My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Gaun Pengantin



Persiapan pernikahan yang Delano siapkan sendiri dan pihak wedding orgaanizer saja. Tidak pernah melibatkan Alana kecuali dengan baju pengantin yang akan di gunakan oleh Alana.


Tatapan mata Alana yang jelas memperlihatkan bagaimana dirinya yang begitu kagum pada sebuah gaun pengantin di depannya ini. Alana memegang gaun itu dengan lembut, segala pernak-pernik yang terpasang di gaun itu benar-benar terlihat indah dan sangat membuatnya kagum.


"Bagaimana? Apa kau suka?" Delano memeluk Alana dari belakang, mengecup bahu wanita itu dengan lembut.


Alana menggangguk, dia tentu sangat suka dengan gaun pengantin yang saat ini berada di depannya itu. Gaun yang terlihat begitu indah di mata siapapun yang melihatnya. Namun ketika Alana menyadari tentang keadaannya sekarang yang sedang hamil, membuat dia terdiam hingga dia merasa kalau tubuhnya yang sedang hamil tidak akan pantas jika harus menggunakan gaun pengantin seindah ini.


"Tapi Sayang, sebaiknya pernikahan kita juga di lakukan secara sederhana saja. Tidak perlu memakai gaun seperti ini segala, kamu 'kan tahu kalau aku sedang hamil dan tidak akan cocok  menggunakan gaun pengantin seperti ini"


Delano memalikan tubuh Alana agar menghadapnya. "Kenapa harus merasa tidak cocok? Kamu pasti akan terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Pastinya akan banyak orng yang iri padamu"


Alana terdiam mendengar itu, tapi dia teringat dengan kondisi perutnya yang sudah membesar itu. Alana tidak merasa jika dirinya akan mempermalukan Delano di acara pernikahan nanti dengan keadaannya yang seperti.


"Tidak perlu memikirkan apa yang di katakan orang lain nanti. Kamu hanya perlu fokus padaku dan kehidupan kita setelah menikah nanti"


Alana mendongak dan menatap Delano dengan helaan nafas pelan, Delano seperti sudah mengetahui apa yang Alana ragukan dan takutkan.


"Aku pasti akan membuat kamu malu dengan kehamilan aku dan penampilan aku nanti pas di acara pernikahan"


Cup..


Kecupan yang di berikan Delano pada Alana ketika dia mendengar ucapan dari gadis itu. "Aku tidak peduli apa kata orang, yang aku pedulikan hanya kamu. Lagian wajar saja kalau memang banyak orang yang mencela aku, karena sebenarnya memang aku yang sudah membuat kamu seperti hamil dan aku baru bisa menikahimu saat ini. Memang semuanya juga karena kelakuan aku sendiri"


Alana menatap Delano dengan matanya yang berkaca-kaca. Sampai saat ini dia tidak akan pernah merasa menyesal dengan apa yang pernah terjadi di antara dirinya dan Delano. Semua yang telah terjadi di antara mereka berdua memang terjadi karena cinta. Bukan karena sebuah paksaan dari siapapun.


Alana memeluk Delano dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang calon suaminya itu. Rasanya Alana begitu bersemangat ketika dia bisa merasakan kebahagiaan banyak wanita ketika mereka akan menikah dengan laki-laki yang tepat.Karena pernikahan Alana sebelumnya membuat dia hidup tersiksa dan tertekan, tanpa ada sebuah pernikahan yang penuh cinta.


"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah begitu mencintai aku dengan sangat tulus"


Delano mengelus kepala Alana dan mengecup puncak kepalanya. "Sampai kapan pun aku hanya akan menikahi kamu. Jadi semua cobaan dan rintangan akan aku lawan, karena hanya kamu yang bisa membuat aku jatuh cinta"


Alana mendongak dengan tawanya yang terdengar renyah. "Memang pesona aku itu tidak akan bisa terkalahkan oleh siapa pun ya"


Delano hanya terkekeh sambil mengecup gemas hidung calon istrinya itu. Memang benar jika hanya Alana yang telah berhasil membuat Delano yang dingin jatuh cinta bahkan sekarang sudah menjadi budak cinta bagi Alana. Ketulusan dan kelembutan Alana membuat Delano jatuh cinta hingga dia juga tidak menyangka jika perasaannya ini akan sebesar ini pada Alana.


