My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Bertemu Vina



Satu bulan berlalu sejak meninggal Ibu, keadaan Alana juga sudah lebih baik. Dia sudah tidak terllau bersedih karena sudah mencoba mengikhlaskan kepergiaan Ibu. Alana tidak bisa terus menyalahkan keadaan, karena mungkin memang sudah takdir Ibu harus meninggal dalam keadaan keluarganya yang sedang kacau.


Hasil otopsi juga tidak menemukan tanda-tanda jika Ibu memang di bunuh atau melakukan bunuh diri. Karena ternyata Ibu meninggal karena sakit yang di deritanya. Murni karena itu dan bukan hal lain.


"Sayang, dasi aku dimana ya"


Alana yang sedang membaca majalah itu langsung berdiri dan berjalan ke ruang ganti. Mengambilkan dasi yang di cari oleh suaminya. Langsung memasangkannya di leher Delano.


"Hari ini pulang cepat?"


"Kayaknya agak malam deh, aku banyak pekerjaan hari ini. Ada beberapa pertemuan juga. Kenapa memangnya?"


Alana menggeleng pelan, dia menepuk dada suaminya untuk merapikan jas yang di pakainya. "Hanya bertanya saja. Oh ya, aku izin pergi ke supermarket ya hari ini. Ada yang mau di beli"


"Sama siapa?"


Alana menghela nafas pelan saat nada bertanya dengan penuh rasa cemburu itu terdengar dari suaminya. Terkadang Alana heran dengan Delano yang selalu merasa cemburu berlebihan padanya. Padahal sekali pun, Alana tidak pernah berniat untuk berpaling darinya.


"Sama supir Sayang, apa? Mau cemburu juga sama supir? Lagian aku juga gak akan bawa Aini, hanya sebentar saja perginya"


"Oh yaudah" Delano berlalu keluar dari ruang ganti setelah dia mendengar ucapan istrinya. Alana hanya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan suaminya itu.


Delano menggendong Aini di dalam box bayi dan membawanya untuk duduk di sofa. Sebelum berangkat bekerja memang dia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan putrinya ini. Selalu senang dengan perkembangan putrinya.


"Sayang ihh, Aini baru saja tidur lagi setelah mandi. Kamu malah ganguin dia" kesal Alana karena suaminya yang tidak tahu waktu dan tempat jika ingin mengajak main anaknya.


"Dia bangun kok, tuh lihat malah ngajak main sama aku"


Alana hanya menggeleng pelan melihat tingkah suaminya itu. Tapi meskipun begitu tentu Alana sangat bersyukur karena ternyata suaminya begitu perhatian dan penyayang. Suami yang siaga dan selalu membantu Alana dalam mengurus Aini. Delano memang sangat berperan penting dalam rumah ini.


"Sayang, atau nanti siang mau sambil aku antar makan siang ke Kantor?"


Delano mendongak dan menatap istrinya yang sedang membereskan tempat tidur. "Boleh, aku tidak akan pesan makan siang diluar kalau kamu mau datang untuk mengantarkan makan siang. Lagian kamu juga jarang sekali datang ke Kantor selama kamu menikah denganku. Apa kamu tidak takut kalau suami kamu ini masih di anggap pria belum menikah, karena jarang melihat istrinya datang menemuinya ke Kantor"


"Yaudah, nanti aku akan datang kesana"


Alana menjawab sambil mendengus kesal, karena dirinya juga tidak mau sampai apa yang diucapkan oleh Delano, benar terjadi. Sudah sejauh perjuangan mereka untuk bisa sampai di titik ini. Apa akan tergoda lagi dengan orang ketiga? Rasanya tidak mungkin.


########


Alana pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan supir. Tidak membawa Aini, karena akan sedikit sulit. Alana sudah menyetok banyak asi di rumah dan menitipkan Aini pada pengasuhnya.


Mendorong kereta belanja dan menyusuri lorong di supermarket itu. Mengambil beberapa barang yang memang dia perlukan. Alana sedang melihat-lihat sabun bayi untuk anaknya. Memilih wangi yang cocok di penciumannya, sampai seseorang tidak sengaja menyenggol lengannya hingga sabun bayi yang sedang dia pegang jatuh.


