My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Kehamilan Simpatik?!



"Tidak papa saya hanya menjadi pelayan disini, asal saya mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal"


Dan hari ini Alana mulai bekerja di sebuah Restaurant kecil yang pegawainya juga tidak terlalu banyak. Maka dari itu Alana langsung di terima karena memang pihak Restaurant yang membutuhkan pekerja tambahan disaat Restaurant mulai ramai pengunjung. Beruntung karena disini ada sebuah mess kecil yang bisa di tinggali oleh para karyawan yang dari jauh dan tidak memungkinkan untuk pulang pergi. Jadi Alana bisa bekerja sekaligus mendapatkan tempat tinggal.


Alana bekerja dengan baik dan penuh dengan semangat meski keadaan dirinya yang sedang hamil. Karena anak dalam kandungannya begitu baik bisa bekerja sama denganya dan tidak rewel.


"Terima kasih sudah bekerja sama dengan baik ya Nak, semoga kita bisa melewati semua ini"


Alana mengelus perutnya yang membuncit di balik apron yang dia pakai. Alana bisa melewati semua ini, semoga saja dia bisa kuat menjalani semuanya yang tentunya tidak akan mudah baginya. Namun Alana mencoba untuk tetap kuat menjalani semua ini.


Hari  ini terlewati dengan baik oleh Alana, dia selesai bekerja di malam hari waktu Restaurant ini tutup. Dia masuk ke dalam kamar mess yang masih kosong dan  akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Alana menghela nafas pelan dengan sangat bersyukur karena dia masih bisa tidur di tempat teduh hari ini. Tidak harus kepanasan dan kahujanan.


"Ayah, Ibu kenapa kalian begitu tega padaku?"


Sampai saat ini Alana masih tidak menyangka jika kedua orang tuanya tega menganggap dirinya telah meninggal dan sekarang entah pergi kemana. Mnjadikan Alana anak terlantar.


Hidup Alana yang ternyata memang sangat memilukan. Bahkan kedua orang tuanya saja sudah menganggap dirinya yang masih hidup ini meninggal. Semuanya hanya karena Alana yang tidak pernah di anggap keluarga oleh mereka.


Pagi ini Alana kembali bekerja di Resto ini, dia begitu semangat untuk bekerja. Sedikit merasa aneh dan heran saat sudah beberapa hari ini Alana tidak lagi merasa mual di pagi hari, seperti yang sering dia alami sejak kehamilannya berjalan.


Namun, di rumah Delano dia sedang muntah-muntah lagi pagi ini. Delano juga bingung kenapa dia yang harus terus muntah-muntah dan tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini.


"Sebenarnya ada apa dengan aku? Aku sama sekali tidak keluar rumah sejak kemarin, rasanya tidak mungkin kalau aku mengalami masuk angin lagi seperti kata Dokter kemarin"


Delano mulai merasa bingung sendiri dengan keadaan tubuhnya ini.  Dia tidak tahu harus bagaimana ketika dia sudah di periksa oleh Dokter dan dia memang baik-baik saja.Tapi hampir setiap pagi dia akan mengalami hal seperti ini. Sampai iseng Delano mencari kebenarannya lewat internet. Dan sebuah artikel muncul membuat Delano tercengang saat membacanya.


Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Memang, hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya.


Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade ini terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung.


Deg..


Delano benar-benar tercengang dengan artikel yang baru saja dia baca. "Kehamilan simpatik? Apa mungkin...?"


######


Alana kembali bekerja dengan begitu semangat. Karena memang dirinya yang sudah lebih baik, entah kenapa kehamilannya sudah tidak lagi rewel dan tidak lagi membuat Alana muntah di pagi hari. Bayinya sedang begitu mengerti keadaan Ibunya.


Terima kasih sudah bekerja sama dengan Ibu, Nak.


Alana yang menjalani hidupnya tanpa seorang yang bisa menguatkan dirinya dalam hal apapun. Alana benar-benar tidak mempunyai seseorang yang bisa dia jadikan tempat mengadu. Alana yang harus hidup seorang diri dan berjuang sendiri. Sampai saat ini, Alana masih tidak pernah membayangkan jika dia akan mengalami semua ini.


"Aku merindukan Delano"


Tidak bisa membohongi jika Alana memang sangat merindukan Delano. Dia tidak mungkin tidak merindukan Delano yang sampai saat ini masih menjadi pemilik hatinya. Meski sekarang hati Alana sudah kecewa karena dia yang melupakan Alana dan malah bersama dengan Lerita.


Namun hatinya masih begitu mencintainya, tidak mudah bagi Alana yang begitu dia mencintai Delano. Tidak semudah itu untuk melupakan Delano yang masih menjadi pemilik hatinya.


Sementara di tempat yang berbeda, Delano semakin bingung dan tidak bisa terus berdiam diri di rumah dengan pikiran yang tidak tenang. Setelah membaca artikel itu membuat Delano terus kepikiran tentang Alana. Dia jadi enduga-duga bagaimana Alana saat ini, keadaannya dan keberadaannya juga tidak dia ketahui dimana.


"Delan, sampai kapan kau hanya berdiam di rumah. Masuk kantor sehari, langsung berhenti selama seminggu. Bagaimana kau bisa lebih maju kalau begini"


Delano hanya memutar bola mata malas ketika Ayahnya datang dan hanya untuk mengomelinya saja. "Dad, aku sedang sakit dan kenapa kau terus memaksa aku untuk bekerja"


"Kalau kau sakit, tidak mungkin hampir setiap malam datang ke club malam. Kamu fikir Daddy tidak tahu soal  itu?"


Ya, Delano memang sering sekali datang ke tempat itu hanya untuk minum sampai dia mabuk dan melupakan tentang Alana. Delano tidak bisa mengendalikan stres dalam dirinya ini. Alana yang pergi dan hilang dari kehidupannya benar-benar membuat Delano bingung dan tidak bisa untuk berhenti dengan kegiatan malam yang selalu membuat dirinya pulang dalam keadaan mabuk.


"Aku tidak akan seperti ini jika tidak Daddy yang membuat aku seperti saat ini. Aku begini karena Daddy yang membuat aku begini"


Dario menghela nafas pelan, dia mengusap wajah kasar. Karena memang dirinya yang telah membuat anaknya seperti ini. Namun dia juga tidak akan melakukan hal ini jika pada awalnya dia tahu kalau Alana adalah kekasih anaknya sendiri.


"Maafkan Daddy, tapi jika kamu mengatakannya mungkin Daddy tidak akan menikahinya"


Delano terdiam, dia merasa jika memang dirinya yang salah juga. Jika memang dia yang lebih dulu memberi tahu tentang kekasihnya pada Dario pada saat itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi, jika dirinya yang lebih dulu mengenalkan Alana sebagai kekasihnya. Semua ini juga memang kesalahannya.


"Dad, aku tidak bisa melupakan Alana. Apalagi aku sudah melakukannya dengan Alana"


Dario menghela nafas pelan, dia sebenarnya sudah lama tahu hanya saja dia ingin mendengar anaknya berkata sendiri. "Daddy sudah tahu, dan maaf jika Daddy terlambat mengatakan ini. Sebenarnya alasan Daddy menceraikan Alana, karena Daddy mengetahui jika dia sedang hamil"


Deg..


Tubuh Delano mematung mendengar itu, dia benar-benar tidak menyangka akan mendengar hal itu dari Ayahnya sendiri. Alananya hamil? Oh Tuhan..


Bersambung