
Ceklek..
Suara pintu ruang ganti yang terbuka, membuat Delano langsung mematikan layar ponselnya dan menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
Alana yang melihat itu langsung mneyipitkan matanya, menatap Delano dengan tajam. "Kenapa langsung dimatiin ponselnya? Kamu lagi chatan sama siapa?"
Delano terkekeh saat jelas melihat wajah istrinya yang cemburu padanya. Sikap Alana yang seperti ini memang sudah dari dulu, sejak awal mereka berpacaran. Dan Delano menyukai sifat pencemburu Alana ini. Delano selalu merasa sangat dicintai.
"Aku hanya cek kerjaan saja, lagian untuk apa juga aku chatan sama orang tidak penting.Meningan aku habiskan waktu bersamamu saja"
Sikap Alana yang masih sama sampai saat ini. Dia yang selalu cemburu dan takut kalau Delano akan berpaling pada wanita lain, karena memang Alana yang sangat mencintai Delano sejak awal. Delano adalah cinta pertama dan terakhirnya.
"Aku hanya mencintaimu, Sayang"
Alana tersenyum mendengar itu, meski dia yakin kalau cinta Delano hanya untuknya. Tapi Alana juga tetap harus jaga-jaga, takutnya ada wanita lain yang siap menggoda Delano.
Delano meraih tangan Alana dan mendudukan istrinya itu di atas pangkuannya. Mengelus pipi istrinya yang terasa dingin karena baru saja selesai mandi. Lalu mengecupnya dengan lembut. "Sayang, kamu mandi lama sekali? Pipi kamu sampai dingin seperti ini"
Alana tidak menjawab, dia melingkarkan lengannya di leher Delano. Menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan manja. "Aku capek banget Sayang, pagi ini aku tidak membuat sarapan ya"
Delano mengelus punggung istrinya dengan lembut. "Tidak papa, lagian disini juga ada pelayan untuk menyiapkan sarapan dan mengurus rumah. Kamu kalau capek diam saja, kamu juga 'kan harus banyak istirahat. Perut sudah besar begini"
Alana mengingat satu hal yang ingin dia bicarakan pada Delano. Ketika suaminya itu membahas tentang perutnya yang besar. Alana mendongak dan menatap wajah suaminya dengan lekat. "Sayang, bagaimana dengan pesta pernikahan kita kemarin? Pasti banyak orang yang membicarakan kamu, karena perut aku yang sudah besar di acara pernikahan kita kemarin"
Cup..
Delano mengecup bibir Alana dengan sedikit memberinya luma*tan halus. "Aku tidak suka kau merendahkan diri kamu sendiri. Dan jangan mendengarkan apapun ucapan orang lain. Yang penting sekarang kamu bahagia bersama aku dan aku juga bahagia bersama denganmu"
Alana hanya diam mendengar itu, memang Delano tidak pernah memikirkan apa yang akan di katakan oleh orang-orang tentang pernikahannya kemarin. Dimana Alana yang sedang hamil besar di acara pernikahan mereka kemarin.Tapi Delano tidak peduli tentang itu, karena dia hanya ingin Alana juga merasakan bagaimana suasana indah pernikahan bersama dengan pria yang dia cintai. Bukan seperti pernikahannya bersama dengan Dario, saat itu.
Delano hanya ingin Alana hidup bahagia bersamanya.
"Sayang, apa keluargaku tidak kamu undang ya kemarin pas acara pernikahan kita itu?"
Delano mengehela nafas mendengar pertanyaan Alana itu. Dia mengelus pipi Alana dengan lembut. "Bukannya aku tidak mau mengundang mereka, tapi aku juga tidak tahu dimana mereka berada"
Sebenarnya bukan karena aku yang tidak tahu, tapi aku yang tidak mau melihat kamu bersedih.
Ketika Delano sudah menerima laporan dari anak buahnya itu. Saat Delano melihat sendiri bagaimana keluarga Alana yang bahagia meski tanpa kehadiran Alana disana.
"Sebenarnya apa salah aku sampai mereka meninggalkan aku dan melupakan keberadaan aku. Apa mungkin karena aku meninggalkan Daddy kamu dan Daddy kamu telah melakukan sesuatu pada keluargaku?"
Alana terdiam, kembali memikirkan bagaimana dia yang harus banyak berkorban untuk keluarganya, namun ternyata kedua orang tuanya bahkan tidak memperdulikan dirinya lagi.
"Apa aku terlalu tidak berharga ya bagi mereka? Apa mungkin aku ini memang lahir dengan tidak di harapkan oleh mereka?"
"Mereka yang bodoh karena tidak melihat bagaimana kamu yang selalu peduli pada mereka. Meski kamu selalu tersakiti bahkan mereka yang selalu membuat kamu terluka"
Alana tidak menjawab apapun, dia menyandarkan kepalanya di bahu Delano. Untuk saat ini dia memang tidak tahu harus mencari kemana lagi keluarganya yang tiba-tiba menghilang.
######
Alana terdiam di atas sofa sambil melihat acara televisi yang sebenarnya tidak terlalu dia suka. Delano terpaksa harus pergi karena adanya pekerjaan mendadak yang mengharuskan dirinya pergi di hari kedua menikah dengan Alana.
Karena sudah tidak ada Dario, maka Delano yang harus menghadel semuanya di perusahaan. Semuanya karena memang hanya dia anak satu-satunya dari Dario. Meski dulu Ayahnya itu adalah seorang pemain wanita dan suka berselingkuh sana sini. Tapi dia hanya mempunyai anak satu, yaitu dari wanita yang dia nikahi secara resmi.
Ting..tong..
Suara bel membuat Alana mengalihkan fokusnya dari layar televisi. "Siapa yang datang, kalau Delano juga pasti langsung masuk saja"
Karena Mbak pelayan sedang pergi ke super market untuk membeli bahan kebutuhan. Maka, Alana yang harus membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Le-lerita?"
Alana terdiam saat melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya ini. Dia adalah wanita yang mengejar suaminya sejak dulu. Alana jadi bingung dan merasa was-was sendiri ketika melihat kedatangan Lerita ke rumahnya ini.
"Hai Alana, apa kabar?" Lerita tersenyum sambil memeluk Alana, seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal nyatanya keduanya mencintai pria yang sama. "...Selamat ya atas pernikahan kamu dan Delano. Maaf karena aku tidak sempat datang, kemarin aku sangat sibuk"
Ya, Lerita memang tidak datang, bukan karena dirinya yang sibuk seperti yang dia katakan. Tapi Delano yang memang tidak mengundang Lerita pada acara pernikahannya.
"I-iya tidak papa. Terima kasih karena sudah repot-repot sampai datang kesini"
Alana malah merasa bingung dan gugup sekali ketika dia mendengar ucapan Lerita barusan. Dia segera melepaskan pelukan Lerita padanya. Tidak sama sekali menawari Lerita untuk masuk, karena jujur saja Alana merasa ada yang aneh dengan kedatangan Lerita ini.
"Emm, aku juga tidak pernah menyangka kalau ternyata kamu sedang mengandung anaknya Delano. Aku kira kamu hanya membuat lelucon saja, maaf ya karena aku sempat meminta kamu untuk tidak kembali pada Delano karena mengaku aku sudah menikah dengannya. Tapi sebenarnya memang kami hampir menikah, jika kamu tidak terlanjur kembali pada kehidupan Delan"
Alana hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Lerita. Meski dalam hatinya bergemuruh ketika mendengar ucapan Lerita barusan. Sampai Lerita pergi pun Alana benar-benar tidak mengatakan apapun lagi.
Bersambung