My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Akhirnya Merasakan Kasih Sayang Ayah



Abraham yang sedikit ragu untuk melangkah masuk ke dalam ruangan ini. Dia jelas melihat Alana yang menatapnya dengan begitu lekat, tentu saja dia sangat takut jika Alana tidak akan menerima kehadirannya ini.


"Pa-papa"


Panggilan pertama yang Abraham dengan dari anaknya ini, yang setelah puluhan tahun dia mencarinya. Tidak menunda waktu lagi, Abraham langsung berlari dan memeluk Alana yang duduk di atas ranjang pasien itu.


"Maafkan Papa Sayang, karena Papa terlambat menemukan keberadaanmu. Maaf"


Tubuh Alana mematung ketika dia merasakan pelukan seorang Ayah, setelah selama ini Alana hanya berharap bisa merasakan pelukan seorang Ayah padanya. Dan dia baru merasakan sekarang, karena ternyata Ayah yang selama ini dia kira adalah Ayah kandungnya, ternyata hanya seorang Ayah tiri yang menjadi suami Ibunya. Dan sekarang Alana sudah bertemu dengan Ayahnya yang sebenarnya.


Tangan Alana yang berada di samping tubuhnya, perlahan terangkat dan membalas pelukan Abraham. "Pa-papa, ini Alana Pa, anak Papa"


Abraham mengangguk dengan air mata yang menetes begitu saja. Rasa sedih, bahagia dan haru yang bercampur menjadi satu. Kesedihan karena dia yang baru sekarang bisa bertemu dengan anaknya dan tidak bisa menolong anaknya dari segala perlakuan buruk Ibunya.


Namun tidak bisa memungkiri jika Abraham juga sangat bahagia karena dia yang sekarang telah bertemu dengan anaknya dan bisa memeluknya.


"Iya Nak, kamu anak Papa yang paling hebat. Anak Papa yang kuat"


Alana melerai pelukannya, dia menatap Abraham dengan matanya yang basah. Sungguh dia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Ayah kandungnya ini, yang Ibunya bilang telah meninggal itu. Mengingat itu semakin membuat Alana sedih. Karena dia  tidak pernah menyangka jika Ibunya akan tega mebohonginya sampai seperti ini.


"Alana sangat merindukan Papa"


Alana kembali memeluk Ayahnya itu, tentu dia sangat bahagia karena pada akhirnya bisa bertemu dengan Ayah kandungnya dan bisa merasakan pelukan seorang Ayah.


"Iya Sayang, Papa juga sangat merindukan kamu. Maafkan Papa karena terlambat menemukan keberadaan kamu ini. Hingga kamu harus menjalani hidup yang tidak bahagia selama ini"


Alana tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ayah.  Rasanya Alana tidak pernah ingin melepaskan pelukannya ini, ingin Ayahnya akan selalu berada di sampingnya. Agar hidup Alana akan tetap terlindungi dengan adanya seorang Ayah dalam hidupnya. Karena selama ini Alana benar-benar tidak pernah mempunyai tempat untuk berlindung, meski ada Ibu dan Ayah.


Delano yang menatap pertemuan seorang Ayah dan anaknya setelah sekian lama berpisah, juga merasa ikut terharu. Alana yang benar-benar tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, kini telah dipertemukan dengan Ayah kandungnya yang baru dia ketahui akhir-akhir ini tentang fakta itu.


Alana melerai pelukannya, dia menatap Abraham dengan lekat. "Jadi, Papa adalah orang yang menolong aku waktu di taman waktu itu? Pantas saja aku merasa sangat tidak asing dengan wajah Papa. Bukan karena aku sudah tahu wajah Papa atau sudah pernah melihatnya, tapi mungkin karena perasaan aku yang peka terhadap Papa sebagai Ayah kandung aku"


Abraham mengangguk, dia tersenyum sambil mengusap ujung matanya yang berair. Lalu dia memberi kecupan dengan sangat lembut di kening anaknya ini. Alana sampai memejamkan mata untuk meresapi sebuah kecupan yang diberikan Ayahnya padanya. Dan dia merasakan bagaimana kasih sayang Ayahnya ini padanya.


Akhirnya aku bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah.


