My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Cinta Delano Yang Begitu Besar



Dibalik pintu kamar yang sedikit terbuka, Dario menatap anaknya yang sedang benar-benar frustasi karena kehilangan Alana.


Bagaimana jika Delano tahu kalau Alana pergi dalam keadaan mengandung anaknya. Dia pasti akan semakin frustasi dari sekarang.


Salahnya yang termakan emosi dan amaran,sehingga tidak memikirkan keadaan anaknya setelah Alana pergi dari kehidupannya. Bagaimana Dario yang malah melarang Alana untuk tidak memberi tahukan Delano tentang kehamilannya itu. Tidak pernah menyangka jika  keadaan Delano akan sehancur ini ketika Alana menghilang dari kehidupannya. 


Bahkan Delano lebih frustasi sekarang daripada saat dia mengetahui jika Alana yang menikah dengan Ayahnya. Hal ini menyadarkan jika, Delano masih terlihat baik-baik saja ketika melihat wanita yang dicintainya ada di dekatnya. Meski dia tidak bisa memilikinya. Daripada saat ini, ketika Alana benar-benar pergi dari kehidupannya sehingga Delano pun tidak bisa melihatnya lagi, dia tidak bisa mengetahui keadaannya lagi.


Cinta Delano pada Alana memang begitu besar.


Entah apa yang akan di lakukan Delano saat ini, ketika fikirannya sudah benar-benar frustasi. Delano yang merasa lebih kacau ketika sekarang Alana uang pergi entah kemana. Bahkan sudah hampir 5 bulan, Delano tidak bisa menemukan Alana. Entah harus bagaimana dan kemana lagi Delano mencari keberadaan Alana.


"Delan, sampai kapan kamu akan seperti ini? Semuanya tidak akan pernah bisa di selesaikan hanya dengan diam seperti ini. Sampai kapan  kamu akan berdiam diri di dalam kamar seperti ini? Semuanya harus di selesaikan, bukan hanya terpuruk dengan kesedihan seperti ini"


Dario sudah mulai kesal dengan Delano yang terus terpuruk dengan perginya Alana. Awalnya Dario tidak pernah menyangka jika cinta Delano untuk Alana begitu besar. Ternyata Dario benar-benar telah menghancurkan hidup anaknya dengan merebut wanita yang dicintai anaknya.


Delano bangun dari tidurnya, menatap Dario dengan wajahnya yang kacau. Rambut yang sudah panjang dan dia biarkan acak-acakan. "Aku akan pergi ke kantor sekarang"


"Perbaiki penampilanmu, karena tidak mungkin kamu pergi ke kantor dengan keadaan yang seperti ini"


Delano tidak menjawab, tapi dia langsung berlalu ke ruang ganti. Dia memang tidak bisa memperbaiki penampilannya jika memang fikirannya yang sedang kacau. Karena tidak ada Alana di sampingnya. Delano yang tidak  mengetahui keberadaan Alana membuat dia tidak bisa fokus pada hal apapun.


Ketika dia masuk ke dalam kantor pun, dia memang memakai pakaian kantor, tapi tidak serapi biasanya. Delano dengan rambut yang sedikit panjang, belum lagi bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya. Menambah kesan terlihat lebih tua, dari umurnya sekarang.


Tapi Delano tidak peduli dengan pandangan orang-orang padanya.  Karena saat ini Delano hanya ingin menyibukan diri dengan pekerjaan untuk bisa melupakan sejenak saja masalah yang sedang di hadapinya saat ini.


Delano benar-benar menyibukan dirinya dengan pekerjaan hanya karena dia ingin melupakan Alana yang memang seharusnya ada di sampingnya dan menemani Delano di setiap kariernya. Namun kedatangan Ayahnya benar-benar membuat hancur impian dan cerita yang sudah di rangkai sejak Delano dan Alana berpacaran. Dario benar-benar telah menghancurkan semuanya hingga sekarang Delano harus kehilangan Alana.


"Hai Delan, apa kabarnya?"


