
Alana tidur terlentang di atas tempat tidur ketika Delano menggendong tubuhnya dan menjatuhkan tubuh Alana di atas tempat tidur. Alana tahu apa yang di inginkan oleh suaminnya. Sudah pasti malam ini dia sangat menginginkan malam yang panjang dan penuh gairah bersama dengan Alana.
Delano mulai merangkak ke atas tubuh Alana, bertumpu pada kedua tangan dan lututnya. Menatap wajah istrinya yang berada di bawah tubuhnya itu. Tentu saja Alana sudah terbiasa dengan semua ini, suaminya yang selalu tidak pernah puas dengan kegiatan malam mereka.
"Sayang, aku sudah tidak tahan"
Delano sudah tidak bisa menahan hasrat di tubunya. Dia langsung mencium bibir istrinya dengan sangat bergairah. Tangannya pun sudah bergeliyara di mana-mana, masuk ke dalam pakaian Alana untuk meremas bagian yang paling dia sukai dari bagian tubuh istrinya.
"Emhh.. Delano"
"Sayang, kau sudah tidak tahan ya. Aku akan lakukan sekarang ya"
Baru saja Delano akan membuka gaun tidur yang dipakai oleh istrinya. Sudah siap untuk melakukannya ketika suara tangisan Aini menghancurkan semuanya. Alana langsung mendorong tubuh Delano sampai jatuh ke atas lantai. Dia meraih piyama tidurnya dan langsung memakainya dengan terburu-buru.
"Sayang, aku bagaimana?"
Delano menatap bagian bawah celananya yang menonjol. Nasib jagoannya benar-benar tidak bisa terselamatkan karena tangisan anaknya yang tiba-tiba itu.
"Aini pengen asi, kamu tunggu saja sebentar"
Alana langsung duduk di sofa dan memberikan asi untuk anaknya. Sementara Delano langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan terlentang. Pasrah saja untuk menunggu istrinya sampai selesai memberikan asi pada anaknya.
"Gini banget ya pas udah punya anak, mau bermesraan sama istri saja susah banget"
Alana tersenyum mendengar gumaman suaminya itu. Tentu saja Alana mendengar ucapan Delano yang sedang kesal karena harus terganggu karena tangisan anaknya. Namun, Delano tetap tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa pasrah saja karena dia juga tidak mungkin marah pada anaknya karena telah mengganggu kenikmatan yang baru saja akan dia lakukan.
"Sayang, besok-besok kalau memang mau melakukannya, Aini tidur sama Mbak saja"
"Iya Sayang, iya. Tunggu sebentar ya"
Setelah Alana sudah menyusui anaknya dan membuatnya terlelap. Dia segera meniduran Aini di dalam box bayi. Lalu kembali naik ke atas tempat tidur dan Delano langsung menyerangnya dengan begitu ganas. Malam ini keduanya sedang saling beradu kasih. Di bawah temaram cahaya bulan, hanya terdengar suara desa*han dan suara-suara kenikmatan dari sepasang suami istri di dalam kamar ini.
########
Delano terbangun pagi ini, dia tersenyum ketika melihat wajah teduh istrinya yang masih terlelap di sampingnya itu. Delano mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Alana.
"Sayang, aku benar-benar sangat mencintai kamu. Sampai tidak tahu bagaimana caranya mencintai orang lain selain kamu"
Delano yang sangat mencintai istrinya sampai dia tidak tahu bagaimana rasanya mencintai orang lain. Karena saat ini yang paling dicintai oleh Delano saat ini hanya Alana. Tidak akan pernah bisa meninggalkan Alana dengan alasan apapun.
"Emmhh..." Alana menggeliat pelan ketika merasa ada elusan lembut di pipinya. Matanya mengerjap dan perlahan terbuka, tersenyum ketika melihat suaminya. "...Sayang, kamu sudah bangun ya. Kok gak bangunin aku si"
"Gak papa, kamu juga tidurnya lelap banget. Pastinya kamu lelah banget ya karena kegiatan kita semalam"
Wajah Alana langsung memanas ketika dia mendengar ucapan suaminya itu. Dia langsung memalingkan wajahnya dari suaminya itu, dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
"Sayang, kamu mau kemana?"
