My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Ingin Menemui Keluarganya?!



Entah keisengan apa yang membuat Alana ingin sekali mengecek ponsel suaminya disaat Delano yang sedang mandi. Awalnya Alana hanya ingin mengecek beberapa pesan saja yang masuk ke dalam ponsel suaminya itu. Takut jika akan ada pesan yang mencurigakan.


Entahkan kenapa Alana malah semakin posesif seperti ini pada Delano. Padahal jelas jika Delano hanya mencintainya. Tapi entah ini hanya sebuah hormon kehamilan, tapi yang jelas Alana selalu takut kalau sampai suaminya akan tergoda oleh wanita lain di luaran sana.


Tapi Aalana malah menemukan sebuah pesan yang membuat dirinya terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Nomor yang tidak ada namanya itu, mengirim pesan dan sebuah foto. Dimana foto itu adalah foto keluarganya yang terlihat sedang bahagia merayakan ulang tahun adiknya.


Saat ini Alana merasa jika keluarganya memang tidak memperdulikan keberadaannya. Mereka tetap terlihat bahagia meski tanpa Alana disana.


"Sayang.."


Delano langsung mengambil ponselnya, ketika dia keluar dari ruang ganti dan melihat istrinya yang meneteskan air mata dengan tangannya yang memegang ponsel miliknya. Benar saja apa yang di lihat Alana dalam ponselnya itu adalah pesan dari anak buahnya yang belum Delano hapus.


"Sayang, jangan nangis. Kamu tidak pantas menangisi orang-orang yang memang tidak peduli padamu" Delano menghapus air mata Alana yang mengalir di pipinya. Jelas dia tidak suka melihat istrinya menangis seperti itu. Apalagi hanya karena orang-orang yang tidak lagi memperdulikan keberadaan Alana.


Alana memeluk tubuh suaminya yang berdiri di depannya itu. Tangisannya pecah, dia kini mengerti kenapa keluarganya sama sekali tidak pernah mencari keberadaan Alana selama ini. Karena memang mereka tidak pernah peduli pada Alana.


Delano menghembuskan nafas kasar, dia tidak suka melihat kesayangannya ini menangis dengan begitu pilu. Delano mengelus kepala Alana dengan lembut. "Sudah Sayang, jangan menangis lagi. Air mata kamu terlalu berharga untuk menangisi mereka yang tidak penting. Sekarang kamu bersama denganku dan kita akan bahagia bersama"


Meski ucapan Delano itu ada benarnya, tapi tetap saja Aalana merasa sedih saat dia mengetahui kalau keluarganya begitu bahagia tanpa kehadirannya diantara mereka.


"Sayangku, sudah jangan nangis lagi. Aku todak mau kamu menangisi hal yang tidak penting. Abaikan saja mereka, karena kamu sudah bersama denganku dan kira akan bahagia bersama"


Alana mendongak dan menatap wajah suaminya itu. Jelas matanya yang masih terlihat basah, semuanya karena Aalana yang tidak bisa menahan tangisannya. Mau bagaimana pun dia tetap seorang anak yang juga merindukan kasih sayang kedua orang tuanya dan keluarganya. Namun ternyata Aalana hanya seorang anak yang terlantar dan tidak di perdulikan oleh keluarganya. Membuat Alana harus menerima kenyataan itu dan kesedihan yang mendalam dalam dirinya.


"Apa salah aku, kenapa mereka tidak memperdulikan aku? Apa selama ini aku menjadi anak yang kurang menurut pada mereka?"


Delano langsung menggendong istrinya dan menaikannya ke atas tempat tidur. Delano tidak mau sampai istrinya terus kepikiran tentang keluarganya hingga berpengaruh pada kesehatannya.


"Ada aku yang akan selalu bersama denganmu"


Delano memeluk Alana di atas tempat tidur dengan terus memberikan dia kenyamanan agar istrinya itu tidak terus bersedih.


