My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Masuk Angin?!



Pagi ini Alana merasa perutnya yang tidak nyaman. Mual dan begah yang dia rasakan. Membuat dia terlihat lesu dan tidak ingin melakukan apapun. Ketika Alana pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan suaminya pun, dia tidak ingin.


"Sayang, kamu sakit ya? Bagaimana kalau kita ke Dokter saja"


Alana menggeleng pelan, dia hanya merasa tidak enak badan saja. "Mungkin aku hanya masuk angin saja, kamu tidak usah khawatir"


"Yakin?"


Tentu saja Delano sangat khawatir dengan keadaan istrinya ini. Tiba-tiba saja Alana tidak mau makan dan terlihat sangat lesu. Delano takut jika istrinya sedang sakit yang tidak dia sadari penyakitnya.


"Iya Sayang, aku hanya sedang tidak enak badan saja. Nanti istirahat sebentar dna minum paracetamol pasti sembuh kok"


Delano berdiri dan menghampiri istrinya, dia mengelus kepala Alana lalu memberikan kecupan disana. "Yaudah kalau gitu aku pergi kerja dulu ya, hari ini juga ada beberapa pertemuan dengan rekan kerja. Jadi, aku tetap harus berangkat ke Kantor. Kamu baik-baik ya di rumah"


Alana mendongakkan wajahnya, menatap Delani yang berdiri di sampingnya. "Sudah kamu pergi bekerja saja. Lagian aku juga hanya tidak enak badan biasa, tidak ada hal yang serius. Kalaupun ada apa-apa, aku akan hubungi kamu"


"Beneran ya, awas saja kalau sampai kamu tidak cepat menghubungi aku kalau memang ada sesuatu terjadi pada kamu"


"Iya, aku akan langsung menghubungi kamu"


Akhirnya meski sedikit cemas dengan keadaan istrinya, Delano tetap harus pergi bekerja hari ini. Tidak mungkin juga dia tidak pergi ke Perusahaan sementara hari ini banyak agenda penting.


Alana duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah ini. Bersyukur karena hari ini Aini begitu anteng bersama pengasuhnya, tidak rewel dan terus ingin bersama dengan Alana. Sementara sekarang ini keadaan Alana sedang kurang sehat.


"Kak"


Alana menoleh pada adiknya yang berdiri di samping sofa yang dia duduki ini. "Iya Vin, kamu kok gak kuliah?"


"Kuliah siang Kak..." Vina duduk di samping Alana. "...Kakak kenapa? Kok wajahnya pucat begitu"


"Kakak lagi tidak enak badan Vin, tapi tidak papa kok. Mungkin hanya masuk angin saja"


Vina mengangguk mengerti, dia mengambil remot televisi dan menyalakannya. Mencari-cari acara televisi yang menarik.


"Jangan-jangan Kakak hamil lagi"


Seketika Alana langsung menoleh pada adiknya itu. Dia tertawa pelan mendengar ucapan Vina, meski dia tetap kepikiran dengan ucapan Vina barusan.


"Ya, gak mungkinlah Vin. Aini saja baru pas satu tahun masih satu minggu lagi. Masa Kakak sudah hamil lagi"


"Ya bisa aja 'kan? Lagian Kakak juga tidak memakai kontrasepsi, kemungkinan hamil lagi itu sangat besar"


Alana terdiam, tangan mengelus perutnya pelan. Merasa tidak percaya kalau memang dia hamil lagi. Tapi apa yang di ucapkan oleh adiknya juga ada benarnya.


Tapi masa aku hamil lagi?


######


Siang ini Delano baru saja keluar dari ruang meeting. Dia masuk ke dalam ruangannya, segera mengambil ponsel dan menghubungi istrinya. Selama meeting berlangsung, yang ada dalam pikiran Delano adalah istrinya yang tadi pagi mengeluh tidak enak badan. Delano langsung melakukan panggilan video bersama istrinya itu.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang?"


Alana yang sedang tiduran di atas tempat tidur, hanya tersenyum pada suaminya itu. Terlihat wajahnya yang masih pucat.


