My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Tidak Akan Berhenti Berjuang



Alana menatap wajah Delano yang terlelap di sampingnya. Akhirnya dengan adanya Alana di sampingnya, Delano bisa menyaksikan pemakaman Ayahnya dengan lebih tegar dan ikhlas. Alana mengelus kepala Delano dengan lembut, mau bagaimana dia berusaha keras untuk tidak peduli lagi pada Delano, nyatanya Alana tidak bisa melakukan itu. Dia tetap tidak bisa membohongi hatinya jika dia masih mencintai pria yang saat ini tertidur di sampingnya ini.


"Maafkan aku Delan, karena aku tidak tahu kalau Daddy kamu sedang sakit"


Alana merasa bersalah sendiri karena dia tidak menemani Delano di saat dia sedang dalam keadaan bingung dan terpuruk saat Ayahnya kritis kemarin malam. Bahkan Alana sempat berpikir yan tidak-tidak tentang Delano karena tidak pulang kemarin malam. 


Alana keluar dari dalam kamar dan melihat masih banyak tamu yang di sambut oleh Lerita. Melihat itu semakin membuat Alana yakin jika memang Lerita dan Delano telah menikah. Membuat Alana mengelus perutnya dengan helaan nafas panjang. Seolah menyadarkan dirinya sendiri jika saat ini dia masih bersama dengan Delano hanya karena anak dalam kandungannya ini.


Kamu harus menerima semua kenyataan yang ada ya, Nak. Jangan pernah marah sama Ibu dan Ayah, karena kami juga tidak pernah mengharapkan keadaannya seperti ini.


Lerita yang melihat Alana berdiri di depan pintu kamar tamu yang tadi di tempati oleh Delano, membuat dia segera menghampiri wanita hamil itu.


"Hai Alana, bagaimana keadaan Delan?"


Alana mencoba untuk tetap tersenyum, meski sebenarnya dadanya cukup terasa sesak saat ini. "Dia sedang tidur, keadaannya baik-baik saja kok"


Lerita mengangguk mengerti, dia mengajak Alana untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari depan kamar yang di tempati oleh Delano itu. Sebenarnya Alana juga ingin menolak, tapi Lerita juga terus memaksa membuat Alana tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf Alana jika aku harus mengatakan ini, tapi aku juga tidak mau jika pernikahan aku dan Delan harus berakhir karena kamu yang kembali hadir dalam hidupnya. Aku hanya minta kalau nanti bayi kamu sudah lahir, kamu harus benar-benar pergi dari kehidupan Delano. Kamu bisa membawa bayi kamu itu, karena aku juga bisa memberikan keturunan untuknya"


Alana terdiam dengan tangannya yang saling bertaut di atas pangkuannya. Sebenarnya dia ingin percaya dengan ucapan Delano jika dia memang belum menikah dengan siapa pun, tapi ketika Lerita berbicara seperti ini juga membuat Alana bimbang dan bingung siapa yang harus dia  percaya saat ini.


"Ak-aku..."


"Pliss Alana..." Lerita memegang tangan Alana dan menatapnya dengan lekat. "...Aku mohon sama kamu untuk meninggalkan Delano setelah kamu melahirkan bayi kamu ini. Kamu juga pasti tidak mau 'kan menjadi wanita perusak pernikahan orang lain"


"Pernikahan siapa?!"


Deg..


Seketika tangan Lerita yang memegang tangan Alana langsung terlepas dan dia menoleh ke arah Delano yang berjalan ke arah mereka. Alana juga terkejut dengan suara Delano yang terdengar begitu dingin.


"Delan, kamu sudah bangun ya" Lerita langsung bangun dan mengusap dada Delano. Seolah dia sedang menunjukan jika dirinya memang sudah menikah dengan Delano.


Namun tangannya itu langsung di tepis kasar oleh Delano. "Jangan terus membohongi dengan semua cerita bohongmu itu. Memangnya kapan kita menikah, Hah?!"


"Delan, aku..."


