My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Resmi Menikah



Akhirnya mereka resmi menikah, saat ini keduanya sudah menjadi suami istri. Mereka berdiri di sebuah pelaminan dengan para tamu yang terus berbaris untuk memberikan selamat pada mereka. Tentu saja banyak dari para tamu yang memperhatikan perut Alana hingga ada yang menatap tidak suka pada Alana. Namun, Alana mencoba untuk mengabaikannya, seperti yang di katakan oleh Delano. Untuk mengabaikan hal yang tidak penting.


"Sayang, kamu duduk saja. Kamu pasti pegal berdiri sejak tadi"


Alana tersenyum mendengar itu, dia menatap suaminya dan memberikan kecupan di pipi Delano dengan sangat cepat agar tidak ada orang yang melihat adegan itu.


"Sayang, aku bahagia dengan pernikahan ini. Jadi biarkan aku melakukan apa yang banyak pengantin lain lakukan, lagian tidak setiap hari juga aku berdiri lama seperti ini"


Karena sejak dia bekerja di Restaurant juga dia banyak berdiri dan berjalan kesana kemari. Beruntung karena tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya dan kandungannya ini.


Alana memijat kakinya yang terlihat bengkak itu. Mungkin karena dia yang berdiri hampir berjam-jam. Namun ada senyuman penuh kebahagiaan di wajahnya ketika dia mengingat pernikahannya. Sekarang dia benar-benar sudah menjadi istri dari Delano. Setelah banyaknya rintangan, ternyata dia bisa juga sampai di titik ini.


"Aku 'kan sudah bilang untuk kamu duduk saja kalau cape. Kamunya gak nurut si, jadi sekarang kaki kamu bengkak kayak ginii"


Delano masuk ke dalam kamar dengan wadah berisi air hangat dan minyak urut juga yang dia dapatkan dari pelayan rumah ini. Delano masih ingin mengomel pada istrinya yang tidak mau mendengarkan ucapannya itu.


"Sayang, aku 'kan juga sedang bahagia dengan pernikahan kita ini. Jadi aku tidak mau hanya duduk diam di saat acara seperti ini hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupku"


Delano menghela nafas pelan, dia duduk di atas lantai dengan wadah berisi air hangat itu dia simpan di sampingnya. Meraih kaki Alana yang sedang duduk di pinggir tempat tidur itu.


"Ini sampai bengkak banget gini, kamu gak nurut si. Kesel deh aku sama kamu yang gak nurut sama aku, padahal aku sudah menjadi suami kamu sekarang"


Alana tersenyum mendengar omelan dari suaminya itu. Ya, memang seperti ini hubungannya dan Delano selama ini. Alana yang keras kepala dan sulit untuk di larang jika memang dia menginginkan hal itu. Dan Delano yang posesif tapi selalu sabar menghadapi sikap Alana itu. Keduanya memang saling melengkapi satu sama lain.


Delano mulai mengompres kaki Alana dengan air hangat yang dia bawa, lalu mengoleskan minyak urut yang hangat pada kaki Alana yang bengkak itu.


"Besok kita ke rumah sakit kalau kaki kamu masih kayak gini"


Alana hanya tersenyum melihat suaminya yang dengan lembut memijat kakinya itu. Sikap Delano yang selalu memberikan perhatian lebih pada Alana ini yang membuatnya begitu jatuh cinta pada pria itu.


"Aku mencintamu, Delan"


Delano langsung mendongak dan menatap Alana yang juga sedang menundukan pandangannya, hingga kedua pasang mata itu saling menatap untuk beberapa detiak. Tatapan penuh cinta. Perlahan Alana menundukan kepalanya, tangannya memagang kedua pipi Delano dan... Cup.. Alana yang memulai lebih dulu ciuman itu. Membuat Delano cukup terkejut karena hal ini jarang sekali terjadi.


Namun lambat laun, Delano juga mulai menikmati ciuman itu. Tangannya memeluk pinggang Alana dan mereka saling mengecap rasa manis di bibir masing-masing.


