
Delano mengambil sesuatu dari dalam kamarnya. Lalu kembalilagi ke ruang tengah Apartemennya ini. Alana hanya diam saja dan tidak terlalu memperdulikan apa yang dilakukan oleh Delano. Alana masih memikirkan tentang ucapan Delano tadi. Dia masih sulit untuk mempercayai tentang semua itu. Alana masih bimbang dengan apa yang di ucapkan oleh Delano. Sementara waktu itu Lerita juga berkata dengan begitu meyakinkan.
"Sayang, ini untuk kamu"
Alana menatap kotak panjang berwarna merah itu dengan bingung. Tiba-tiba saja Delano memberikannya barang seperti itu.
"Ini apa Delan?"
Delano membuka kotak beludru warna merah itu, sebuah kalung berlian yang sangat indah dengan liontin berbentuk bulat indah. "Ini untuk kamu, sebenarnya sudah lama aku menyiapkan ini. Bermaksud aku akan memberikan ini pada saat Anniversary kita yang pertama. Tapi ternyata hubungan kita harus di uji banyak cobaan saat masih berjalan beberapa bulan saja"
Alana terdiam mendengar itu, dulu dia juga berharap jika hubungannya dengan Delano akan berlangsung lama, bahkan sampai mereka menikah. Namun ternyata semuanya harus menerima kenyataan yang ada.
"Sayang..." Delano menyimpan kotak itu di atas meja, lalu dia meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan lembut. "...Aku tahu kalau kamu pernah salah faham dengan aku, kamu mengira jika aku sudah menikah. Tapi asal kamu tahu, kalau aku tidak pernah menikah dengan siapa pun. Aku tetap mencintaimu dan tidak akan menikah dengan siapa pun jika tidak denganmu"
Sebuah ungkapan yang memang benar adanya. Cinta pertama ini, juga ingin menjadi cinta terakhir dalam hidup Delano. Sebenarnya Alana juga menginginkan hal yang sama, tapi ternyata semuanya tak seindah renacna yang dia susun selama ini. Dirinya sudah pernah menikah, bahkan dengan Ayahnya Delano.
Hal itu yang membuat Alana merasa jika saat ini dirinya tidak pantas untuk kembali lagi dengan Delano. Alana merasa jika dirinya tidak bisa lagi untuk bersama dengan Delano setelah apa yang terjadi diantara dirinya dan Dario.
Alana menatap Delano dengan matanya yang berkaca-kaca. "Delan, bukannya aku tidak mau kembali dengan kamu. Tapi aku tidak bisa Delan. Semuanya sudah berubah, aku pernah menikah dengan Daddy kamu dan rasanya terlalu tidak mungkin jika sekarang kita bersama"
Alana berdiri dan meninggalkan Delano di ruang tengah. Alana tidak bisa berlama-lama dengan pria itu.Karena hati dan persaannya yang selalu lemah jika bersama dengan Delano. Alana tidak bisa terlalu lama berada di dekat Delano.
Alana menutup pintu kamar dan dia bersandar di pintu kamar yang tertutup itu. Air matanya luntur begitu saja, Alana tidak bisa menahannya lagi. Semuanya terlalu menyakitkan bagi Alana.
Kenapa harus seperti ini? Aku bahkan tidak pernah berpikir jika kisah aku dan Delano akan seperti ini.
Alana yang merasa jika dirinya tidak pantas untuk bersama dengan Delano. Status Alana yang sudah menikah dengan Dario, ayah dari Delano sendiri. Alana merasa jika dia tidak bisa kembali bersatu dengan Delano sebagai pasangan.
Di ruang tengah, Delano menatap kalung yang dia siapkan untuk Alana itu dengan matanya yang berkaca-kaca. Jika saja kisahnya tidak seperti ini, mungkin saja Alana akan langsung menerima kalung hadiah darinya ini. Tapi sekarang semuanya telah berbeda.