Delano hanya tersenyum lucu melihat istrinya yang terburu-buru masuk ke dalam ruang ganti. "Dia masih saja malu-malu begitu"
Delano merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Delano mengingat semua kenangan bersama dengan Alana. Dari awal mereka bertemu di sebuah perusahaan tempat keduanya bekerja hingga sekarang keduanya bisa bersama dan mempunyai seorang anak. Semua itu tidak mudah untuk di lewati oleh mereka berdua.
Selesai mandi, Alana langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sebelum keduanya bisa bersama sampai saat ini.
"Aku mencintai kamu" Delano yang baru datang dan langsung mengucapkan kalimat cinta pada Alana yang sedang menata makanan di atas meja.
"Apa si, tiba-tiba kok bilang begitu"
Delano menatap istrinya dengan senyuman penuh kebahagiaan. "Memangnya kenapa? Wajar saja kalau aku mengatakan cinta pada istriku sendiri. Memangnya salah ya?"
Alana menyimpan piring berisi makanan di depan Delano. Dia ikut duduk di kursi yang bersebrangan dengan suaminya itu. "Tidak salah, tapi tetap saja aneh kalau kamu tiba-tiba bilang begitu"
"Karena aku ingin saja bilang cinta sama kamu, kan biar kamu merasa selalu aku cintai"
Alana tesenyum mendengar itu, dia tahu bagaimana Delano yang selalu ingin membuat Alana bahagia dengan hal kecil seperti ini. Tapi Alana benar-benar bahagia dengan semua yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Sayang, aku selalu bahagia selama bersama denganmu. Jadi, apapun yang kamu lakukan memang selalu membuat aku bahagia. Kecuali kalau sampai kamu selingkuh"
"Apaan si, aku tidak mungkin melakukan itu. Karena hati dan cinta aku itu hanya untuk kamu"
Alana hanya tersenyum dan tidak mau menjawab apapun. Jelas Alana tahu tentang perasaan suaminya itu. Jadi dia tidak perlu melakukan apapun untuk membuat Alana percaya jika Delano memang tidak akan pernah selingkuh.
"Yaudah aku berangkat dulu ya, kamu habiskan saja dulu makanannya. Tidak usah mengantar aku sampai ke depan" Delano berdiri dan mengecup kening istrinya sebelum dia berangkat bekerja.
"Hati-hati di jalan ya"
Setelah Delano berangkat bekerja, Vina datang menghampiri Alana di ruang makan. Dia menarik kursi meja makan dan duduk disana.
"Kak, dua bulan lagi 'kan aku wisuda kelulusan ya. Setelah itu aku mau cari kerjaan dan tempat tinggal baru"
Alana langsung menghentikan gerakannya yang sedang menuangkan air ke dalam gelas. Dia menatap Vina dengan wajah yang terkejut. "Maksud kamu cari tempat tinggal baru itu apa? Kamu tidak betah tinggal disini bersama Kakak?"
"Bukan begitu Kak, aku hanya tidak enak saja terus tinggal disini. Aku sudah banyak menyusahkan Kakak dan menjadi beban untuk Kakak selama ini. Jadi, setelah lulus kuliah, aku ingin mencoba mandiri. Tapi Kakak tenang saja, aku akan tetap jaga diri dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti saat aku tinggal jauh dari Kakak. Aku hanya akan fokus bekerja dan mewujudkan segala mimpi aku. Tidak akan melakukan hal yang macam-macam"
Alana menghela nafas pelan, dia jelas melihat keyakinan dari balik tatapan mata Vina. Mungkin memang adiknya itu ingin mencari jati dirinya mulai saat ini.
"Kakak akan bicarakan dulu dengan suami Kakak, kamu tunggu saja jawaban dan Kak Delano"
Vina mengangguk, tentu dia sangat menghormati Kakak Iparnya itu. Karena Delano yang sudah begitu baik dan mau membantunya selama ini.
Bersambung