My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Kemarahan Abraham?!



Terdiam dengan pikiran yang mulai kacau, Ibu yang baru saja kedatangan tamu yang tidak di undang itu membuat dirinya merasa terkejut dan tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang di masa lalunya ini.


"Mau apa kau kesini?"


Sejak dia meninggalkan pria di depannya puluhan tahun lalu, dan ketika sekarang bertemu kembali, Ibu benar-benar heran dengan penampilannya yang benar-benar berubah. Sangat terlihat gagah dengan balutan jas mahal di tubuhnya.


"Aku kesini untuk mengambil anakku, dimana anakku sekarang?"


Meski sebenarnya Abraham sudah tahu dimana keberadaan Alana. Namun ketika dia mendengar cerita dari Delano tentang Alana yang tidak di perdulikan lagi oleh Ibunya, bahkan dengan tega Ibu mengatakan jika anak pertamanya sudah meninggal pada orang-orang. Tentu saja hal itu membuat Abraham tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak segera menemui mantan istrinya ini.


"Tidak ada, Alana sudah tidak tinggal bersama denganku lagi. Anak itu tidak pernah menurut padaku, jadi dia tidak akan mau terus tinggal bersamaku"


Abraham tersenyum sinis mendengar itu, jelas dia tahu bagaimana Alana yang sudah menjadi korban dari keegoisan orang tuanya ini. Mendengar cerita dari Delano, benar-benar membuat Abraham sangat murka.


"Jika memang kamu tidak bisa menyayangi putriku, kenapa kamu harus pergi dengan membawa dia. Ingat Rina, kamu tidak akan bisa menebus segala perlakuan kamu yang akan membuat anak kamu itu sangat terluka. Kamu akan sangat menyesal suatu saat nanti karena sudah mengabaikan anak sebaik Alana"


Ibu terrdiam mendengar itu, entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa nyeri ketika mengingat semua yang dia lakukan pada Alana. Anak gadisnya yang terluka karena semua pebuatannya. Namun saat ini dia sudah bahagia bersama dengan anak dan suaminya, dan dia tidak mau sampai harus terganggu dengan kehadiran Alana lagi. Yang pastinya akan merusak kebahagiaan keluarganya ini.


"Kalau kamu memang ingin bertemu dengan Alana, silahkan cari dia. Lagian dia tidak akan percaya kalau kamu adalah Ayah kandungnya, karena aku sudah bilang jika Ayah kandungnya telah meninggal selama dia berada di dalam kandungan"


Plak..


Tamparan keras yang di layangkan Abraham pada Ibu. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak memberikan sedikit pelajaran pada mantan istrinya ini.


"Ini tidak seberapa, tunggu saja pembalasanku atas luka yang kamu tanamkan di hati anakku"


Abraham pergi dari hadapan Ibu, karena dia takut tidak bisa menahan emosi. Dia masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya menuju Apartemen. Abraham benar-benar tidak pernah menyangka jika mantan istrinya itu akan berprilaku seperti itu pada anaknya sendiri. Padahal jelas dia tahu bagaimana Alana yang begitu penurut.


"Lihat saja, aku akan membuat hidup kamu hancur. Lebih hancur daripada saat kau menghancurkan hidupku"


Abraham mencengkram kemudi dengan kekesalan yang sangat tidak bisa dia tahan. Dia berjuang selama ini sampai bisa mempunyai perusahaan sendiri, hanya karena ingin membuktikan jika dirinya bisa menghancurkan orang-orang yang telah menghancurkan dirinya dan anaknya. Abraham akan membalaskan segala sakit hati yang di alami oleh putri kecilnya.


########


"Sayang, ayo kita jalan-jalan keliling komplek. Kata Dokter setelah mendekati persalinan, aku harus banyak berjalan agar memperlancar proses melahirkan"


Delano yang baru saja keluar dari ruang ganti langsung menghampiri istrinya, mengecup kening Alana dengan lembut. Sebenarnya semakin hari Delano semakin merasa cemas dengan keadaan istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Delano takut dengan banyak hal, banyak yang dia pikirkan tentang kelahiran anaknya nanti. Terlalu cemas dan takut.