Setelah masalah gaun pengantin selesai, mereka kembali pulang ke rumah. Sang Desainer menjelaskan jika dia akan membuat perut besar Alana tersamarkan dengan gaun itu. Karena dia tahu jika seorang wanita selalu ingin tampil cantik di depan banyak orang ketika hari pernikahannya. Begitupun dengan Alana, jadi Desainer itu mencoba untuk mengerti perasaan Alana yang pastinya juga menginginkan hal yang sama. 


Alana hanya mengangguk dan menyetujui apa saja yang akan di lakukan oleh Desainer gaun pengantinnya itu. Sebenarnya Alana tidak papa juga kalau memang perut besarnya ini terlihat jelas. Dia tidak akan malu, karena dia juga sudah terbiasa dengan omongan orang-orang ketika melihatnya hamil tanpa suami.


Jadi Alana tidak masalah jika di acara pernikahannya nanti, mungkin akan ada orang yang membicarakannya. Tapi yang Alana pikirkan hanya tentang Delano. Dia tahu kalau Delano belum mengalami hal yang sama dengannya, jadi Alana tidak mau melihat Delano malu karena kehamilannya ini.


"Sayang, mau makan dulu?"


Alana yang sedang anteng mengelus perutnya sambil menatap lurus ke depan untuk melihat pemandangan di jalanan, langsung menoleh pada Delano yang sedang mengemudi. Jalanan yang cukup ramai di jam makan siang, membuat suasana yang panas dan gersang di tambah dengan suara klakson kendaraan yang ingin cepat-cepat sampai tujuan.


"Di rumah saja deh, sekarang macet banget. Aku pengen segera sampai rumah, biar nanti kita makan di rumah saja"


Delano mengangguk dan menuruti apa yang di katakan oleh wanitanya tercinta itu.


######


Malam ini Alana baru saja masuk ke dalam kamar setelah dia membuat susu hamil untuknya. Alana melihat Delano yang sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan tatapannya yang fokus paa ponsel di tangannya. Namun ketika Alana menghampirinya, dia langsung sadar akan kehadiran Alana.


Delano langsung mematikan layar ponsel dan menyimpan di sampingnya. Setelah Alana menaruh gelas di atas nakas, Delano langsung meraih tangannya dan mendudukan Alana di atas pangkuannya. Memeluk tubuh wanitanya dengan lembut.


Delano mengecup leher dan punggung Alana, membuat gadis itu merasa geli sendiri dengan apa yang di lakukan Delano itu.


"Sayang, ayo minum susunya"


"Masih panas, tunggu sebentar lagi"


Delano tersenyum sambil mengelus pipi Alana. Tatapan matanya itu jelas memperlihatkan bagaimana dirinya yang begitu mencintai wanita yang berada di atas pangkuannya ini.


"Sayang, jangan pernah pergi lagi. Semarah apapun kamu sama aku, lebih baik kamu marah sama aku dan pukul aku daripada kamu harus pergi meninggalkan aku seperti sebelumnya"


Alana tersenyum tipis mendengar ucapan Delano barusan. Dia mengelus pipi calon suaminya itu, lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku tidak akan pergi lagi, karena sekarang semuanya sudah terselesaikan. Aku akan tetap bertahan meski kedepannya pasti tidak akan mudah bagi kita berdua. Kita akan menghadapi semua yang akan terjadi nanti bersama-sama"


Ya, sebuah pernikahan bukan akhir dari perjuangan hidup. Tapi kehidupan baru yang baru di mulai. Akan ada waktunya banyak rintangan dan tantangan, namun sebesar apapun rintangan yang di hadapi. Jika keduanya selalu bersama dengan kekuatan cinta dan kesetiaan. Maka badai pun akan bisa di lewati.


Bersambung