"Harus bagaimana lagi aku meyakinkan Alana jika aku bisa bersama dengannya dan menikahinya. Ya Tuhan, aku benar-benar sudah tidak bisa memikirkan hal apapun lagi sekarang, selain ingin mendapatkan Alana"
Drett...Drett...
Ponsel Delano di atas meja berdering, membuat Delano langsung mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya itu.
"Tuan Delan, Daddy di bawa ke rumah sakit karena sesak nafas parah"
Delano terdiam mendengar suara pelayan di rumah Ayahnya itu. Tanpa berpikir apapun lagi, dia langsung mengambil jaketnya di dalam kamar dan segera pergi ke rumah sakit. Delano tetap menyayangi Dario sebagai Ayahnya. Meski banyak hal yang di lakukan Dario dan yang membuatnya kesal dan marah. Tai akhir-akhir ini Dario terlihat berubah dan tidak membuat Delano marah lagi, mungkin karena sekarang Dario sadar jika yang dia miliki di dunia ini tinggalah Delano seorang.
#####
Di Apartemen, Alana baru saja keluar dari kamarnya. Dan dia tidak mendapati keberadaan Delano di Apartemen. Alana tidak terlalu menghiraukan, dia berjalan ke arah dapur dan segera menyiapkan makan siang untuk dirinya.
Hingga dia selesai memasak dan makan, Delano masih belum kembali. Alana jadi bingung sendiri kenapa Delano pergi tanpa memberi tahunya. Tapi seharusnya Alana tidak perlu mempermasalahkan tentang Delano yang pergi tanpa memberi tahunya. Karena dia merasa jika dirinya tidak mempunyai hak untuk itu. Alana bukan istrinya dan dia tidak seharusnya selalu ingin di beri kabar oleh Delano.
"Biarkan saja dia pergi, aku tidak harus seperti ini karena memang aku tidak mempunyai hak apa-apa"
Alana kembali masuk ke dalam kamarnya, duduk diam di atas sofa dekat jendela kamarnya. Alana terdiam menatap kegiatan di jalanan di bawah Apartemen ini. Orang-orang yang terlihat kecil dan seperti semut. Tangannya mengelus lembut perutnya yang semakin membesar itu.
Alana mulai memikirkan bagaimana saat anaknya lahir nanti, dengan keadaan orang tuanya yang seperti ini. Alana tidak mengerti harus melakukan apa saat ini, untuk bisa menikah dan bersama dengan Delano. Alana yang masih bingung dengan keadaannya yang seperti ini.
"Kamu hanya perlu baik-baik saja Nak, Ibu akan selalu bersama dengan kamu. Tidak perduli bagaimana nanti kisah Ibu dan Ayah kamu"
Alana juga tidak tahu harus melakukan apapun. Hatinya yang masih belum bisa kembali dengan Delano. Alana masih terlalu bingung untuk mengambil keputusan di antara dirinya dan Delano.
Sampai malam hari Delano tidak kembali lagi ke Apartemen. Alana bingung kemana Delano pergi, karena sampai sekarang tidak juga datang. Meski Alana terus mencoba untuk tidak pedulipada Delano, tapi dia tetap saja merasa khawatir. Apalagi Delano yang tidak menghubunginya.
"Kemana dia? Atau mungkin dia pulang ke rumahnya, tapi dia sendiri yang bilang kalau dia belum menikah dengan siapa pun. Tapi sekarang aku jadi berpikir jika dia pulang ke istrinya"
Alana duduk menyandar di atas tempat tidur, mengelus perutnya dengan pikiran yang masih terus tertuju pada Delano. Alana tidak bisa terus merasa tidak peduli pada keadaan Delano yang sampai saat ini tidak ada kabar apapun.
Ketika pagi ini dia bangun, Alana masih tidak mendapati keberadaan Delano. Namun suara bell pintu membuat Alana segera menuju pintu Apartemen ini. Mengira jika Delano pulang pagi ini.
"Tapi kenapa dia tidak langsung masuk saja, padahal dia pemilik Apartemen ini"
Bersambung