Delano menatap tajam Lerita, sangat tajam menusuk hingga membuat Lerita terdiam dan tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak pernah menikahim, dan aku juga tidak akan menikahi wanita manapun selain Alana!"


"Pergi dari sini sebelum aku semakin membuat kamu malu di depan semua orang. Dan jangan pernah datang lagi kesini atau berani menemui Alana lagi. Faham!"


Lerita melirik ke sekitarnya yang masih cukup banyak orang yang datang ke rumah ini untuk berbela sungkawa. Lerita semakin malu saja dengan ucapan Delano, belum lagi banyak orang yang saat ini berbeisik tentang keburukannya ini.


"Ada ya gadis seperti itu, mengaku-ngaku istri pria yang sama sekali tidak pernah mencintainya"


"Iya, heran juga kok ada ya gadis tidak tahu malu seperti dia"


Lerita berlari keluar dari rumah itu dengan wajah yang sangat malu. Sudah tidak tahu lagi harus bersembunyi dimana lagi dia saat ini, untuk menutupi wajah malunya itu.


Lihat saja, aku tidak akan menyerah sampai saat ini.Kamu sudah menggagalkan semua rencana aku Alana. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama dengan Delano.


Lerita masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan kawasan rumah Delano.


Sementara di dalam ruangan di rumah mewah ini, Alana masih terkejut dan juga bingung dengan keadaan saat ini. Alana yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Melihat Alana yang masih kebingungan itu, Delano langsung mengajak dia untuk masuk ke dalam kamar mereka untuk lebih leluasa berbicara dengan Alana.


"Jadi memang benar jika Lerita yang selalu datang padamu dan selalu mengatakan jika kita sudah menikah. Bahkan dia sudah meminta kamu untuk pergi. Sayang, aku tidak pernah menikah dengan siapapun, karena hanya kamu yang akan aku nikahi. Tidak akan ada wanita lain yang akan aku nikahi selain kamu"


Mata Alana berkaca-kaca mendengar itu, jelas dia melihat ketulusan di balik tatapan mata Delano. Tanpa berkata apapun lagi, Alana langsung memeluk Delano dengan erat.


"Maafkan aku karena aku sempat meragukan kamu dan tidak percaya dengan kamu. Maaf"


Tangisan Alana pecah dalam pelukan Delano. Alana yang sempat tidak percaya pada ucapan Delano. Dia yang sempat meragukan ucapan Delano, karena memang Lerita yang selalu mengatakan jika dirinya sudah menikah dengan Delano.


Delano mengelus kepala Alana dengan begitu lembut. Dia sangat menyayangi wanitanya ini. Delano yang tidak bisa jika harus kehilangan Alana, membayangkannya saja sudah membuat dia takut. Karena hanya Alana yang berhasil membuat hatinya benar-benar jatuh cinta pada pesona dan kelembutannya.


"Semuanya akan berubah ketika takdir berbicara. Sejak awal aku tahu jika kamu adalah takdir untukku"


Benar, bahkan Alana sudah sempat menikah dengan Ayahnya Delano. Tapi dengan tekad mereka berdua dan cinta mereka yang begitu besar, membuat Alana dan Delano berhasil melewati semuanya. Meski mungkin cara mereka salah, Alana yang rela menyerahkan kesuciannya pada Delano di saat statusnya yang sudah menikah. Jelas itu adalah kesalahan, namun keduanya mungkin tidak akan pernah bisa bersama seperti sekarang jika tidak melakukan itu.


Alana melerai pelukannya, menatap Delano dengan lekat. Merasa tidak percaya jika saat ini dia telah bisa memeluk pria yang dia cintai itu tanpa ragu dan rasa takut lagi.


"Terima kasih karena kamu sudah menunggu aku dan mau memperjuangkan cinta kita"


Delano mengelus kepala Alana, memberikan kecupan di kening wanitanya itu. "Aku tidak akan pernah berhenti berjuang untuk bersama dengan kamu"


Bersambung