
Alana menyimpan cangkir berisi teh jahe itu di depan Delano yang sedang duduk di meja makan, namun tidak bisa memakan sarapan karena rasa mual yang masih dia rasakan.
"Minum dulu teh ini, siapa tahu bisa menghilangkan rasa mual kamu"
Delano menatap cangkir berisi teh di depannya itu. Delano meminum teh buatan Alana itu. Terasa hangat dan cukup menyegarkan. Delano merasa mualnya juga berkurang setelah meminum teh buatan Alana itu.
"Terima kasih ya Sayang"
Alana hanya mengangguk, dia duduk di samping Delano dan menatap pria itu dengan tatapan yang tidak percaya. Merasa apa yang di alami Delano saat ini memang tidak biasa. Saat seorang pria yang mengalami efek dari kehamilan yang di alami oleh wanita. Tangan Alana mengelus perutnya sendiri.
Apa kamu memang sedang ingin membuat Ayah kamu itu susah ya Nak, sampai kamu membuat Ayah kamu yang mengalami semua gejala pada orang hamil.
"Apa sudah lebih baik?"
Delano mengangguk, dia menyimpan kembali cangkir berisi teh itu di atas meja. Menatap Alana dengan tersenyum. "Terima kasih ya karena kamu masih memperhatikan aku"
Alana tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Bukan karena dia tidak suka dengan perkataan Delano barusan. Tapi karena Alana yang merasa jika dirinya sudah tidak mempunyai hak lagi untuk sekedar memperhatikan Delano. Karena dia hanya seorang wanita yang sekarang sedang mengandung anaknya Delano, tapi bukan istrinya juga.
"Kamu kenapa tidak berangkat bekerja sekarang?"
"Apa kamu tidak melihat jika aku sedang sakit, masa aku masih di suruh bekerja" jawab Delano santai
Alana hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan Delano barusan. Alana berdiri dari duduknya. "Yaudah kalau kamu memang masih mau disini dan tidak akan berangkat bekerja, aku mau ke kamar dulu"
Delano langsung menahan tangan Alana ketika gadis itu sudah siap pergi meninggalkannya di ruang makan ini. "Kita pergi jalan-jalan sekarang, mau?"
Alana menatap tangan Delano yang memegang pergelangan tangannya, lalu dia menatap wajah Delano dengan kerutan di dahinya. "Bukannya kamu sedang tidak enak badan, kenapa malah ngajakin aku untuk pergi jalan?"
Aneh saja, jika berangkat bekerja saja Delano tidak bisa karena alasan dirinya yang sedang tidak enak badan. Tapi Delano malah mengajaknya untuk berjalan-jalan.
"Karena aku sedang sakit, jadi aku itu sedang butuh banyak hiburan. Aku sedang butuh refreshing. Jadi, ayo kita pergi jalan. Kamu segera siap-siap sekarang"
"Tapi..."
"Sudah Sayang, tidak ada tapi-tapian lagi. Kamu juga harus banyak refreshing 'kan, apalagi kamu yang sedang hamil saat ini"
Delano memegang kedua lengan Alana, membalikan tubuh Alana dan mendorong perlahan agar Alana segera melangkah dari ruang makan ini untuk segera bersiap-siap.
"Ganti bajunya sekarang, aku akan menunggu kamu disini"
Akhirnya Alana tidak bisa menolak apapun lagi ajakan dari Delano itu. Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan segera bersiap sesuai dengan perintah Fadil barusan. Sebenarnya Alana mencoba menolak ajakan Delano itu hanya karena dirinya yang ingin menjauhkan diri dari Delano.
Alana ingin menjaga jarak dengan pria itu agar dirinya bisa lebih terbiasa tanpa ada hadirnya Delano dalam hidupnya suatu saat nanti. Karena Alana yakin jika saat ini Delano masih mempertahankannya, karena memang dia yang sedang mengandung anaknya. Jika tidak, untuk apa Delano harus mempertahankan keberadaan Alana, sementara dirinya saja sudah mempunyai seorang istri.
Alana selesai bersiap dan segera menemui Delano kembali. Pria itu juga sudah berganti pakaian dengan dandanan yang casual, membuat dia terlihat lebih muda dari usianya sekarang.
