat untuk berlindung lagi.
Alana keluar dari ruang ganti setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponsel.
"Sayang, aku harus cari Vina sekarang. Kemarin aku sudah sangat keterlaluan padanya. Pasti dia sangat kebingungan sekarang ini"
Delano langsung mendongak dan menatap pada istrinya itu. Tentu saja dia tidak kaget dengan ucapan istrinya itu, karena Delano sudah menduganya jika Alana tidak mungkin benar-benar marah pada Vina meski apapun yang telah Vina lakukan padanya. Karena Delano tahu bagaimana Alana yang mempunyai hati sangat lembut.
"Nanti kita cari, tapi sekarang kamu makan dulu. Dari kemarin malam, kamu tidak makan"
Alana menganguk, dia duduk di samping suaminya dan mengambil makanan di atas meja. Lalu, mulai memakannya dengan tenang. Tanpa menghiraukan Delano yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Delano mematikan layar ponselnya, lalu menyimpannya di atas meja. "Sayang, kamu baik-baik ya di rumah. Aku ada urusan sebentar"
Alana menoleh dan menatap suaminya dengan kening berkerut bingung. "Kamu mau kemana? Masa mau kerja si? Ibu aku 'kan baru saja meninggal"
"Bukan bekerja Sayang, aku hanya ada sedikit urusan sebentar. Tidak akan lama kok, paling hanya satu jam"
Alana mengangguk saja, dia juga tidak mungkin terus mengekang suaminya untuk tidak pergi kemana pun karena Ibunya yang baru saja meninggal. Karena pastinya Delano juga mempunyai urusan dan kesibukan masing-masing.
"Yaudah kalau begitu aku pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah ya" Delano mengecup kening istrinya, sebelum dia berlalu ke ruang ganti untuk mengambil jaket dan kunci mobil.
Alana hanya mengangguk saja, dia membiarkan suaminya pergi karena dia tidak mungkin terus mengekang suaminya untuk tidak berpergian karena Ibu yang baru saja meninggal.
######
Delano melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Sebenarnya dia juga tidak ingin meninggalkan istrinya saat ini jika dia tidak mendapatkan kabar tidak enak dari kantor polisi. Sampai di depan kantor polisi, dia langsung turun dan menemui Ayah mertuanya yang berdiri di depan kantor polisi untuk menunggu Delano.
"Kita harus masuk sekarang"
Abraham langsung menarik Delano untuk masuk ke kantor polisi. "Ayah tiri Alana mencoba untuk melarikan diri"
"Apa?!"
Delano dan Abaham masuk ke dalam kantor polisi. Mereka duduk berhadapan di meja kerja polisi itu. Delano langsung bagaimana kejadian tentang Ayah yang mencoba untuk melarikan diri.
"Katanya dia ingin menemui istrinya yang meninggal. Kamu tidak bisa membawanya keluar karena dia masih belum melakukan sidang penjatuhan hukuman. Jadi saya mencoba menahannya, namun ternyata dia menendang salah seorang polisi dan mengambil kunci dengan paksa. Membuka kunci sel dan mencoba melarikan diri. Beruntung karena banyak polisi yang sedang jaga, jadi dia tidak berhasil melakukan itu"
"Begini saja Pak, sebaiknya segera lakukan sidang penjatuhan hukuman untuk tersangka. Karena pastinya dari pihak perusahaan pun sudah menunggu keputusan dari kepolisian tentang kasus ini. Apalagi dia terbukti bukan sekali saja melakukan penggelapan dana perusahaan"
Dan begitulah usul yang diberikan oleh Abraham pada pihak kepolisian. Setelahnya dia dan Delano hanya menyerahkan pada pihak kepolisian karena memang semua itu adalah tanggung jawab mereka.
Abraham dan Delano keluar dari kantor polisi, mereka di hubungi hanya karena keluarga dan pihak dari pelapor juga. Jadi dia tidak mungkin menolak panggilan polisi ini atas kejadian ini.
"Papa mau ke rumah sekarang?"
"Iya, nanti Papa akan datang kesana. Kamu duluan saja, nanti Papa nyusul. Bagaimana keadaan Alana?"
"Baiklah"
Delano dan Abraham masuk ke dalam mobil masing-masing. Melajukan mobil mereka meninggalkan kawasan kantor polisi. Delano kembali ke rumahnya, Delano langsung masuk ke dalam rumah dan melihat istrinya yang sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Alana menoleh pada suaminya, dia menggeleng pelan. "Aku sedang mencoba menelepon Vina, tapi dari tadi tidak bisa"
"Mungkin dia sedang sibuk, kamu coba lagi nanti"
Alana mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Merasa membutuhkan sandaran yang menenangkan untuk dirinya, dan hanya suaminya yang paling bisa menenangkan dirinya.
"Sayang, aku takut Vina benar-benar marah dan tidak mau bertemu denganku lagi"
Delano mengelus kepala istrinya dengan lembut. Mengcup puncak kepalanya. "Tidak akan, pastinya Vina akan membutuhkan kamu lagi. Mungkin sekarang dia masih kesal padamu"
Alana mengangguk saja, mungkin memang benar apa yang dibicarakan oleh suaminya itu. Karena memang Alana yang berkata cukup keterlaluan kemarin. Namun semua itu hanya sebuah kemarahan sesaat bagi Alana.
Semoga saja Vina baik-baik saja.
Alana hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Vina saat ini. Karena mereka sudah tidak mempunyai siapapun selain saling melindungi dirinya sendiri. Setelah kepergian Ibu dan yang Alana ketahui jika Ayah sedang berada di dalam sel tahanan. Jadi Alana berpikir jika Vina pasti sendiri dan tidak punya keluarga lagi selain dirinya. Alana ingin memperbaiki hubungannya dengan Vina.
Bersambung