Seolah tidak ingin kalah, Delano juga mengecup kepala Alana. Membuat wanita itu terkekeh karena sadar jika suaminya sedikit cemburu pada Ayah mertuanya sendiri.


Delano tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja mendengar ucapan Alana itu. Abraham sampai geleng-geleng kepala melihat menantunya itu.


"Masa kamu cemburu pada mertua kamu sendiri, Delan?"


Delano menghembuskan nafas pelan, lalu dia tersenyum sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Ya karena aku sangat mencintai Alana Pa, jadi rasanya aku tidak rela saja ada pria yang menyentuhnya. Aahh.. Entahlah, aku merasa jika Alana hanya milik aku saja dan hanya aku yang boleh menciumnya"


Abraham hanya tersenyum mendengar itu, tapi dia cukup bersyukur karena Alana bisa menikah dengan Delano. Karena dia bisa melihat bagaimana cintanya Delano yang begitu besar, dan Delano yang seolah sangat takut kehilangan Alana. Hal itu sudah cukup membuat Abraham yakin jika menantunya ini memang yang terbaik untuk putrinya.


Abraham menepuk bahu Delano sambil tersenyum. "Papa percaya jika kamu bisa membahagiakan Alana. Mulai sekarang kita jaga dia dengan baik"


Delano mengangguk, tentu saja dia akan selalu menjaga Alananya dengan sangat baik. Persatuan seorang Ayah dan suami yang ingin menjaganya dengan baik, membuat Alana terharu. Dia merasa sekarang seperti menjadi seorang ratu yang begitu di jaga oleh semua orang. Meski hanya Abraham dan Delano saja.


"Makasih ya, karena kalian sudah mau menjaga aku. Kalian sudah menjadi pelindung dalam hidup aku"


"Kamu adalah putri Papa, dan sampai kapan pun Papa tidak akan pernah membiarkan lagi kamu terluka dan disakiti oleh siapapun lagi. Termasuk dengan Ibumu sendiri"


Alana terdiam mendengar itu, jelas dia ingat bagaimana Ibu yang memperlakukan Ayahnya dari cerita Delano. "Pa, memang Ibu telah melukai Papa dengan sangat begitu kejam. Tapi apa bisa untuk Papa memaafkan saja apa yang Ibu lakukan. Hanya untuk memaafkan saja, tidak untuk melupakan semuanya"


Ya, karena Alana tahu tidak akan mudah untuk memaafkan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Apalagi jika harus melupakan semua yang pernah dia lakukan padanya. Jadi Alana hanya berharap jika Ayahnya bisa memaafkan Ibunya. Karena mau bagaimana pun, Alana hanya seorang anak yang pernah berharap jika keluarganya akan baik-baik saja dan tetap utuh.


Tapi karena semua itu tidak bisa terjadi, maka Alana hanya berharap ibu dan Ayahnya bisa saling memaafkan dan tidak ada sebuah dendam diantara keduanya.


"Papa akan mencobanya"


Jawaban yang cukup membuat Alana tahu seberapa besar luka yang diciptakan Ibu pada Ayahnya selama ini.  Begitu besar dan tentunya tidak akan mudah terobati begitu saja. Namun Alana hanya berharap jika Ayah dan Ibunya bisa saling memaafkan dan tidak ada lagi dendam di antara keduanya. Hanya itu harapan Alana saat ini.


"Terima kasih karena sudah maus mencobanya Pa. Alana akan senang jika Papa dan Ibu bisa saling memaafkan dan tidak saling membenci. Karena ya.. mau bagaimana pun Alana tetap anak Ibu dan Papa. Rasanya tidak mungkin bagi Alana untuk memilih diantara kalian berdua"


Kebimbangan seorang anak yang orang tuanya telah berpisah dan mempunyai konflik yang cukup besar hingga tidak mudah untuk bisa saling memaafkan dan saling menerima takdir yang sudah terjadi.


"Iya Nak, Papa akan mencobanya demi kamu"


Tentu Abraham mengerti perasaan Alana saat ini. Meski Ibunya telah membohonginya dan juga banyak membuat dia kecewa, tapi tetap saja Ibu yang telah membesarkan Alana hingga sekarang.


Bersambung