My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Masih Cemburu?!



Ketika sampai di Apartemen, Alana menatap paper bag di atas meja. Semua barang-barang yang di belikan Delano memang bukan barang-barang yang sembarangan. Sebenarnya Alana tidak mau membeli banyak barang seperti ini, tapi dia juga tidak bisa membantah Delano. Karena sifat pria itu masih saja sama, Delano tidak pernah mau di bantah ketika apa yang dia ingin lakukan. Seperti membelikan barang-barang mewah ini untuk Alana.


"Delan, sebenarnya kamu tidak perlu membeli banyak barang seperti ini untuk aku"


Delano yang sedang mengambilkan minum untuk Alana, langsung menoleh pada gadis yang sedang duduk di sofa itu. "Tidak papa, aku hanya ingin membuat kamu senang. Aku tahu jika selama ini kamu pastinya sudah lama tidak berbelanja seperti ini 'kan"


Alana menoleh pada Delano yang sudah berdiri di dekat sofa yang dia duduki dengan menyodorkan segelas air pada Alana. Dia segera mengambil segelas air putih yang di berikan Delano itu.


"Terima kasih"


Alana segera meminum air putih dalam gelas itu. Menyimpan gelas di atas meja dan menatap pada Delano yang kini duduk di depannya. 


"Delan, sebenarnya aku sudah tidak terlalu memikirkan tentang berbelanja seperti dulu. Karena sekarang yang aku pikirkan hanya tentang kebutuhan yang memang sangat aku perlukan"


Delano tersenyum mendengar itu,  merasa jika Alana-nya memang sudah berubah lebih baik lagi. Dan Alana yang juga terlihat lebih dewasa lagi. 


"Ternyata aku memang tidak salah memilih kamu untuk menjadi Ibu dari anak aku. Kamu pastinya akan bisa mendidik anak kita dengan sebaik mungkin nanti"


Alana terdiam mendengar ucapan Delano barusan, mengelus perutnya sendiri seolah sedang meyakinkan jika apa yang diucapkan Delano barusan memang tertuju padanya. Padahal Alana tahu sendiri jika Delano yang sudah menikah dengan Lerita. Tapi dia masih bisa-bisanya berkata seperti itu pada Alana.


Dia sudah menikah tapi masih saja menggombal padaku. Apa dia tidak sadar jika saat ini dia sudah mempunyai istri.


"Kamu istirahat sekarang, aku mau pergi dulu. Diusahakan nanti malam akan pulang kesini ya"


Delano berdiri dan menghampiri Alana, mengelus kepala gadis itu dan memberikan kecupan lembut di puncak kepalanya itu sebelum dia pergi.


Alana hanya diam saat terasa begitu lembut perlakuan Delano padanya. Alana yang tetap lemah dengan segala perhatian dan kelembutan Delano padanya. Kalau begini terus, bagaimana dia bisa melupakan Delano dan perasaan cintanya ini. Alana yang bingung sendiri sekarang.


Alana mengelus perutnya dengan begitu lembut, tendangan dari dalam sana selalu membuatnya tersenyum bahagia. "Baik-baik ya Nak, Ibu akan selalu menjaga kamu sampai nanti waktunya kamu lahir ke dunia ini. Semoga kita berdua bisa melewati semua ini, tidak papa kalau Ayah kamu memang sudah mempunyai wanita lain selain Ibu. Yang terpenting Ibu punya kamu"


Alana berdiri dengan berpegangan pada sofa, semakin besar kehamilannya semakin membuat gerak Alana terbatasi. Dia masuk ke dalam kamar untuk mandi dan beristirahat sejenak, karena tubuhnya yang selalu merasa lemah sejak hamil. Butuh banyak istiahat.


######


Delano kembali ke rumah Dario, dia terpaksa harus pulang ke rumah Ayahnya karena mendengar kabar jika Ayahnya sedang sakit saat ini. Delano masuk ke dalam kamar Dario dan melihat Ayahnya yang terbaring di atas tempat tidur. Delano menghampirinya, dia duduk di pinggir tempat tidur.


