
"Ini cucu saya Sus"
Abraham yang sejak tadi mondar-mandir di depan ruang bersalin, langsung menghampiri seorang perawat yang keluar dengan menggendong bayi. Sudah di pastikan jika itu adalah bayi dari anaknya.
"Saya Kakeknya Sus, ini cucu saya. Apa boleh saya menggendongnya?"
"Boleh Pak, tapi bayinya harus kami bawa ke ruangan bayi dulu"
"Iya Sus tidak papa, biar saya antar bayinya kesana, Biar saya saja yang menggendong"
Abraham yang terlihat sangat antusias melihat bayi kecil dalam gendongan perawat itu. Dia mengingat bagaimana dulu pertama kali dia menggedong Alana, bayi mungil yang membuatnya sangat bahagia.
"Silahkan Pak"
Akhirnya Suster itu menyerahkan bayi dalam gendongannya pada Abraham, membuat Abraham tentunya sangat senang. Abraham mengecup pipi bayi mungil itu dengan pelan.
"Ini Kakek Nak, kamu cantik sekali seperti Ibu kamu"
Matanya berkaca-kaca, sangat terharu ketika melihat bayi mungil dalam gendongannya. Mengingat bagaimana kebahagiaan yang dia rasakan saat Alana lahir ke dunia ini. Namun kebahagiaan itu hanya sekejap dia rasakan, karena Alana kecil yang langsung di bawa oleh Ibunya hanya karena Abraham yang masih menjadi pengangguran setelah terkena PHK di sebuah pabrik tekstil yang ada di kotanya itu.
"Maaf Nak, Kakek tidak bisa membahagiakan Ibu kamu. Tapi mulai saat ini Kakek janji akan membuat Ibu kamu dan juga kamu bahagia. Kita tidak akan terpisahkan lagi"
Rasanya seperti mimpi saat sekarang Abraham tengah menggendong cucunya, setelah sekian lama tidak menemukan anaknya itu. Abraham senang sekali karena dia bisa merasakan kebahagiaan yang pastinya juga di rasakan oleh anak dan menantunya.
Sementara di ruang bersalin Delano masih menemani istrinya untuk melakukan proses medis setelah melahirkan. Mulai dari pemmbersihan jalan lahir dan juga menjahit luka robekan akibat melahirkan.
Tidak henti-hentinya Delano mencium kening dan pipi istrinya dengan rasa syukur yang sangat besar. "Terima kasih Sayang, karena sudah memberikan kebahagiaan ini dalam hidupku"
Alana tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka jika saat ini dia akan melahirkan dengan di temani oleh Delano.
Mengingat setelah apa yang telah di lewatinya selama ini, hal ini rasanya tidak mungkin terjadi.Tapi ternyata Tuhan masih sangat baik pada Alana, hingga dia mempertemukan kembali dirinya dan Delano sebelum anak ini lahir.
"Sayang, terima kasih juga karena kamu sudah menemani aku untuk berjuang melahirkan anak kita"
"Aku akan sangat menyesal jika aku tidak dapat menemani kamu saat berjuang untuk melahirkan anak kita"
#######
Alana sudah di pindahkan ke ruang rawat setelah melahirkan. Delano masih setia di sampingnya, selalu bersama dengannya sejak keluar dari ruang bersalin.
"Anak kita mana ya, kok belum di bawa lagi kesini?" tanya Alana yang tidak sabar untuk menggendong anaknya
"Mungkin sebentar lagi, sekarang kamu makan dulu saja. Nanti kalau anak kita di bawa di bawa kesini dan ingin asi sama kamu, sudah ada nutrisi"
Alana menganggkuk, dia menerima suapan dari suaminya. Rasa sakitnya telah hilang, terobati dengan kehadiran anaknya saat ini. "Sayang apa tidak ada yang menjenguk aku?"