"Yaudah ayo, tapi kita jalan-jalannya santai saja dan jangan terlalu jauh"


"Iya Sayang, kita hanya keliling komplek"


Dan Delano menemani istrinya untuk jalan-jalan sore. Alana selalu terlihat senang ketika pergi jalan-jalan seperti ini. Dia selalu terlihat tidak sabar untuk segera bertemu dengan anaknya.


"Sayang aku mau itu"


"Jangan pake pedes"


Bibir Alana langsung cemberut mendengar itu, tapi mau bagaimana lagi daripada suaminya tidak mengizinkan dia untuk membeli makanan yang dia inginkan itu.


"Pake saus boleh ya, kan gak pedas"


"Sedikit saja"


Alana mengangguk saja, meski sebenarnya dia sedikit kesal dengan suaminya yang selalu saja membatasi makanan pedas yang ingin dia makan. Selalu dengan alasan jika dia sedang hamil dan harus menjaga kesehatan. Padahal aku sangat suka makanan itu kalau pake pedas yang banyak. Gumamnya dengan bahu yang lemas karena dia tidak bisa mewujudkan apa yang ada dalam bayangannya.


"Sudah?" tanya Delano ketika istrinya itu sudah membeli banyak makanan, yang sebenarnya ujung-ujungnya dia tidak akan menghabiskan semua makanan yang di belinya itu.


"Iya, sekarang kita langsung pulang saja"


Delano mengangguk, dia merangkul pinggang istrinya dengan sebelah tangannya yang penuh dengan kantung plastik kecil berisi makanan yang di beli oleh istrinya.


"Sayang, kamu kenapa si? Akhir-akhir ini kok banyak diam? Apa ada masalah?"


Sepertinya Alana mulai menyadari kegelisahan suaminya akhir-akhir ini. Dia sering melihat Delano melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, dan terkadang tidak fokus saat Alana mengajaknya berbicara.


"Aku tidak papa, aku hanya sedang deg-degan saja menjelang persalinan kamu. Sayang, kamu harus baiik-baik saja ya, aku tidak akan bisa melihat kamu yang kenapa-napa"


Alana menghentikan langkahnya membuat suaminya juga ikut berhenti. Alana menatap Delano dengan lekat, lalu dia menaruh tangan Delano di atas perut besarnya itu. Terasa tendangan yang cukup kencang dari dalam sana.


"Kamu yakin kalau aku bisa, kita akan berjuang sama-sama ya"


Delano mengangguk, tentu saja dia ingin istri dan anaknya baik-baik saja. "Aku pasti akan selalu bersama denganmu untuk melewati perjuangan kamu melahirkan anak kita nanti. Tapi aku tetap merasa deg-degan ini"


Alana tersenyum mendengar itu, jelas dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja dia mencoba yakin jika dirinya akan bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja. Dia akan berjuang untuk anaknya ini.


Mereka telah sampai di rumah, Alana langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Merasa cukup lelah, padahal dia hanya berjalan-jalan sebentar saja, namun efek dari kehamilannya membuat dia gampang sekali lelah.


"Minum dulu Sayang" Delano menyerahkan satu gelas air pada istrinya yang langsung di terima oleh Alana dan dia langsung meminumnya.


"Terima kasih Sayang"


Delano mengangguk, dia mengambil kembali gelas dari tangan istrinya dan kembali menyimpannya di atas meja. Delano ikut duduk di samping istrinya yang mulai membongkar makanan yang dia beli barusan.


"Sayang, kamu mau?"


Delano menggeleng pelan, dia tersenyum saja melihat istrinya yang terlihat begitu lahap memakan semua jajanan yang dibelinya.


Bersambung