
Alana terbangun dan menyadari tidak ada suaminya. Alana bangun dengan mengucek matanya yang terasa perih. Menatap jam dinding, hari sudah larut tapi kemana suaminya? Apa mungkin ada pekerjaan ya, jadi dia berada di ruang kerja sekarang. Gumamnya dalam hati.
Alana turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi, mengira jika suaminya berada disana. Tapi ternyata tidak ada, membuat Alana yakin jika suaminya itu memang sedang berada di ruang kerja. Alana segera pergi ke ruang kerja suaminya.
"Sayang, kamu disin.."
Namun ketika dia membuka pintu, Delano juga tidak ada disana. Sekarang Alana bingung sendiri harus mencari suaminya kemana. Dia turun ke lantai bawah dan memang Delano tidak ada. Perasaannya mulai khawatir dan cemas karena Delano yang tidak ada di rumah malam hari begini.
Alana kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan menelepon suaminya. Dia bingung dengan suaminya yang tiba-tiba menghilang di malam hari seperti ini. Tidak biasanya Delano seperti ini, dia selalu izin kemana pun dia ingin pergi.
"Dia kemana si, kenapa pergi tidak bilang-bilang"
Alana masih mencoba untuk menghubungi suaminya, untuk dering pertama tidak mendapat jawaban dari Delano. Tapi ketika Alana kembali meneleponnya, barulah dia mengangkatnya.
"Iya Sayang"
"Kamu dimana? Kenapa pergi gak bilang sama aku"
Di tempat yang berbeda, Delano langsung menatap Abraham yang terlihat begitu antusias mendengar suara anaknya. Sengaja dia menyuruh Delano untuk mengangkat telepon dari Alana tapi dengan menggunakan load sepeaker.
"Sayang, aku ada pertemuan mendadak dengan rekan kerja. Tadi kamu sudah tidur jadi tidak sempat aku bilang sama kamu, sekarang aku akan segera pulang"
"Beneran ya, cepat pulang aku tidak bisa tidur ini"
"Iya Sayang, aku akan pulang sekarang"
Delano memutuskan sambungan telepon dengan istrinya, lalu dia menatap Abraham yang tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa mendengarkan suara anaknya yang manja itu, sungguh Abraham sangat merindukan putrinya itu.
"Ternyata dia sangat manja ya padamu"
Delano tersenyum dan mengangguk, memang Alana yang begitu manja padanya. "Ya, apalagi dengan kehamilannya itu. Dia sedang manja-manjanya padaku, tapi aku senang dengan Alana yang seperti ini"
Abraham menepuk bahu Delano, seolah dia sedang menaruh harapan yang tinggi pada menantunya itu. "Papa harap kamu bisa menjadikan Alana ratu dalam hidup kamu. Jangan sampai membuat Alana kecewa dan terluka. Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik untuk putriku"
Delano mengannguk, dia memeluk Ayah mertuanya dengan menepuk dua kali punggung Abraham. "Papa tenang saja, aku akan selalu menjaga Alana dan memberikan yang terbaik untuk Alana"
Abraham mengangguk, dia percaya itu. Tentu saja karena dia jelas melihat cinta yang begitu besar di balik tatapan Delano. Jelas dia tahu kalau Delano memang sangat mencintai putrinya.
"Yaudah, kalau gitu aku pulang dulu ya Pa. Tadi 'kan dengar sendiri kalau istriku itu sudah merengek karena aku tidak ada di rumah"
Abraham mengangguk dan mengizinkan Delano untuk segera pergi. Dan setelah Delano pergi, dia juga ikut pulang dari hotel itu karena dia sudah sewa Apartemen untuk dia selama tinggal di kota ini.
Ketika Delano sampai ke rumah, dia melihat Alana yang menunggunya di atas sofa dengan wajahnya yang cemberut. Dia merasa kesal juga dengan suaminya yang pergi tanpa bilang, meski itu tentang pekerjaan.
Delano tahu istrinya sedang merajuk padanya, membuat dia langsung membujuknya agar segera memaafkan dirinya.
Alana menatap Delano dengan bibir yang mencebik kesal. Dia mengalungkan tangannya dia leher Delano. "Ayo gendong aku, bawa aku ke kamar. Aku ingin tidur tapi tidak bisa karena kamu yang tidak ada disampingku"
Delano terkekeh mendengar itu, istrinya ini memang sangat manja hingga dia hampir tidak mengenali sosok Alana yang sekarang. Hormon kehamilan juga yang membuat Alana jadi sangat manja seperti ini. Tapi Delano juga memaklumi itu, karena dia juga senang dan tidak merasa terganggu dengan kemanjaan istrinya ini.
"Sayang, memangnya siapa si yang ngajakin kamu ketemu untuk urusan pekerjaan di malam hari seperti ini. Memangnya tidak bisa di tunda sampai hari esok?"
Delano menggeleng, dia mengecup kening istrinya yang berada di atas gendongannya. Terus berjalan menuju kamar mereka. "Tidak bisa Sayang, karena besok pagi sekali dia juga harus segera kembali ke kota asalnya. Dia hanya sebentar disini hanya untuk menyelesaikan kerja sama dengan peruusahaanku"
Delano sebenarnya merasa bersalah karena dia berbohong pada istrinya. Tapi bagaimana lagi karena dia juga tidak mungkin membicarakan hal yang sebenarnya. Saat ini Delano harus menjaga pikiran Alana agar tidak stres karena terlalu banyak hal yang dia pikirkan. Delano tidak ingin keadaan istrinya dan calon bayinya akan terpengaruh jika Alana mengetahui hal yang pastinya akan membuat dia sangat shock.
Sampai di dalam kamar, Delano menidurkan istrinya di atas tempat tidur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Alana, lalu memberinya kecupan di keningnya.
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya. bersih-bersih dulu"
Alana mengangguk dan membiarkan Delano berlalu ke ruang ganti. Sementara dirinya kembali bangun dan duduk menyandar di atas tempat tidur. Kantuknya seolah telah hilang karena tidurnya yang terganggu barusan. Jadi Alana sulit untuk tidur kembali. Padahal dia baru tidur 3 jam saja.
Delano keluar dari ruang ganti setelah ganti pakaian. Dia ikut naik ke atas tempat tidur, mengelus kepala istrinya yang sedang bersandar itu. "Sayang ayo tidur, kok kamu malah duduk begini?"
Alana menoleh, dia menyandarkan kepalanya di bahu Delano dengan tangan yang melingkar di tubuh pria itu. "Aku tidak ngantuk lagi Sayang"
Pikiran jahil penuh dengan kelicikan langsung muncul di kepala Delano. Dengan gerakan yang cepat, dia langsung merubah posisi istrinya. Alana yang sekarang tertidur di bawah kungkungannya.
"Kalau begitu, ayo kita bermain dulu sambil menunggu kamu ngantuk"
Alana terbelalak mendengar itu, rasanya dia menyesal karena sudah mengatakan jika dirinya tidak mengantuk. Karena suaminya sekarang seolah mendapatkan kesempatan baru untuk bisa bermain dengan Alana malam ini.
Cup..
Ketika Delano mulai memberikan kecupan di bibirnya yang langsung berubah menjadi sebuah luma*tan halus. Alana juga tidak bisa menolak, karena tubuhnya juga menginginkannya.
"Ahh Sayang.."
"Iya Sayang, kau bisa berteriak dengan kencang"
Malam ini kedua insan di dalam kamar masih bergelut dengan kegiatan mereka yang menggairahkan. Dinginnya malam tidak berpengaruh apapun pada mereka, karena sekujur tubuhnya di penuhi dengan keringat.
Bersambung