My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Tentang Vina Dan Kekasihnya?!



Delano menatap istrinya yang sudah terlelap di sampingnya. Dia tidak bisa tertidur karena memang masih ada yang harus dia kerjakan. Delano mengambil ponselnya dan dia keluar ke balkon kamar.


Delano duduk di kursi yang ada di balkon kamar. Mengotak-ngatik ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Hallo, tolong cari tahu tentang adik istrinya saya dan pacarnya"


"Baik Tuan"


Bukan tentang Delano yang peduli pada Vina, tapi hanya karena dia tidak ingin istrinya terus kepikiran tentang adiknya itu. Delano hanya ingin membantu mencari info tentang adik dari istrinya itu. Terkadang Delano berpikir kenapa istrinya harus tetap memikirkan tentang Vina yang jelas tidak pernah peduli padanya. Tapi memang begitulah sifat baik istrinya.


Delano kembali masuk ke dalam kamar, berbaring di samping istrinya. Memeluk istrinya dengan hangat.


Dan pagi ini ketika dia terbangun melihat istrinya yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Delano tersenyum melihat itu. Delano menyangga kepalanya dengan satu tangannya yang bertumpu pada bantal. Menatap istrinya dengan senyuman bahagia.


"Mau kemana, sudah cantik pagi-pagi gini?"


Alana menoleh pada suaminya, dia tersenyum. "Hari ini kamu libur 'kan?"


"Iya, kamu mau kemana memangnya?"


Delano sudah mengira jika istrinya sudah bertanya seperti itu. Maka memang dia sedang ingin pergi jalan-jalan bersama dengannya.


Alana tersenyum, dia mendekati Delano dan mencium pipi suaminya. "Sayang, aku ingin pergi ke mall ya. Mau beli sesuatu, scin care aku habis. Beliin ya. Hehe"


Delano hanya terkekeh mendengar itu, dia merasa gemas dengan wajah istrinya yang seolah sedang membujuk Delano untuk membelikan dia sesuatu. Delano mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Makanya kamu pegang kredit card dari aku ya"


Delano merasa bingung dengan istrinya yang tidak mau dia berikan fasilitas yang sesungguhnya. Karena tidak pernah mau jika Delano memberikan kredit card padanya. Alana yang hanya minta uang untuk pegangan dia saja.


"Sayang, aku malas pegang kartu seperti itu. Karena memang aku tidak mau ribet, nantinya malah kebamblasan belanja dan tidak tahu aturan"


Delano menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. "Sayang, kamu boleh beli apa yang kamu inginkan. Asal memang kamu benar-benar ingin. Jangan terbawa karena trend saja, dan pada akhirnya barang yang kamu beli malah tidak terpakai"


Alana tersenyum, dia meraih tangan suaminya dan mengecupnya dengan lembut. Jika Delano sedang memberinya petuah seperti ini, maka Alana selalu merasa sangat teduh. Suaminya memang orang yang cukup, tapi dia selalu memikirkan jika membeli sebuah barang. Apa benar-benar dia membutuhkannya, atau hanya untuk trend semata.


"Iya Sayang, lagian aku kalau mau beli apa-apa bilang sama kamu. Uangnya juga minta sama kamu"


Delano tersenyum, memang begitulah kebiasaan istrinya. Dia hanya meminta uang pegangan saja pada Delano.


"Yaudah, kalau begitu aku mandi dulu"


Delano mencium kening istrinya sebelum dia turun dari atas tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi. Sementara Alana turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan. Alana selalu menyempatkan untuk membuat sarapan, karena baginya sarapan adalah penting.


######


Berjalan berdampingan dengan suaminya yang mendorong kereta bayi. Sengaja membawa Aini, agar bisa jalan-jalan bersama. Pengasuhnya juga tetap ikut karena Delano takut jika istrinya kewalahan.


"Ayo kita beli apa sekarang?"


