My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Apa Tidak Ada Yang Ingin Diceritakan?



"Kamu kenapa malah mempermalukan aku di lift tadi? Kamu sengaja? Iya?!"


Delano tersenyum mendengar itu, rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar omelan Alana  seperti saat ini. Entah kenapa sejak dulu Delno memang senang sekali mengganggu Alana dan menggodanya. Karena wajah kesal yang cemberut itu selalu membuat Delano senang melihatnya.


"Ya gak papa Sayang, Ibu itu pasti mengerti dan lebih tahu bagaimana wanita yang sedang hamil yang memang selalu ingin di manja"


Alana memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersidekap dada.  Alana benar-benar kesal dengan kelakuan Delano yang tidak berubah sejak dulu, selalu saja iseng dan senang sekali menjahili Alana.


"Aku gak mau pergi, kalau memang kamu mau pergi, sendiri saja. Aku mau kembali ke Apartemen saja"


Delano langsung menarik lengan Alana ketika dia sudah melangkah ingin pergi dari sana. Menarik tangan Alana hingga gadis itu jatuh dalam pelukan Delano, lagi. Alana benar-benar tidak bisa berkutik lagi ketika dia berada dalam pelukan Delano saat ini. Semakin dia dekat dengan Delano seperti ini, maka debaran di jantungnya semakin kencang.


"Yaudah, aku minta maaf ya Sayang. Sekarang ayo kita pergi ya, jangan cemberut gitu terus dong"


Alana tidak menjawab, namun dia juga tidak bisa menolak ajakan Delano ini. Pada kenyataannya Alana masih saja lemah dengan kelembutan Delano saat ini. Hatinya tetap gampang luluh jika menyangkut Delano.


"Ayo masuk mobil, kita akan senang-senang seharian ini" Delano membukakan pintu mobil untuk Alana. Hari ini dia memang akan membuat Alana senang dan mungkin akan segera bisa menerima Delano kembali untuk bisa menikahinya.


Di perjalanan, Alana lebih banyak diam dan menatap keluar jendela. Hanya menimpali ucapan Delano dengan beberapa kata singkat saja. Alana hanya sedang kembali mencoba untuk membuat hatinya tidak kembali luluh dengan Delano. Semua perhatian dan kelembutan pria itu padanya. Karena saat ini Alana sadar jika Delano memang sudah bukan miliknya lagi. Delano sudah menikah dan mempunyai istri yang pastinya dia cintai.


Bahkan sampai saat ini, dia tidak bercerita apapun tentang pernikahannya dengan Lerita. Mungkin karena dia tidak mau aku merasa tidak enak, atau memang dia ingin sengaja menyembunyikan pernikahannya dengan Lerita agar aku tetap mau bersamanya.


Hah...


Alana menghembuskan nafas berat dengan apa yang ada di fikirannya saat ini. Merasa jika Delano memang sedang sengaja menyembunyikan tentang pernikahannya dengan Lerita agar Alana masih mau bersama dengannya.


"Delan, apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku saat ini?"


Delano menoleh pada Alana, saat ini mereka sedang berada di lampu merah. Jadi Delano masih mempunyai waktu sampai lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.


"Apa? Aku rasa tidak ada yang aku sembunyikan dari kamu. Aku sudah menceritakan semuanya tentang aku pada kamu sejak kita pacaran dulu. Jadi apa lagi yang ingin kamu dengar dari aku?"


Alana menatap Delano dengan lekat, rasanya Alana masih tidak percaya kalau Delano masih saja menyembunyikan tentang pernikahannya dengan Lerita saat ini.


"Yang baru-baru ini terjadi, apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku?"


Delano terdiam beberapa saat, memikirkan hal apa yang belum dia ceritakan pada Alana. Selain tentang hidupnya yang kacau sejak Alana pergi meninggalkannya. Apa mungkin Alana memang ingin mengetahui tentang hal itu ya.Gumamnya dalam hati.


