
"Jadi kapan kita akan menikah?"
Pembahasan pernikahan yang masih belum usai. Saat ini keduanya masih berada di dalam mobil. Delano masih ingin membahas tentang pernikahan yang belum ada jawaban yang tepat.
"Aku nurut saja sama kamu, kalau memang kamu sudah yakin untuk menikahiku, ya laksanakan saja"
Delano menatap Alana dengan lembut, saat ini mereka sedang berhenti di lampu merah. "Aku tidak pernah merasa tidak yakin ketika aku ingin menikahimu"
Alana tersenyum mendengar itu, dia merindukan kemanjaan Delano ini. Karena Delano yang terdengar dingin, tapi ketika sudah berpacaran dengan Alana, dia berubah menjadi pria yang manja.
"Kalau begitu, nikahilah aku secepatnya"
Sebuah kalimat yang membuat Delano tersenyum lebar. Tentu saja dia tidak akan keberatan jika harus segera menikahi Alana. Karena sejak dulu juga dia sudah sangat ingin menikahi Alana. Namun gadis itu yang selalu menolak dengan alasan jika dirinya masih belum siap menikah. Hingga akhirnya kisah mereka harus terhalang dengan pernikahan paksa antara Alana dan Dario.
"Aku akan mengurus semuanya"
Mobil kembali melaju setelah lampu lalu lintas berubah warna hijau. Delano membawa Alana untuk pulang ke rumah miliknya. Dia berpikir jika Apartemen tidak cukup aman bagi Alana yang sedang hamil.
"Sayang, kita kembali tinggal disini saja ya"
Alana turun dari mobil ketika Delano membukakan pintu mobil untuknya. Dia menatap rumah yang pernah dia kunjungi saat dia masih menjadi istri Dario. Bahkan hubungan terlarang dirinya dan Delano yang ketahuan oleh Lerita juga di rumah Delano yang ini.
"Aku ikut kamu saja, lagian aku bisa tinggal dimana saja. Tapi bagaimana dengan barang-barang aku yang ada di Apartemen?"
Delano merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah itu. "Tenang saja, nanti biar aku suruh orang untuk membawakan barang-barang kamu"
Alana tersenyum mendengar itu, dia menatap wajah Delano yang berada di sampingnya itu. Garis wajah Delano yang memang nyaris sempurna selalu membuat Alana tidak pernah menyangka jika dia bisa kembali lagi dengan pria ini. Padahal sudah cukup banyak rintangan yang membuat mereka berpisah. Tapi kenyataannya, takdir tetap mempertemukan mereka kembali.
"Kenapa lihatin akunya kayak gitu?"
Alana menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak ada, aku hanya sedang mengagumi wajah tampan Ayah dari bayiku ini"
Delano tersenyum gemas pada kekasih hatinya ini, dia mengecup pipi istrinya dengangemas. Lalu berbisik kata cinta di telinga Alana, membuat wanita itu langsung terdiam dengan wajah yang bersemu merah.
"Aku juga mencintaimu, Delan"
Delano membawa Alana masuk ke dalam kamar yang nantinya akan menjadi kamar mereka berdua. Alana menatap sekelilingnya dan menemukan beberapa foto dirinya dan Delano pada saat masa-masa pacaran disana. Alana berjalan ke arah nakas dan mengambil satu figura foto disana. Dia ingat sekali jika foto itu di ambil saat dia dan Delano pergi kencan untuk pertama kalinya setelah mereka resmi berpacaran.
"Delan, kamu masih simpan foto ini ya ternyata"
Delano berjalan menghampiri Alana dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Alana. "Ya, aku akan selalu menyimpan kenangan indah diantara kita. Karena aku tidak mau melupakan semua kenangan indah bersamamu"
Alana tersenyum, dia menempelkan pipinya di kepala Delano yang bersandar di bahunya. Alana merasa senang dan tidak pernah menyangka jika Delano akan setulus ini mencintainya. Karena pada awal mereka bertemu, Alana merasa tidak yakin dengan Delano. Karena sikap pria itu yang terkesan cuek dan dingin. Namun ternyata setelah dia mengenalnya lebih dekat lagi, Delano mempunyai sisi hangat dan manja yang tidak banyak orang ketahui.