"Dad, ada apa sama Daddy? Kita ke rumah sakit saja ya, biar Daddy langsung di tangani dengan baik"


Dario tersenyum lirih, dia menatap anaknya yang kembali ada keceriaan dan kebahagiaan ketika Alana yang kini sudah kembali pada Delano.


"Alana baik Dad, kandungannya juga baik. Apa Daddy ingin bertemu dengannya?"


Dario langsung menggeleng pelan, dia meraih tangan Delano dan menggenggamnya dengan lembut. "Tidak perlu, Alana pasti sangat takut untuk bertemu lagi dengan Daddy. Melihat kamu yang kembali bahagia saja, sudah cukup bagi Daddy"


Delano tersenyum mendengar itu, memang sekarang Ayahnya ini sudah benar-benar berubah. Dario sudah lebih mementingkan kebahagiaan Delano.


"Kamu kembali temui Alana sana. Dia pasti menunggu kamu pulang sekarang"


Delano terdiam beberapa saat sampai dia mengingat suatu hal yang ingin dia katakan pada Ayahnya ini."Tapi Dad, saat aku menemui Alana di Restaurant itu. Alana bilang kalau ada istri aku yang datang padanya. Padahal Daddy tahu sendiri kalau aku ini belum menikah. Kenapa Alana sampai berpikir kalau aku sudah menikah ya"


"Lerita, pasti dia yang mendatangi Alana. Karena tidak mungkin ada orang lain yang berani mengaku sebagai istrimu. Kamu tahu sendiri bagaimana Lerita yang mengejar kamu, obsesinya yang terlalu tinggi"


Rasanya Dario juga menyesali perbuatannya karena dia pernah mendukung Lerita untuk mendekati Delano. Semuanya hanya karena dia tidak mau kalau Delano masih mengganggu pernikahan dirinya dan Alana.Tapi kenyataannya cinta diantara Delano dan Alana memang terlalu kuat untuk di pisahkan begitu saja.


Delano mneghembuskan nafas kasar, kenapa juga dia baru sadar dan teringat pada Lerita.  Wanita yang terobsesi padanya hingga dia bisa melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan Delano. Tapi semuanya percuma saja, karena Delano yang tidak akan pernah bisa berpaling dari Alana. Hanya Alana, wanita yang Delano cintai sampai kapan pun.


Delano kembali ke Apartemen di saat hari yang sudah hampir larut. Dia tidak berani mengganggu Alana di dalam kamarnya yang pastinya sudah tidur. Jadi dia langsung masuk ke dalam kamarnya saja.


Dan baru pagi ini Delano menemui Alana yang ternyata sudah berada di dapur.Gadis itu sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Delano duduk di kursi meja makan. 


"Selamat pagi Sayang, rajin banget jam segini sudah menyiapkan sarapan. Kamu memang calon istri yang terbaik deh"


Delano menatap makanan yang sudah tertata di atas meja makan di depannya ini. Menatap pada Alana yang masih memasak menu terakhir untuk sarapan pagi ini. Alana hanya diam dan tidak menjawab ucapan Delano barusan. Hal itu membuat Delano langsung menghampiri Alana dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, kenapa diam saja? Padahal aku sudah kangen banget sama kamu, semalam pas aku pulang kamunya sudah tidur"


Alana menghela nafas pelan dengan kelakuan Delano ini. "Kenapa kamu masih merindukan aku? Seharusnya kamu sudah tidak merindukan aku lagi"


Bodoh Alana, kenapa kamu berkata seperti itu. Pasti Delano akan semakin merasa jika kamu masih cemburu padanya. Meski kenyataannya memang iya.


Delano mengecup bahu Alana dengan lembut. "Apa kamu masih berpikir jika aku sudah menikah? Apa perlu aku buktikan kalau aku memang belum menikah, apa yang Lerita katakan adalah kebohongan agar kamu menajuh dari aku"


Alana terdiam mendengar ucapan Delano barusan. Entah dia harus percaya atau tidak saat ini. Yang jelas Alana benar-benar bingung.


Bersambung