Alana terdiam beberapa saat ketika Delano mengulurkan tangannya pada Alana. Dan karena Alana yang terlalu lama untuk menerima uluran tangan Delano, membuat pria itu kesal dan akhirnya meraih tangan Alana dengan sendirinya dan menggandengnya dengan lembut.
Delano membawa Alana pergi keluar dari Apartemen dengan menggandeng tangan Alaana. Mereka memang persis seperti sepasang suami istri. Alana hanya diam saja, dia masih tidak bisa menyesuaikan detak jantungnya ketika Delano memperlakukan dirinya dengan seperti ini.
Semuanya masih terlalu berat untuk Alana lupakan, karena pada kenyataannya dirinya masih mempunyai perasaan cinta pada Delano. Perasaan cintanya yang tidak pernah berkurang sedikit pun.
"Sayang, aku begitu merindukan kamu"
Alana sedikit terlonjak kaget saat Delano yang berani memeluknya ketika mereka berdua sedang berada di dalam lift. Memang hanya ada mereka berdua di dalam lift itu, tapi tetap saja Alana merasa risih dengan apa yang Delano lakukan ini. Takut jika tiba-tiba akan ada orang lain yang masuk ke dalam lift ini.
"Lepasin Delan, kalau nanti ada orang lain yang masuk bagaimana?"
Delano sama sekali tidak menghiraukan ucapan Alana. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup bahu Alana beberapa kali. "Tidak papa kalau ada orang lain yang melihatnya, karena memang aku ingin seperti ini denganmu. Wajar saja 'kan, jika aku merindukan wanita yang sangat aku cintai ini"
Alana terdiam mendengar ucapan Delano barusan. Kata cinta yang lagi-lagi terucap dari mulut Delano. Alana bukannya tidak percaya jika mungkin saja Delano masih mempunyai perasaan cinta padanya. Namun pernyataan Lerita waktu itu, jelas membuat Alana tidak mungkin untuk tergoda lagi dengan kata-kata cinta yang terucap dari bibir Delano.
Ting...
Ketika pintu lift terbuka, Alana langsung memegang tangan Delano yang melingkar di perutnya dan ingin melepaskan tangan Delano itu. Tapi pria itu malah tetap di posisinya dan tidak membiarkan Alana untuk melepaskan diri dari pelukannya ini.
Seorang ibu dengan dua orang anaknya masuk ke dalam lift. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan Delano, meski pada awalnya dia cukup terkejut ketika melihat Delano dan Alana. Namun ketika melihat perut Alana, Ibu itu langsung yakin jika mereka berdua memang suami istri.
"Maaf ya Bu, istri saya memang sedang manja dan selalu ingin di manja oleh saya. Sekarang saja ingin terus di peluk seperti ini"
Alana langsung mendelik tajam pada Delano yang masih saja memeluknya itu. Dia yang sekarang menjadi kambing hitam dari apa yang Delano lakukan ini. Padahal jelas Delano sendiri yang memeluk Alana dengan sedikit paksaan.
"Iya, tidak papa. Saya mengerti karena memang wanita yang sedang hamil itu selalu ingin di manja oleh suaminya"
"Tuh Sayang, kamu gak perlu malu. Memang begitu kalau wanita yang sedang hamil, jadi kalau kamu ingin cium ya cium saja tidak perlu malu dengan orang lain. Mereka pasti mengerti kok"
Tangan Alana mencubit kecil tangan Delano yang ada di perutnya itu. Alana benar-benar dibuat kesal dan malu sekaligus dengan sikap jahil Delano ini.
Ketika pintu lift kembali terbuka, maka Alana langsung berjalan keluar dengan melepas paksa tangan Delano yang masih memeluknya itu. Tentu saja Delano langsung menyusul Alana.
"Maaf ya Bu, istri saya memang sedang sensitif"
"Iya tidak papa"
"Sayang tunggu aku"
Delano segera mengejar Alana yang sudah keluar dari lift lebih dulu. Sementara Ibu di dalam lift hanya menggeleng kecil dengan tersenyum lucu melihat tingkah keduanya.
Bersambung