"Terima kasih Sayang, karena kamu begitu setia menunggu aku dan mencintaiku"
Delano tersenyum, tentu saja dia tidak akan mau mengkhianati cintanya pada Alana. Karena baru pertama kali dia jatuh cinta yang sebenarnya, dan Delano sudah pernah meyakinkan hatinya sendiri. Jika siapa saja yang bisa membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya, maka dia akan tetap mencintainya dan tidak akan pernah berpaling pada wanita lain. Dan sekarang dia benar-benar mewujudkan semuanya itu.
Alana tertawa mendengar itu, jelas dia tahu jika Delano memang selalu ingin di panggil Sayang dan selalu di manja oleh Alana. "Aku merindukan masa ini, saat kamu yang selalu bersikap manja padaku"
Cup...cup..
Delano memberikan kecupan di pipinya dengan gemas. Tentu saja dirinya juga merindukan masa-masa ini. Delano yang begitu mencintai Alana sehingga sikap manjanya ini hanya muncul ketika dia bersama dengan Alana.
######
Pagi ini Alana terbangun dengan wajah yang lebih segar. Semalaman tidur dengan nyenyak dalam pelukan Delano. Tentu saja untuk pertama kalinya lagi setelah cukup lama berpisah dengan Delano. Dan malam ini dia bisa kembali merasakan tidur dengan nyaman dalam pelukan pria itu.
Alana menatap wajah Delano yang masih terlelap di sampingnya itu, dia mengelus pelan pipi suaminya. Akhirnya kita bisa kembali bersama lagi setelah lama berpisah. Gamamnya dalam hati.
Alana bangun dan ingin turun dari atas tempat tidur. Namun tangan Delano langsung melingkar di perutnya. Memelunya dari belakang dengan kepala yang menyandar di punggung Alana.
"Sayang, mau kemana?"
Alana tersenyum, dia memegang tangan Delano yang berada di peritnya. "Sayang, aku mau mandi dulu. Kamu tidur lagi aja dulu, aku mau mandi dulu"
"Yaudah, hati-hati ya di kamar mandinya. Jangan sampai terpeleset"
Alana mengangguk, dia memiringkan tubuhnya dan memberikan kecupan di pipi Delano sebelum dia pergi ke kamar mandi.
Delano menjatuhkan kepalanya di atas bantal, tersenyum sendiri. Bahagia sekali rasanya ketika dia bisa kembali pada Alana. Kebahagiaan yang selalu dia rasakan ketika dia bersama dengan Alana.
Delano turun dari atas tempat tidur dan menyusul Alana ke kamar mandi.Namun dia mendapati pintu kamar mandi yang terkunci, membuat Delano langsung mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang sedang apa kamu di dalam? Kenapa harus mengunci pintu segala"
Alana yang sedang berendam di dalam bak mandi, langsung terkejut mendengar teriakan Delano itu. Ketukan di pintu yang berubah menjadi sebuah gedoran.
"Sayang apasi, aku sedang mandi"
Delano menghela nafas lega saat dia masih mendengar suara Alana dari dalam sana. Jujur saja dia sangat takut terjadi hal yang tidak di inginkan pada Alana di dalam kamar mandi itu.
Delano memilih untuk menunggu Alana dengan bersandar di dinding samping pintu kamar mandi. Sampai beberapa saat kemudian, Alana keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu ini kenapa si? Pake gedor-gedor pintu segala? Kamu 'kan tahu kalau aku sedang mandi"
Delano menatap Alana dengan dingin, membuat Alana cukup takut juga melihatnya. "Jangan pernah mengunci pintu, kalau sampai kau kenapa-napa di dalam dan tidak akan ada yang mengetahuinya. Faham!"
"Iya"
Bersambung