My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Pria Misterius?!



"Semuanya baik-baik saja, tinggal menunggu waktu lahiran saja"


Penjelasan Dokter cukup membuat Alana tenang, namun sepertinya tidak dengan Delano. Karena pria itu malah terlihat gelisah sejak mereka keluar dari ruangan Dokter. Membuat Alana merasa heran dengan sikap suaminya ini.


"Sayang kamu kenapa? Kok kayak gelisah gitu?" Akhirnya Alana berani bertanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


Delano menghembuskan nafas pelan, rasanya dia juga tidak bisa menutupi kegelisahannya ini. "Aku hanya memikirkan tentang kelahiran kamu nanti. Aku takut menghadapinya, aku dengar melahirkan itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Apa kamu akan kuat, Alana?"


Alana mengangguk dengan yakin, entahlah meski sebenarnya dia juga belum mengalami hal itu. Tapi sepertinya naluri seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu, Alana yakin jika dirinya pasti bisa melahirkan anaknya dengan normal, sehat dan selamat.


"Kamu tenang saja, aku yakin akan bisa melahirkan anak kita dengan sehat dan selamat. Aku bisa dan pasti bisa melewati semua ini"


Delano mengelus kepala istrinya itu, melihat senyuman penuh kayakinan dari Alana membuat Delano yakin jika istrinya itu memang sudah untuk menjadi wanita yang seutuhnya. Kodratnya wanita yang memang akan menjadi seorang Ibu, entah itu cepat atau lambat. Semuanya pasti akan mengalami hal itu. Mau melahirkan sendiri atau mungkin tidak, tapi mereka semua akan mengalami menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya.


"Aku tahu kamu hebat dan pastinya kamu akan bisa melahirkan anak kita itu"


Alana tersenyum mendengarnya, ya dia yakin jika dirinya pasti bisa menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya. Alana yakin itu.


Alana meraih tangan Delano yang memegang kemudi, mengelusnya dengan lembut. "Kamu hanya perlu tenang dan memberikan aku semangat untuk aku melewati semua ini. Terima kasih karena sudah berada di sisiku di saat ini. Aku pernah membayangkan melahirkan anak ini tanpa kamu di sampingku, tapi ternyata Tuhan begitu baik hingga mempertemukan kita sebelum aku melahirkan"


Delano mengangguk, jelas dia juga akan sangat menyesal jika tidak bisa menemani Alana melahirkan. Penyesalan yang mungkin tidak akan hilang selamanya jika memang hal itu terjadi.


"Pokoknya kita sudah sampai titik ini dan bisa bersama seperti sekarang. Jadi mulai saat ini kita harus tetap mempertahankan kebersamaan kita ini, jangan sampai perpisahan itu kembali terjadi"


Alana mengangguk, mereka tidak akan terpisahkan lagi kecuali dengan maut. Sudah banyak rintangan yang mereka lalui untuk bisa sampai di titik ini. Bagaimana dirinya dan Delano yang harus terpisahkan oleh sebuah pernikahana paksa diantara Alana dan Dario. Namun semua itu tetap bisa mereka lewati hingga saat ini.


"Loh Sayang, ini kita mau kemana? Kok tidak pulang ke rumah"


"Ikut ke Kantor sebentar ya, aku ada meeting penting siang ini"


Alana mengangguk mengerti dan dia juga tidak masalah jika memang harus ikut ke Kantor suaminya. Dia senang karena bisa melihat dan merasakan kembali suasana kantor saat dulu dirinya bekerja. Parusahaan yang menjadi tempat dimana Delano dan dirinya saling mengenal dan bertemu. Sering berada dalam pekerjaan yang sama membuat mereka menjadi dekat dan akhirnya benih-benih cinta yang mulai muncul dalam hati keduanya.


Alana yang jatuh cinta pada sosok Delano yang ternyata memiliki perhatian tersendiri di balik sikapnya yang begitu dingin dulu. Tidak tahu saja jika Delano memang sudah lebih dulu jatuh cinta pada Alana, saat ketulusan dan kelembutannya berhasil membuat Delan jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona Alana.


