
Abraham yang pergi untuk pulang sebentar dan akan datang lagi sore nanti. Delano yang juga sedang keluar untuk membeli minum. Saat ini Alana hanya sedang sendiri di ruang rawat sambil menunggu keputusan dari Dokter untuk dirinya dan bayinya pulang.
Alana mengambil ponselnya di atas nakas dan membuka sosial media hanya untuk sekedar mengobati kejenuhan saja, sambil menunggu suaminya kembali. Ketika Alana masih fokus dengan ponselnya, suara pintu ruangan yang terbuka membuat dia yakin jika yang datang adalah suaminya.
"Sayang..." Namun, ketika dia mendongak dan melihat siapa yang datang, seketika Alana langsung terdiam melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya itu. "...Vi-Vina? Ada apa kamu kesini?"
Alana benar-benar tidak menyangka ketika melihat adiknya yang datang. Karena Alana dan Vina tidak bisa di sebut sebagai saudara yang dekat, mereka termasuk adik dan Kakak yang bahkan sangat renggang.
"Kak, aku..." Vina langsung berlari ke arah Alana dan duduk bersimpuh di atas lantai dekat ranjang pasien yang di tempati oleh Kakaknya itu, memegang tangan Alana. "...Tolong Vina Kak, Vina tidak mau jika harus putus kuliah saat ini"
Alana mengerutkan keningnya mendengar itu, dia jelas tidak mengerti apa yang adiknya itu katakan padanya. "Putus kuliah bagaimana maksud kamu?"
Vina mendongak dan menatap Alana dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Ayah di pecat dari pekerjaan barunya ini karena kembali ketahuan melakukan penggelapan dana perusahaan. Dan sekarang Ayah sudah di tahan di kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Ibu juga sakit-sakitan dengan kondisi ini. Dan sekarang aku harus membayar uang kuliah, tapi aku tidak mempunyai uang. Ibu juga sama. Tolong aku, Kak"
Alana menghela nafas pelan, dia tidak menyangka Ayah akan kembali melakukan kesalahan yang sama di tempat kerja yang barunya itu. "Maaf Vina, tapi Kakak juga tidak mempunyai uang sendiri saat ini. Kakak hanya di biayai oleh suami Kakak, jadi Kakak juga tidak bisa sembarangan memberikan uang pada kamu"
Vina berdiri dan menatap Alana dengan helaan nafas panjang. "Apa Kakak tidak bisa untuk bilang sama suami Kakak kalau adik Kakak membutuhkan biaya untuk kuliah"
"Kakak akan coba bicara, tapi Kakak juga tidak akan bisa menjanjikan jika Kakak akan memberikan kamu uang untuk biaya kuliah kamu itu"
"Iya Kak, kalau gitu aku pergi dulu ya"
Vina pergi dari ruang rawat Alana tanpa menanyakan tentang keadaan Alana yang baru saja selesai melahirkan atau menanyakan tentang bayi Alana yang baru saja di lahirkan. Dan hal itu hanya membuat Alana geleng-geleng kepala.
"Sayang.."
Kali ini pintu kembali terbuka dan memang benar jika itu adalah Delano yang membawa minuman dan makanan untuk dirinya dan juga Alana. Delano duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Makan siang dulu ya, kata Dokter kamu dan bayi kita bisa langsung pulang sore ini"
Alana tersenyum mendengar itu, memang dia sudah sangat tidak betah berada di rumah sakit ini. Padahal hanya dari pagi saja di berada disini, tapi benar-benar sudah tidak betah.
"Sayang, kamu beli apa?"
"Makanan kesukaan kamu, sekarang kamu makan dulu ya. Isi lagi tenaga buat beri asi pada Aini"
Alana tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, dia melirik ke arah box bayi dimana anaknya masih terlelap disana. "Anak kita tidurnya nyenyak banget ya sepertinya. Semoga saja nanti malam tidak akan begadang"
"Semoga saja"
Dan sore hari Alana benar-benar di izinkan pulang oleh Dokter. Abraham juga ikut menjemputnya dan mengantarkan Alana ke rumahnya. Untuk pertama kalinya Abraham datang ke rumah anak dan menantunya itu.
