
Pagi ini Alana terbangun dengan tubuh yang masih polos. Dia tersenyum melihat suaminya yang juga masih terlelap dengan begitu tenang. Terkadang Alana sering berpikir jika semua ini tidak akan pernah terjadi, karena semua yang telah dia lewati terlalu tidak memungkinkan untuk bisa mereka bersatu kembali seperti ini. Namun ternyata takdir Tuhan memang lebih indah dari yang dia duga.
"Sayang, ayo bangun. Ini sudah siang" bisik Alana di telinga suaminya, sambil mengelus pipi suaminya. Alana juga mencium pipi suaminya untuk membangunkan suaminya dari tidurnya.
Delano mulai menggeliat pelan, dia tersenyum ketika melihat wajah polos istrinya yang tanpa make up itu. Hal yang paling Delano sukai adalah ketika dia bangun tidur dan bisa melihat wajah alami istrinya yang tanpa polesan make up sedikit pun.
Cup..
Delano mencium pipi istrinya dengan begitu gemas. Dia senang sekali menggoda istrinya ini, rasanya dia selalu bahagia ketika dia bersama dengan istrinya dalam hal apapun itu.
"Sayang, geli ih kamu apaan si?"
Delano hanya tertawa mendengar itu, tapi dia tetap mencium pipi istrinya dan tangannya yang mulai merayap kemana-mana di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
Mata Alana langsung terbelalak ketika merasakan tangan Delano yang mulai ankal, dia memukul tangan suaminya yang mulai kemana-mana itu. Tapi yang tangannya di pukul malah tertawa dengan bahagia.
"Sayang jangan macam-macam deh, aku sedang hamil"
Delano menatap lekat istrinya dengan tersenyum lucu melihat wajah istrinya itu. "Memangnya kalau kamu sedang hamil? Kan aku hanya ingin mengelus kaki kamu saja"
Plak..
Alana kembali memukul tangan suaminya itu, kesal juga dengan suaminya yang selalu saja menggoda dirinya itu. "Awas ah, aku ingin mandi dulu"
"Mau mandi bareng gak?"
"Enggak!"
Alana langsung bangun dan turun dari atas tempat tidur, menyambar piyama handuk yang tersampir di atas sofa. Langsung memakai baju piyama handuk dan segera berlalu ke kamar mandi untuk segera mandi sebelum suaminya akan kembali menerkamnya.
Delano kembali menjatuhkan kepalanya ke tas bantal, memeluk bantal bekas tidur istrinya dan menghirup aroma istrinya. Dia tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu dengan apa yang dia lakukan. Dan hal itu membuat Delano gemas dengan sikap istrinya itu.
Alana menyiapkan sarapan untuk suaminya setelah dia selesai mandi dan berganti pakaian. Alana baru saja selesai menyiapkan sarapan, suaminya datang dengan wajah yang lebih segar dan sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Sayang.." Delano memeluk tubuh Alana dari belakang.
"Ayo sarapan, kamu mau ke Kantor 'kan sekarang"
Delano mengecup bahu istrinya dengan lembit, tangannya mengelus perut besar Alana yang terus bergerak karena tendangan dari calon anaknya dari dalam kandungan istrinya itu.
"Sayang, kalau misalkan ternyata Ayah kamu itu masih hidup bagaimana?"
Sebenarnya Delano sengaja mengatakan itu karena dia ingin menyampaikan tujuannya dengan memberikan pertanyaan itu. Delano ingin melihat bagaimana reaksi Alana tentang pertanyaannya itu.
Alana langsung berbalik dan menatap suaminya dengan wajah yang bingung sekaligus terkejut dengan ucapan suaminya itu.
Delano mengecup bibir istrinya yang terus nyerocos dengan segala pertanyaan yang pastinya di ikuti dengan perasaan cemas dan rasa penasaran yang membuncah.
"Sayang, aku 'kan bertanya kalau misalkan. Aku juga belum menemukan keberadaan Ayah kamu"
Mata Alana sudah mulai berkaca-kaca, Alana sudah sangat berharap jika suaminya bisa menemukan keberadaan Ayah kandungnya itu. Tapi ternyata tidak ada kabar apapun dari suaminya itu, membuat Alana sedikit kecewa dengan hal itu.
Sudah seperti dugaan Delano, dimana dia sudah yakin jika istrinya akan sangat shock jika memang mengetahui tentang kebohongan yang di lakukan oleh Ibunya. Baru dengan pertanyaan Delano yang seperti ini saja, dia sudah ingin menangis.
Delano mengusap air mata istrinya yang menetes begitu saja. Delano mengecup kedua mata istrinya itu. "Jangan pernah menangis Sayang, aku tidak mau melihat air mata kamu ini jatuh. Karena sudah banyak air mata yang kamu keluarin selama ini karena aku yang tidak bisa menjaga kamu"
Rasa bersalah dalam diri Delano atas apa yang telah terjadi pada istrinya. Merasa jika apa yang telah terjadi juga karena dirinya yang tidak bisa bertindak tegas dalam hubungan mereka pada saat itu.
Alana mengangguk dengan wajahnya yang masih sedih. Tidak bisa dia menyembunyikan rasa sedihnya dari suaminya.
"Sayang, ayo sarapan"
Delano mengangguk, dia menyesal sekali karena telah memberikan pertanyaan seperti itu pada istrinya. Membuat Alana harus meperlihatkan wajah sedihnya, dan Delano tidak suka itu.
"Sayang, kamu jangan sedih begitu dong. Kan aku jadi menyesal karena sudah bertanya seperti itu sama kamu"
Alana mendongak dan tersenyum melihat suaminya. Dia mencoba untuk menenangkan suaminya agar tidak terus merasa bersalah karena sudah memberikan pertanyaan itu pada Alana.
"Sayang, aku tidak papa. Kamu jangan merasa bersalah dengan pertanyaan kamu itu. Akunya saja yang sedang senstif sampai mendengar pertanyaan itu saja sudah sampai sedih seperti ini"
Delano meraih tangan istrinya yang berada di atas meja, menggenggamnya dengan lembut. "Kamu tidak salah Sayang, aku mengerti perasaan kamu. Maaf ya karena akunya aja yang tidak mengerti keadaan kamu sampai harus bertanya seperti itu"
Alana tersenyum, dia mengecup tangan suaminya yang menggenggamnya itu. "Enggak papa Sayang, aku baik-baik saja kok"
Alana hanya sedang tidak ingin membahas tentang Ayah kandungnya yang masih belum dia ketahui dimana keberadaannya. Dan kalau pun Ayahnya sudah meninggal, Alana juga ingin mengetahui dimana makam Ayahnya itu. Karena sampai sekarang Alana tidak benar-benar mengetahui dimana dan siapa Ayahnya.
"Yaudah, kalau gitu aku pergi kerja dulu ya Sayang"
Delano berdiri dan mengecup kening istrinya, sebelum dia berlalu untuk pergi bekerja. Alana hanya mengangguk. Dia kembali ke kamarnya setelah suaminya pergi bekerja.
Alana duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Menatap taman belakang dengan sinar matahari yang cerah pagi ini. Alana mengelus perutnya, tendangan dari dalam perutnya membuat Alana senang.
"Sebenarnya siapa Ayah kandungku? Kenapa Ibu tidak benar-benar cerita tentang Ayahku itu. Padahal aku sangat ingin tahu dimana Ayah. Karena selama ini aku tidak benar-benar mendapatkan kasih sayang Ayah"
Sosok anak perempuan yang sedang merindukan kasih sayang seorang Ayah. Karena sejak kecil Alana tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang dari seorang Ayah.
Bersambung