Delano menjeda ciuman mereka saat merasa Alana yang sudah hampir kehabisan nafas. Kening mereka menyatu dengan deru nafas yang tidak teratur. "Sayang, ayo lakukan sekarang"


Deg..


Delano langsung menjauhkan wajahnya dari Alana. Dia merasa tidak percaya dengan ucapan Alana barusan. Istrinya ini benar-benar memulai semuanya malam ini.


"Kamu yakin Sayang? Apa kamu memang benar-benar sudah siap?"


Dan Delano langsung mendorong tubuh Alana hingga dia terjerambah di atas tempat itu. Dia merangkak naik di atas tubuh Alana dan mulai mengecup setiap bagian tubuh Alana. Piyama tidur yang Alana gunakan sudah terlempar ke atas lantai. Teronggok begitu saja.


"Ahh Delan.."


"Iya Sayang, terus sebut namaku. Aku suka mendengarnya"


Setetes keringat jatuh di atas dada Alana dariĀ  suaminya yang sedang berada di atasnya itu. "Ahh Delano, aku mencintamu"


******* panjang mengakhiri permainan mereka malam ini.


#######


Alana bangun lebih dulu daripada suaminya. Dia menatap wajah Delano yang terlihat tenang dalam tidurnya. TIba-tiba saja pipi Alana terasa memanas, mengingat kejadian semalam. Dimana dirinya yang begitu agresif pada Delano, sangat berbeda sekali dengan Alana yang dulu. Alana berbalik membelakangi Delano, namun sepertinya pria itu sudah terlanjur bangun. Dia memeluk tubuh Alana dari belakang dengan mengecup lembut bahu istrinya itu.


"Sayangku, makasih untuk semalam"


Alana hanya diam dengan wajahnya yang semakin memerah ketika dia mengingat hal yang terjadi semalam. Alana menggeliat pelan ketika dia merasakan kecupan-kecupan lembut di belakang lehernya yang di lakukan oleh Delano.


"Sayang, aku gerah mau mandi dulu"


"Apa kita akan mencobanya di kamar mandi saja?"


Alana terbelalak mendengar itu, suaminya ini memang telah berubah menjadi sosok pria yang masum. Bagaimana mungkin harus melakukan di kamar mandi, kenapa Delano harus aneh-aneh. Gumamnya dalam hati.


"Tidak usah, aku mau mandi sendiri saja" Alana melepaskan tangan Delano yang melingkar di perutnya, lalu dia segera bangun dan pergi ke kamar mandi.


Delano hanya tersenyum melihat kegugupan istrinya itu. "Sayangku, cintaku itu memang sangat menggemaskan"


Kebahagiaan yang Delano rasakan saat ini benar-benar belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bagaimana Delano yang bisa lebih tenang karena sudah bisa menikahi Alana, setelah dia mendapatkan banyak rintangan untuk sampai di titik ini.


Delano bangun dan mengambil ponselnya di atas nakas, dia mengecek pesan yang masuk ke m ponselnya itu, sebuah pesan dari orang yang dia suruh untuk mencari tahu keberadaan keluarga Alana, karena sejak saat itu Alana memertanyakan tentang keberadaan keluarganya, Delano langsung berpikir untuk mencari tahu keberadaan keluarga dari istrinya itu.


Namun ternyata isi pesan itu tidak sesuai harapannya. Terlihat foto dimana keluarga Alana yang begitu bahagia saat merayakan ulang tahun Vina, adiknya Alana.


"Sial, mereka benar-benar melupakan istriku"


Melihat itu membuat Delano semakin yakin untuk tidak memberi tahu Alana tentang keberadaan keluarganya. Karena dia tidak mau kalau istrinya itu sedih dan kecewa untuk kesekian kalinya karena keluarganya yang memang tidak pernah peduli padanya.


Kamu akan tetap bahagia bersama denganku, Sayang.


Bersambung