"Sudah ya, kalau kamu terus menangis aku takut akan berpengaruh pada kesehatan kamu. Ingat calon bayi kita Sayang, dia pasti tidak akan suka melihat Ibunya bersedih seperti ini"


Alana mengangguk, dia juga baru mengingat jika emosi dalam dirinya akan berpengaruh juga pada bayi dalam kandungannya. Hal itu yang membuat Alana mencoba menenangkan dirinya dan tidak menangis lagi. Dia mencoba menerima jika memang sudah seperti ini keadaannya.


#######


Pagi ini Alana terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Delano, jika dirinya sudah harus menerima semua kenyataan kalau keluarganya memang tidak lagi peduli padanya.


"Sayangku lagi masak apa?" Delanao memeluk Alana dari belakang, disaat wanitanya masih sibuk dengan masakan di atas wajan.


"Iya, sebenarnya aku sudah ingin bekerja di rumah saja. Kehamilan kamu yang semakin besar, harusnya aku menunggu kamu di rumah saja. Takutnya kamu mau lahiran dan aku tidak ada di rumah"


"Kan masih ada Mbak, kamu gak perlu khawatir. Lagian HPL juga masih lama, mungkin masih satu bulan lebih lagi"


Delano hanya mengangguk dengan wajahnya yang masih terlihat belum tenang. Sebenarnya hatinya cukup was-was ketika dia mengingat kalau istrinya sudah mendekati waktu lahiran. Banyak hal yang Delano takutkan. Tapi mau bagaimana pun juga, dia tidak mungkin terus menunjukan kekhawatirannya pada Alana. Karena pastinya istrinya itu malah kepikiran dan mungkin akan berpengaruh pada kehamilannya juga.


"Yaudah, tapi kalau misalnya ada apa-apa, kamu harus segera menghubungi aku"


"Iya Sayang"


Selesai sarapan, Alana langsung kembali ke kamar dan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya dan juga peralatan untuk mandi. Alana menikmati perannya menjadi seorang istri, dia begitu bahagia bisa menjalani hari-harinya bersama dengan Delano. Pria yang dia cintai selama ini.


"Sayang, nanti siang aku mau ke rumah Daddy dulu. Rumah itu akan aku jual saja, karena sayang juga tidak ada yang menghuni"


Alana mengangguk, dia memakaikan kemeja pada suaminya dan mengancingkannya. "Apa kamu yakin ingn menjual rumah itu? Kan pastinya banyak kenangan masa kecil kamu selama disana"


Delano terkekeh mendengar ucapan Alana barusan. Karena dirinya tidak terlalu ingin mengingat tentang masa kecilnya itu. "Masa kecil aku hancur ketika Daddy memilih wanita lain dan malah mengkhianati Mommy. Dan sejak saat itu aku tidak mau mengingat tentang masa kecil ku lagi"


Alana mendongak dan menatap wajah suaminya yang terlihat sangat sedih. Alana menangkup pipi suaminya, dia sedikit berjinjit dan memberikan kecupan lembut di kedua pipi suaminya dan juga dua kali kecupan di bibirnya.


"Sayang, jangan di ingat-ingat lagi tentang masa lalu kamu yang menyakitkan. Kamu cukup bahagia bersama denganku saja"


Delano tersenyum mendengar itu, memang hanya Alana yang bisa mengerti dirinya dan keadaannya. Delano mencium Alana dengan lembut, memberikan segala cinta yang dia punya hanya untuk Alana.


"Aku mencintaimu, Alana"


"Iya Sayang, aku juga"


Setelah mengantarkan suaminya pergi bekerja. Alana kembali masuk ke dalam rumah. Hanya duduk diam di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Hingga Alana mengingat satu hal.


"Aku sudah mencatat alamatnya, apa aku datang saja kesana ya. Tapi.."


Meski dirinya mencoba untuk menerima semuanya, tapi hatinya tetap ingin mengetahui secara langsung kenapa keluarganya itu sampai pergi meninggalkan Alana sendiri. Akhirnya Alana nekat untuk menemui mereka tanpa sepengetahuan suaminya, karena Delano sudah pasti tidak akan pernah mengizinkannya.  


Maafkan aku Sayang, tapi aku tetap ingin bertemu dengan mereka.


Bersambung