Delano menatap Alana dengan keningnya yang berkerut, merasa bingung dengan ucapan Alana barusan. "Maksudnya apa? Siapa yang menjenguk kamu, Sayang? Memangnya kamu ingin di jenguk oleh siap..."
Delano menghela nafas pelan, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Jangan memikirkan hal yang hanya membuat kamu sakit hati. Pikirkan saja tentang kita dan anak kita nanti, kita juga belum memberinya nama"
Alana mengangguk sambil tersenyum tipis, meski sebenarnya hatinya sangat berharap Ibunya akan datang. Namun ternyata dia hanya berharap pada angan-angan yang jelas tidak akan pernah terjadi. Ibunya sudah jelas pernah berkata jika dia tidak ingin di ganggu lagi oleh Alana, jadi tidak mungkin sekarang dia akan sengaja datang kesini hanya untuk melihat keadaan Alana yang baru saja melahirkan anak pertamanya.
Delano bersyukur karena tidak beberapa lama seorang perawat datang dengan mendorong kereta bayi ke dalam ruangan itu.
"Bayinya di susui dulu Bu, sepertinya dia sudah mulai haus"
Alana tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk menggendong anaknya itu dan memberikan asi padanya. "Iya Sus, sini bayi saya"
Delano berdiri dan memberikan ruang untuk perawat itu membantu Alana untuk menyusui anak pertamanya itu. Tentunya masih harus ada bimbingan dari perawat karena ini adalah pengalaman pertama bagi Alana. Perawat mengarahkan cara yang benar untuk menyusui bayi pada Alana.
"Kamu haus ya Nak, asi yang banyak ya" gumam Alana sambil mengelus kepala anaknya itu.
Alana mendongak dan menatap suaminya yang berdiri di sampingnya. Delano juga terlihat sangat antusias dengan anaknya ini. Bayi mungil yang terlihat masih merah itu memegang jari Delano dengan erat.
"Sepertinya dia tahu kalau aku adalah Ayahnya"
"Tentu saja, kamu 'kan sering sekali menengok dia saat dia masih dalam kandungan"
Perawat wanita yang mendengar itu, tentu saja wajahnya langsung memerah sendiri. Dia malu sendiri dengan pembahasan sepasang suami istri di depannya ini. Karena dia yang belum menikah membuat dia sedikit sensitif mendengar pembahasan seperti ini.
"Dia mirip aku ya Sayang, hidungnya mirip aku"
Alana cemberut mendengar ucapan suaminya itu. Merasa tidak adil dengan dunia ini, dia yang mengandung dan segala kesulitan selama mengandung dia yang merasakan. Tapi memang wajah anaknya ini hampir duplikat dari suaminya ini.
"Padahal aku yang mengandungnya, kenapa dia malah sangat mirip denganmu ya"
"Mungkin takut tidak di akui oleh Ayahnya, Bu. Kata orang di kampung saya begitu" timpal perawat yang sedang mengecek infusan Alana.
"Iya Sus, mungkin memang begitu"
Perawat itu tersenyum sambil menyuntikan sesuatu ke dalam botol infusan. Obat untuk Alana agar semakin cepat pulih setelah melahirkan.
"Oh ya Bu, tadi ada Kakeknya si bayi. Tapi sekarang tidak ada ya, kemana? Apa pulang dulu ya"
Deg..
Bukan hanya Alana yang terkejut mendengar ucapan perawat itu. Tapi juga Delano yang lebih terkejut. Dia yang menyembunyikan tentang semua ini dan sekarang malah terbongkar dengan orang lain yang memang tidak tahu apa-apa. Tidak mungkin juga jika Delano menyalahkan perawat itu karena dia yang memang tidak tahu apapun.
"Kekeknya?"
Alana bertanya dengan wajahnya yang beanr-benar sangat terkejut. Kakek dari anaknya? Siapa? Alana benar-benar merasa bingung dengan apa yang baru saja di dengar.
Bersambung