"Aku meeting dulu sebentar, kamu tunggu saja disini"


Delano mengecup kening dan kedua pipi istrinya sebelum dia berlalu ke ruang meeting. Sementara Alana hanya diam di dalam ruangan Delano, berjalan perlahan mengelilingi ruangan yang luas ini dengan memperhatikan sekitarnya.


Ada sebuah foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding dan di atas meja juga ada foto kebersamaan mereka saat masih pacaran dulu. Alana tersenyum melihat foto itu, jelas dia ingat bagaimana dirinya selalu bahagia dan semangat untuk berangkat bekerja karena ada Delano disana.


"Aku tidak pernah menyangka jika kisah kita akan rumit seperti ini"


Semua rintangan yang dia lalui, tidak pernah menyangka akan seperti ini. Bahkan Alana harus mengalami menikah dengan Ayah dari Delano yang saat itu memang sudah menjadi mantan pacarnya. Tapi ternyata kekuatan cinta mereka tetap bisa mempersatukan mereka kembali meski sudah banyak sekali rintangan yang mereka lalui.


Sebuah cinta yang begitu besar perjuanganya akan menjadi sebuah cerita yang indah untuk Alana kenang dan dia ceritakan pada anak-anaknya nanti. Sebagai pelajaran untuk mereka jika untuk mendapat kebahagiaan dengan cinta sejati itu tidak semudah yang diucapkan kata-kata.


#######


Ketika Delano kembali ke ruangannya, namun dia tidak menemukan istrinya disana. Membuat Delano sedikit panik dan cemas karena dirinya takut jika istrinya pergi kemana saja. Delano langsung menelpon istrinya itu.


"Sayang, kamu dimana?"


"Aku di bawah, lagi beli rujak di pinggir jalan"


Delano menghela nafas pelan, dia tahu jika istrinya sejak hamil memang sangat menyukai makanan itu. Delano segera menyusul Alana di bawah. Pastinya dia membeli rujak di taman sebrang kantor.


Namun ketika dia sampai disana, Delano melihat istrinya yang sedang berbicara dengan seseorang yang Delano tidak tahu siapa karena dia tidak melihat wajahnya. Orang itu membelakangi wajahnya.


"Sayang.."


Alana melongokan wajahnya yang terhalangi oleh orang yang berdiri di depannya. "Sayang, sini aku disini"


Delano berjalan mendekatinya, dan ketika dia sampai di dekat istrinya barulah dia melihat siapa orang yang berdiri di depan istrinya itu. Seorang pria yang memakai topi dan jaket. Delano menyipitkan matanya untuk mengingat siapa  yang sekarang berdiri di depannya itu.


"Kalau begitu saya permisi"


Pria itu buru-buru pergi dari hadapan Alana dan Delano.


"Iya Pak, terima kasih karena sudah menolong saya"


Delano langsung menoleh pada istrinya ketika mendengar ucapan istrinya itu. "Sayang, dia siapa"


"Itu, tadi aku hampir jatuh disitu karena tersandung batu kecil. Tapi beruntung Bapak tadi menolong aku"


Delano langsung memeriksa tubuh istrinya dengan cemas mendengar itu. "Tapi kamu tidak papa 'kan? Apa ada yang sakit tau luka? Kamu si pake pergi kesini sendiri, kalau mau kemana-mana itu harus bilang sama aku. Tunggu dulu aku, nanti aku bakal anter kamu"


"Sayang, aku tidak papa. Aku baik-baik saja, kamu tidak usah terlalu cemas begitu"


Delano menghela nafas pelan, dia lega melihat istrinya yang baik-baik saja. "Sekarang ayo kita pulang, mau makan siang dimana?"


"Di rumah saja, kemarin aku titip cumi sama Mbak. Mau aku masak sekarang"


Delano mengangguk, dan dia segera membawa istrinya pulang.


Bersambung