"Maaf, saya tidak sengaja"


Alana mengambil lagi sabun itu dan menatap seorang pria muda itu. "Iya tidak papa"


"Sayang.."


Alana menoleh pada suara itu, dan dia tidak menyangka jika yang memanggil pria itu sayang adalah adiknya, Vina. Adik yang selama ini dia cari-cari. Namun tidak juga dia temukan.


Vina menatap Alana dengan wajah datar, dia melangkah ke arahnya. Bukan untuk menemui Kakaknya, tapi untuk menemui kekasihnya.


"Ayo kita pergi sekarang"


Vina menarik tangan pria itu untuk segera pergi dari hadapan Alana, namun Alana langsung menahan tangan Vina. "Vina, kamu mau kemana? Kakak ingin bicara sebentar"


"Lepas, kita sudah bukan saudara lagi"


Alana terdiam mendengar ucapan Vina, pastinya adiknya itu marah dan kecewa padanya. Apa yang pernah dia katakan pda Vina, memang keterlaluan. 


"Vina, maafkan Kakak. Kakak tidak bermaksud berkata seperti itu"


Vina tidak menghiraukan ucapan Kakaknya, dia berlalu begitu saja dari hadapan Alana. Merangkul lengan kekasihnya itu.


Alana segera mendorong kereta belanjanya dan pergi ke arah kasir. Menatap kasir sebelahnya dimana Vina juga masih mengantri disana. Alana ingin bicara dengan adiknya. Apalagi ketika dia melihat pria yang sedang bersama dengan adiknya itu terlihat bukan pria yang baik. Bukan apa-apa, bahkan penampilan anaknya juga sangat berubah.


Alana berlari keluar pusat perbelanjaan, dia mengejar Vina yang sudah keluar lebih dulu bersama dengan kekasihnya. "Vina, tunggu Kakak"


Vina yang hampir naik ke atas motor menoleh pada Alana yang berlari ke arahnya. "Mau apalagi si Kak, aku mau pergi bersama dengan pacarku"


"Vina, kamu masih gadis. Pulang ke rumah Kakak Vina, kamu tidak sepantasnya tinggal di rumah pria ini. Kalian belum menikah"


"Apasi Kak, aku tidak mau pergi ke rumah Kakak lagi. Jangan ikut campur urusan aku"


"Vina, dengarkan Kakak dulu"


"Lepas!"


Dengan kasar Vina menghempaskan tangan Kakaknya hingga Alana jatuh keatas tanah. Vina segera naik ke atas motor kekasihnya dan pergi meninggalkan Alana.


Alana menatap kepergian adiknya dengan helaan nafas panjang. Mungkin memang salah Alana yang terlalu kasar pada adiknya hingga mengatakan hal yang membuat kecewa adiknya itu.


"Aku hanya takut Vina akan kenapa-napa bersama dengan pria itu. Aku takut akan ada yang terjadi diantara Vina dan pria itu"


Alana tidak bisa membiarkan Vina terus bersama pria itu. Dia tidak suka melihat Vina yang terlalu dekat dengan pria itu.


"Aku harus bisa menemukan Vina dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya. Aku mempunyai firasat buruk pada pria itu"


Alana kembali masuk ke dalam mobil, dia meminta supir untuk mengikuti Vina. Alana harus mengetahui dimana Vina tinggal selama ini, dia tidak mau kalau sampai Vina terus bersama dengan pria itu dan akhirnya akan ada kejadian yang tidak dia inginkan.


"Terus ikut Pak, jangan sampai lepas. Itu adik saya yang saya cari selama ini. Dan sekarang saya tidak bisa jika harus melepaskannya begitu saja"


"Baik Nona, saya akan mencoba untuk mengejarnya"


Mobil dan motor itu saling kejar-kejaran di jalanan. Sebenarnya hanya mobil yang di tumpangi oleh Alana yang mengejar motor yang di tumpangi oleh Vina.


Bersambung