"Sebenarnya selama kamu pergi aku..."


Tin..tin..


Suara klakson kendaraan dari belakang mobil yang di tumpangi oleh Delano dan Alana membuat Delano menghentikan ucapannya dan segera melajukan mobilnya agar orang-orang yang tidak sabar ingin melaju itu tidak terus membunyikan klakson kendaraan mereka yang memekakkan telinga. 


Sampai di sebuah mall yang cukup  besar di kota ini. Delano menggandeng tangan Alana dengan begitu lembut dan berjalan masuk menyusuri mall.


"Kamu mau beli apa? Beli pakaian ya, aku rasa pakaian kamu sudah mulai tidak muat deh dengan perut kamu yang semakin besar itu"


Sebenarnya bukan itu juga alasan Delano ingin membelikan pakaian baru untuk Alana. Karena pakaian Alana yang sekarang sudah hampir tidak layak pakai lagi. Alana yang terlihat berbeda sekali dengan penampilan dirinya yang dulu.


"Terserah kamu saja"


Jawban Alana yang ketus dan sedikit dingin itu membuat Delano jadi bingung sendiri. Salah apalagi aku ini, kenapa dia terlihat kesal begitu? Gumamnya.


"Kamu kenapa? Kok kayak yang kesal begitu? Apa karena masalah di lift tadi? Aku minta maaf deh Sayang, kalau memang kamu masih kesal dengan kejadian di lift tadi"


Alana hanya diam, sebenarnya bukan hal itu yang membuat dia kesal saat ini. Tapi karena Alana yang sadar jika Delano memang sudah bukan lagi miliknya, Delano yang ternyata memang sudah menikah dengan Lerita.


Mau Alana mencoba untuk biasa saja, tapi hatinya tetap tidak bisa di bohongi kalau dia masih merasa sangat cemburu pada Delano saat membayangkan apa saja yang sudah di lakukan Delano bersama Lerita. Hatinya tetap cemburu.


"Kamu mau beli baju yang mana?  Beli saja yang kamu suka"


Alana menatap deretan baju di butik ini, rasanya sudah lama sekali dia tidak membeli pakaian seperti ini. Pakaian yang memang benar-benar dia suka dan dia inginkan. Karena selama beberapa bulan ini, hidup Alana benar-benar sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dia jalani selama ini.


Tangan Alana menyentuh deretan baju itu, semuanya terasa lembut di tangannya. Membuat Alana merasa ingin menangis karena baru sekarang lagi dia bisa merasakan bahan halus dari pakaian yang selalu membuatnya nyaman selama ini.


"Aku beli yang ini saja"


Delano menatap Alana yang memegang satu gaun berwarna coklat muda itu. Dia berjalan mendekat pada Alana. "Yang lainnya? Kenapa cuma satu saja?"


Alana menggeleng pelan, meski dia benar-benar merindukan pakaian-pakaian ini. Tapi selama beberapa bulan ini dia mengalami banyaknya kesulitan, membuat Alana sadar jika dirinya memang harus lebih banyak bersyukur. Karena masih banyak di luaran sana yang bahkan pakaiannya lebih lusuh dari yang Alana gunakan saat ini. Alana mulai mengerti jika tidak harus mahal untuk sebuah kenyamanan.


"Ini saja"


Delano mengambil baju di tangan Alana dan juga mengambil lagi tiga gaun disana sebelum dia melakukan pembayaran. Karena Delano ingin Alana selalu tampil baik setiap saat.


"Delan, kenapa beli baju banyak sekali.  Baju aku di rumah juga masih ada"


Delano menggandeng Alana keluar dari butik dengan satu tangan menenteng paper bag.  "Tidak papa, mumpung kesini saja"


Alana tidak bisa berbuat apapun, pada akhirnya dia hanya mengikuti Delano yang membawanya untuk membeli sandal dan sepatu juga tas.Barulah mereka makan siang setelah apa yang Delano ingin belikan untuk Alana sudah dia dapatkan.


Bersambung