
Malam ini Alana baru keluar dari kamarnya setelah tidur beberapa jam tadi karena rasa lelah di tubuh dan pikirannya. Ketika Alana keluar, dia mencium aroma yang enak hingga membuat perutnya berbunyi minta di isi. Alana berjalan ke arah dapur dan melihat Delano yang sedang berkutat dengan peralatan dapur disana. Pria itu menoleh pada Alana dan tersenyum padanya.
"Selamat malam Sayang, ayo makan malam bersama. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu"
Alana menatap makanan yang tertata di atas meja makan itu. Semuanya terlihat sangat enak dan menggiurkan. Membuat Alana tidak mungkin bisa menahan diri untuk tidak memakan makanan itu.
"Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan makanannya untuk kamu"
Delano menarih kursi dan memegang kedua bahu Alana untuk mendudukan gadis itu disana. Lalu dia segera mengambilkan makanan untuk kekasih hatinya itu, meski mungkin sekarang situasinya sudah berbeda.
"Dimakan ya Sayangku, kamu harus banyak makan biar kamu dan calon bayi kita juga sehat"
Alana mendongak dan menatap Delano dengan lekat. Rasanya dia seperti bermimpi ketika melihat Delano yang sekarang berada disini bersama dengannya. Perhatian Delano yang masih sama seperti dulu, perhatiannya yang berhasil membuat Alana jatuh cinta padanya.
"Kenapa hmm? Apa mau aku suapi?"
Alana mengerjap dan langsung mengalihkan pandangannya ketika dia merasakan tangan Delano yang mengelus kepalanya itu. Dengan sedikit gugup, Alana mengambil sendok dan mulai memakan makanan yang di berikan oleh Delano tanpa berbicara apapun.
Delano tersenyum melihat Alana yang makan dengan cukup lahap. Dia ikut duduk di depan Alana dan ikut mengambil makanan juga. Malam ini akhirnya Delano bisa makan bersama dengan kekasih hatinya lagi, setelah beberapa bulan lalu dia hanya kesepian karena Alana yang pergi entah kemana.
"Jadi selama ini kamu pergi kemana?"
Alana mendongak dan menatap Delano yang memulai percakapan dengannya. Alana mengambil gelas berisi air putih yang sudah di sediakan oleh Delano untuknya. Meminum air di dalam gelas sampai tersisa setengahnya lagi. Menyimpan kembali gelas di atas meja. Lalu dia menatap Delano.
"Aku hanya pergi untuk menghindarimu"
Bukan jawaban yang Delano ingin dengar sebenarnya. Karena bukan tentang itu juga yang dia tanyakan barusan. Namun Delano mengikuti permainan Alana yang mungkin sedang mencoba untuk menutup diri.
"Menghindariku? Karena apa dan kenapa juga harus menghindari aku? Apa aku memang sebersalah itu sama kamu sampai kamu ingin menghindariku dan sampai pergi meninggalkan aku?"
Alana menghembuskan nafas pelan, mungkin memang semuanya harus dia perjelas pada Delano agar pria itu tidak terus mencoba mendekatinya dan menginginkan dirinya untuk menikah dengannya. Karena semua itu tidak mungkin terjadi, sementara Delano yang sudah menikah dengan Lerita.
"Aku tidak mau merusak hubungan kamu bersama dengan Ayah kamu. Lagian kamu juga tidak mungkin bisa menikahi aku. Ingat Delan, aku pernah menikah dengan Ayahmu dan aku juga pernah menjadi Ibu tiri kamu. Cinta dan perasaan kita ini memang harus berhenti dari dulu. Seharusnya memang kita tidak melakukan hal sejauh ini"
Alana berdiri dan berlalu ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Delan. Karena sebenarnya dadanya sudah terasa begitu sesak ketika Alana mengatakan semua kalimat itu pada Delano.