"Tidak usah, aku sudah lebih baik kok. Lagian ini hanya karena masuk angin saja, tidak papa"


Delano menghela nafas pelan, sia jelas melihat bagaimana Alana yang sangat pucat. Menandakan jika istrinya itu memang sedang tidak baik-baik saja. Namun Alana tetap keras kepala ketika Delano mengajaknya ke Dokter.


"Kalau besok masih seperti ini, pokoknya aku tidak mau ada penolakan lagi. Kita ke rumah sakit"


Alana menghela nafas pelan, dia jelas melihat wajah suaminya yang sangat dingin itu di layar ponselnya. Jelas jika sudah seperti ini, maka Delano memang sedang tidak ingin di bantah"


"Iya deh iya, tapi aku sudah minum obat barusan. Jadi pasti akan segera sembuh kok"


Cukup lama mereka berbincang hingga semua terhenti ketika karyawan Delano datang untuk mengantarkan pesanan makan siang untuknya.


"Yaudah, kamu makan dulu ya. Semangat kerjanya ya Sayang"


"Iya, kamu juga makan"


"Iya"


Alana mematikan sambungan panggilan video itu. Dia menjatuhkan ponselnya di sampingnya, dan kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Alana merasa tubuhnya sangat lemas dan lelah, hingga tidak ingin melakukan apapun.


Ketika malam ini Delano pulang dari Kantor, dan dia tidak menemukan istrinya di ruang tengah. Padahal disana ada Vina dan Aini, juga pengasuh Aini yang sedang menonton televisi.


"Vina, Kakak kamu dimana ya?"


Vina menoleh pada Kakak iparnya itu, dia juga merasa khawatir dengan keadaan Kakaknya itu yang sejak sore tadi tidak keluar lagi dari kamar. Sudah Vina panggil, tapi dia hanya bilang sedang ingin istirahat saja.


"Kakak di kamar, sejak tadi sore tidak lagi keluar kamar. Katanya ingin istirahat saja. Kak Alana juga tidak makan siang"


Mendengar itu semakin membuat Delano khawatir dan cemas dengan keadaan istrinya. Dia segera ke kamarnya untuk melihat keadaan Alana. Ketika Delano membuka pintu, dia melihat Alana yang sedang tiduran di atas tempat tidur.


Delano berjalan ke arahnya, duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala istrinya yang sedang terlelap itu. Suhu tubuh Alana memang terasa cukup tinggi dari suhu normal biasanya.


"Sayang.."


Alana mengerjap pelan, dia tersenyum ketika melihat suaminya. Alana beringsut untuk memeluk Delano, kepalanya dia letakan di atas paha Delano dengan tangan yang melingkar di pinggang pria itu.


"Sayang, sudah pulang ya"


Delano mengelus kepala istrinya itu. "Katanya kamu tidak makan siang, kenapa? Kamu 'kan lagi sakit, kalau tidak makan nantinya akan semakin sakit"


Alana mengeratkan pelukannya, wajahnya menempel di perut Delano. Menghirup aroma tubuh suaminya. "Aku sedang tidak ingin makan, tidak berselera saja"


"Sekarang makan yuk, kamu harus makan biar cepat sembuh"


Alana menggeleng pelan, dia memang sedang tidak ingin makan apapun saat ini. Selera makannya sedang hilang. "Besok saja, aku sedang tidak ingin makan"


Delno menghela nafas pelan, bingung juga dengan keadaan istrinya yang seperti ini. "Besok kita ke rumah sakit, tidak ada jenis penolakan apapun lagi"


Alana hanya mengangguk saja, meski sebenarnya dia tidak ingin pergi ke rumah sakit, karena dia merasa jika sakitnya ini tidak parah. Namun Alana juga tidak bisa membantah ucapan suaminya itu. Apalagi saat Delano yang sudah menekan nada ucapannya. Sudah pasti dia sedang tidak ingin di bantah sekarang ini.


Bersambung