"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Aku mau menemani Papa dibawah"
######
Di dalam ruang kerja Delano, Abraham menunjukan sebuah foto dan berkas pada Delano. Selain ingin berkunjung ke rumah anak dan menantunya ini, Abraham juga ingin menunjukan sesuatu pada Delano.
"Ayah tiri Alana telah resmi di tahan dan tinggal menunggu sidang penjatuhan hukuman padanya. Sementara Rina, dia sakit dan dirinya dengan anaknya itu berada di sebuah kosan kecil di pinggir kota"
Delano mengusap wajah kasar, dia tahu jika memang ini yang dirinya inginkan sebagai pembalasan atas apa yang di perbuat oleh Ibu dan Ayah pada Alana. Tapi tentunya Alana tidak akan pernah terima jika melihat keadaan ibunya seperti ini sekarang.
"Aku bingung Pa, jika Alana tahu tentang kondisi Ibunya yang seperti ini dia pasti akan sedih dan tentunya tidak akan terima dengan perbuatan kita. Karena mau bagaimana pun dia tetap Ibunya bagi Alana"
Abraham mengangguk mengerti, dia tahu itu. Karena saat di rumah sakit saja jelas Alana yang meminta padanya untuk memaafkan kesalahan yang telah dibuat oleh Ibunya. Semua itu membuktkan jika memang tidak ada kebencian dalam diri Alana pada Ibunya, meski selama ini dia telah membuat Alana sengsara.
"Begini saja, nanti kita beri tahu Alana tanpa harus dia tahu jika kita yang telah merencanakan semua ini. Tentang penangkapan Ayah tirinya itu, karena untuk hal ini memang kita tidak salah karena memang Ayah tiri Alana itu yang telah melakukan kesalahan dan memang dia sudah seharusnya di hukum"
Memang benar apa yang di katakan oleh Abraham barusan. Memang sudah seharusnya Ayah di hukum atas semua perbuatan yang dia lakukan, karena dia juga telah merugikan perusahaan yang mempekerjakannya.
"Baiklah, nanti aku akan berusaha memberi tahu Alana dengan perlahan"
Dan setelah berbicara tentang hal itu dengan Delano, Abraham langsung berpamitan pulang. Membiarkan Alana dan Delano mempunyai waktu berdua untuk membicarakan tentang hal itu.
Delano masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang sedang berjalan ke arah sofa sambil menggendong anak mereka. Cara berjalannya yang masih terlihat susah itu membuat Delano langsung membantunya.
"Mau kemana Sayang?"
"Duduk di sofa, Aini ingin asi sepertinya"
Delano mendudukan Alana dengan perlahan di atas sofa dan dia juga ikut duduk di samping istrinya itu. "Sayang, kamu jangan terlalu banyak gerak dulu ya. Harus banyak istirahat setelah melahirkan"
"Iya Sayang, lagian aku juga tidak melakukan apapun selain merawat Aini dan memberinya asi"
Delano menatap anaknya yang meminum air asi dari Ibunya dengan begitu lahap. Mungkin memang anaknya itu sangat haus. Delano mengelus kepala anaknya dan memberikan kecupan disana. Lalu juga memberikan kecupan di pipi istri tercintanya ini.
"Emm, Sayang..." Alana sedikit ragu untuk mengatakan tentang Vina. Tapi dia juga tetap harus mengatakannya pada Delano. "...Sebenarnya tadi siang, Vina datang ke rumah sakit dan menemuiku. Dia...."
"Dia mau apa? Tidak menyakiti kamu 'kan?" Delano langsung saja was-was, karena dia tahu jika hubungan Alana dan adiknya itu memang tidak baik.
Alana menggeleng pelan untuk menyangkal pertanyaan Delano itu. "Tidak. Dia tidak melakukan apapun padaku, dia datang hanya untuk meminta uang untuk biaya kuliahnya"
"Apa?! TIidak, aku tidak akan memberinya!"
Bersambung