Alana melihat-lihat apa yang dia inginkan dan yang dia butuhkan. Tapi rasanya semua kebutuhan dia memang sudah terpenuhi oleh suaminya itu. Jadi, Alana tidak perlu banyak mengeluh untuk soal itu, karena Delano selalu mementingkan semua kebutuhan Alana selama ini. Bahkan sejak mereka berpacaran, dulu.


"Kayaknya cuma beli scincare dan alat make up saja, ada yang sudah habis"


Alana menggeleng pelan, dia memang tidak menginginkan apapun. "Kita makan siang saja nant. Pergi jalan-jalan sama kamu saja sudah membuat aku senang"


Delano tersenyum mendengar itu, memang kebahagiaan istrinya itu sangat sederhana. Hal sederhana yang membuat Alana bahagia, itulah yang membuat Delano jatuh cinta padanya. Karena memang untuk membuat Alana bahagia, tidak sulit dan tidak perlu dengan hal yang mahal.


Keluarga bahagia ini benar-benar tidak banyak membeli apapun. Karena yang di beli hanya yang di butuhkan oleh Alana dan Delano saja. Membeli pakaian Aini saja yang membuat Alana gemas dan tergoda untuk membelinya.


Setelah makan siang, mereka langsung kembali ke rumah. Ketika sampai di rumah sudah ada seseorang yang menunggu Delano sejak tadi.


"Sayang, dia siapa?" tanya Alana menatap pria yang berada di teras depan rumah mereka itu.


"Teman aku, kamu masuk saja duluan. Aku mau menemui teman aku dulu"


Alana mengangguk, dia menggendong Aini dan membawanya masuk ke dalam rumah di ikuti oleh pengasuh Aini yang membawa barang belanjaan mereka.


Delano menghampiri orang itu dan duduk di kursi yang ada di teras depan. "Jadi bagaimana? Apa yang kamu temukan tentang Vina dan pacarnya?"


"Mereka tinggal di sebuah Apartemen, pacarnya ini tinggal sendiri di kota ini karena memang orang tuanya yang berada di luar kota. Cara berpacaran mereka memang sudah melewati batas. Mungkin memang seperti dugaan dan kekhawatiran istri anda"


Delano mengangguk mengerti, mungkin memang Alana sudah mempunyai firasat yang tidak baik tentang adiknya dan kekasihya itu. Makanya dia sangat khawatir dengan Vina.


"Bawa saya kesana, saya ingin bertemu langsung dengan mereka"


"Apa kita akan berangkat sekarang, Tuan?"


Delano sedikit melirik ke dalam rumah, tidak mungkin juga dia berangkat sekarang sementara istrinya pasti tahu dan akan bertanya padanya.


"Besok saja saat sore hari, sepulang saya bekerja"


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu"


Delano mengangguk, beruntung sekali dia mempunyai anak buah yang bisa dia andalkan dalam segala hal seperti saat ini.  "Bonus untuk kerja kamu ini, akan saya transfer nanti"


"Baik Tuan, terima kasih banyak"


Delano kembali masuk ke dalam rumah setelah orang anak buahnya itu pergi. Dia menemui istrinya yang berada di dalam kamar.


"Sayang, dia mau apa datang kesini?"


Baru saja masuk, Delano sudah di todong pertanyaan penuh curiga dari istrinya. Pastinya Alana akan merasa heran karena memang tidak biasanya ada seorang teman yang datang ke rumah hanya untuk menemui Delano selama ini. Itulah yang pastinya membuat Alana sedikit bingung dan juga curiga.


"Tidak apa-apa, hanya tidak sengaja lewat katanya. Jadi mampir, dia memang tahu sejak lama kalau rumah aku disini"


Alana menghampiri suaminya yang langsung duduk di atas sofa.Ikut duduk di sampingnya. "Oh begitu, aku kirain mau apa tiba-tiba datang kesini"


"TIdak ada apa-apa, hanya tidak sengaja lewat saja"


Alana hanya mengangguk mengerti.


Bersambung