Delano terdiam di meja makan dengan menata punggung Alana yang menjauh. Hah... Dia menghembuskan nafas kasar ketika mengingat semua yang terjadi. Dan Delano selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi saat ini. Selalu ada kata jika dan kalau dalam setiap penyesalannya.
Jika saja dia tidak menyimpan dendam pada Ayahanya dan langsung mengenalkan Alana sebagai kekasihnya, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Kalau saja Delano mengetahui akhrinya akan seperti ini, mungkin dia akan menikahi Alana sejak dulu, tanpa menunggu gadis itu siap terlebih dahulu.
#######
"Apa Delano tidak pulang ya semalam"
Alana berjalan ke arah pintu kamar Delano dan mengetuk pintu kamar Delano sambil memanggil namanya. Namun tidak ada jawaban dari dalam sana, membuat Alana meraih handel pintu dan memutarnya dan ternyata memang Delano tidak mengunci pintu kamarnya.
Ketika Alana membuka pintu, dia melihat selimut dan bantal yang berjatuhan di atas lantai. Alana berjalan masuk dengan mengambil bantal dan selimut itu untuk di simpan kembali di atas tempat tidur.
"Delan, kamu dimana?"
Alana berjalan ke arah kamar mandi dan mendengar suara orang sedang muntah-muntah di dalam sana. Alana membuka pintu kamar mandi dan benar saja dia melihat Delano yang sedang muntah di wastafell.
"Delan, kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit?"
Alana memijat tengkuk leher Delano dan menatap pria itu yang terlihat lemas dan pucat. Alana membantu Delano untuk kembali masuk ke dalam kamarnya, membantu Delano untuk naik ke atas tempat tidur dan Alana mengambilkan air hangat untuk Delano.
"Sebenarnya kamu kenapa? Apa mau di periksa saja ke Dokter?"
Delano menggeleng pelan, dia menyimpan gelas berisi air hangat di tanagnnya di atas nakas. Lalu dia menatap Alana dengan perutnya yang buncit itu. Delano tersenyum ketika mengetahui apa yang membuat dirinya terus muntah-muntah akhir-akhir ini dan terkadang menginginkan hal yang aneh-aneh.
"Aku tidak sakit, semua yang aku alami saat ini hanya karena efek dari apa yang aku perbuat padamu"
Alana mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Delano barusan. "Apa maksud kamu?"
Delano menegakkan tubuhnya, dia mengelus perut Alana dengan lembut dan ketika dia mengelus perut Alana seperti ini, maka selalu mendapatkan respon berupa tendangan dari dalam sana.
"Saat ini aku sedang mengalami kehamilan simpatik. Dimana kamu yang hamil, tapi aku yang merasakan mual dan gejala-gejala ketika orang hamil"
Alana terdiam mendengar itu, dia juga pernah mendengar dengan istilah itu. Tapi apa benar sekarang malah terjadi pada dirinya dan Delano.
"Pantas saja akhir akhir ini aku tidak lagi merasa mual dan muntah di pagi hari. AKu bisa memakan apapun makanan yang aku inginkan. Berbeda sekali pada awak kehamilan, dimana aku selalu mengalami morning sickness dan aku yang tidak bisa memakan makanan yang berbau terlalu menyengat"
Delano tersenyum mendengar itu, setidaknya dia bisa mengurangi beban dalam diri kekasihnya ini. Setelah apa yang di lewati Alana selama ini pastinya tidak akan mudah.
"Aku senang karena aku juga bisa merasakan sulitnya masa-masa kehamilan itu. Terima kasih ya Nak, karena kamu sudah menjaga Ibu dengan baik dan tidak menyiksa Ibumu. Biar saja Ayah yang merasakan semua kesulitan ini" ucap Delano sambil mendekatkan bibirnya pada perut Alana, lalu memberikan kecupan lembut di perut kekasihnya itu.
Alana hanya terdiam melihat itu, ada debaran berbeda dalam hatinya. Alana terharu dengan ucapan Delano dan segala perhatiannya.
Bersambung