Dan disaat Delano yang masih frustasi akan kehilangan Alana. Di saat itu juga Lerita yang masih belum menyerah untuk mendekatinya. Meski Delano sudah bersikap sangat dingin padanya, namun Lerita masih saja terus mendekatinya dan terus mencari kesempatan untuk bisa bersamanya. Semuanya memang sengaja Lerita lakukan karena memang dirinya yang merasa mendapatkan dukungan penuh dari Ayahnya Delano.


"Mau apalagi kau datang kesini?"


Lerita duduk di sofa yang ada di ruangan itu, menatap Delano dengan tersenyum manis. "Sampai kapan pun kamu bersikap dingin padaku, aku akan tetap mengejar kamu sampai kamu benar-benar menjadi milikku Delan"


Delano mendongak dan mengalihkan fokusnya pada berkas yang sedang dia baca. Menatap Lerita dengan sangat dingin. "Terserah apa yang akan kau lakukan dan sampai kapan kau akan terus mengejarku, karena pada kenyataannya cintaku hanya untuk Alana seorang"


Lerita terdiam mendengar itu, dia sudah merasa biasa saja dengan ucapan dingin Delano padanya. Tapi memang Leritanya saja yang belum mau menyerah dengan semua itu. Karena dia yang masih merasa penasaran pada Delano, apa benar ada pria yang begitu setia dan hanya mencintai satu wanita saja dalam hidupnya?


######


Di tempat yang berbeda, Alana yang baru saja pulang dari Dokter memeriksa kandungannya yang sudah terlihat membuncit. Sebenarnya jika bukan karena Alana yang ingin bayinya juga tumbuh sehat, dia malu jika harus keluar rumah dan memeriksa kandungannya yang sudah besar ini.


"Itu yang tinggal di rumah Ibu Ratih dan Pak Yadi"


"Iya, yang tidak jelas asal usulnya terus sekarang dia hamil lagi. Apa jangan-jangan anaknya Pak Yadi ya? Sejak anaknya menghilang, mereka tidak mempunyai anak lagi 'kan?"


"Bisa jadi itu, ihh"


Alana hanya menundukan kepalanya ketika mendengar dengan jelas para tetangga yang membicarakannya. Alana memeluk perutnya yang jelas sudah tidak bisa dia tutupi.


Sabar ya Nak, Ibu janji akan selalu menjaga kamu.


Rasanya Alana ingin mengakhiri semua ini jika dia tidak mengingat keberadaan calon bayinya dalam kandungannya. Alana juga seorang Ibu yang ingin anaknya hidup dengan baik, meski dia tahu kalau anaknya nanti mungkin akan malu mempunyai Ibu seperti Alana. Hamil bukan dengan suaminya, namun malah dengan anak dari suaminya.


Ketika dia sampai di rumah Ibu Ratih, dia langsung duduk di kursi. Menghembuskan nafas pelan karena sekarang dia merasa jika dirinya ini sangat hina dengan kisah yang dia alami saat ini. Tangannya tidak berhenti mengelus perutnya, tendangan dari bayinya sedikit membuyarkan kesedihan Alana saat ini. Setidaknya dia bisa merasakan bayinya sehat dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Alana, sudah pulang ya. Bagaimana kata Dokter?"


Alana menoleh pada Ibu Ratih, dia tersenyum tipis. "Baik Bu, semuanya sehat dan baik"


"Syukurlah"


Betapa Alana bersyukur karena di pertemukan sepasang suami istri ini yang mau menampung Alana dengan keadaannya yang seperti ini. Bersyukur karena sepasang suami istri ini begitu tulus pada Alana.


Apa Ayah dan Ibu sama sekali tidak berniat mencariku?


Terkadang Alana benar-benar merasa sendiri dan tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa jadi tempat dia pulang ketika dia berada dalam titik terendahnya seperti saat ini. Padahal sebenarnya Alana mempunyai keluarga, namun keuarganya seolah tidak pernah peduli padanya. Alana merasa jika kedua orang tuanya memang tidak pernah benar-benar sayang padanya.


"Alana masuk ke kamar dulu ya Bu"


"Iya Nak"


Bersambung