My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Merasa Beruntung Memilikimu!



Malam ini Delano baru saja sampai di rumah, setelah banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan di Kantor. Wajah lelahnya langsung berubah lebih baik ketika dia sudah bertemu dengan istrinya. Alana yang menyambutnya dengan senyuman hangat. Tentu saja dia tidak akan pernah merasa lelah.


Alana langsung menghampiri suaminya, memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Delano. "Cape banget ya, mau langsung mandi saja? Biar aku siapkan airnya"


Delano mengangguk, dia mengecup puncak kepala Alana yang sedang memeluknya. "Aku pengen makan mie instan, sudah lama sekali tidak maka mie"


Alana melerai pelukannya, dia mendongak untuk menatap suaminya. "Aku buatkan ya, sekarang kamu mandi dulu saja"


Delano mengangguk, dia kembali mengecup kening istrinya. Delano selalu merasa lebih baik ketika melihat istrinya ini. Meski seharian ini dia sudah sangat lelah karena banyaknya pekerjaan. Namun senyuman istrinya selalu menghilangkan segala lelah dalam dirinya.


Alana menyiapkan perlengkapan mandi dan juga pakaian ganti untuk suaminya. Setelah itu dia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan mie instan sesuai keinginan suaminya untuk makan malam kali ini.


"Aku harus membicarakan tentang Vina pada Delano sekarang" gumam Alana yang sedang memasukan bumbu mie instan ke dalam mangkuk.


Tentang keinginan adiknya itu, benar-benar cukup mengganggu pikiran Alana. Karena sebenarnya Alana berharap jika Vina akan tinggal bersamanya selama dia belum menikah. Karena sekarang Vina menjadi tanggung jawabnya. Tidak peduli masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka, yang terpenting sekarang adalah tentang Vina yang sudah berubah, dan mereka berdua hanya bisa untuk saling melindungi.


"Sayang, sudah selesai mie'nya belum?"


Alana menoleh pada suaminya yang baru saja muncul disana. Alana membawa dua mangkuk mie instan dan menaruhnya di atas meja makan.


"Sudah, ayo kita makan sekarang"


Delano mengangguk, mereka duduk bersebrangan di meja makan itu dan mulai memakan mie yang di buatkan oleh istrinya. Sudah lama dia tidak memakan makanan seperti ini. Delano memang bukan tipe orang yang harus makan makanan yang sehat. Dia tetap suka memakan makanan instan seperti ini, karena memang kurang sehat jadi Delano tidak menganjurkan untuk terlalu sering memakan makanan instan seperti ini.


"Enak ya, kenapa si kamu selalu larang aku kalau makan mie instan. Padahal 'kan enak"


"Gak ngelarang, cuma jangan terlalu sering saja. Tidak akan baik untuk kesehatan kamu nantinya"


Alana hanya mencebikan bibirnya mendengar ucapan suaminya itu. Memang benar apa yang dibicarakan oleh suaminya, hanya saja makanan instan ini memang menjadi favoritnya sejak dulu.


Masih berada di ruang makan, mereka baru saja selesai makan. Dan Alana akan langsung membahas tentang Vina yang ingin pindah dari rumah ini.


"Sayang, tadi pagi Vina bilang sama aku kalau setelah dia lulus kuliah. Dia akan pindah dari rumah ini dan mencari pekerjaan. Dia akan mencari tempat tinggal sendiri. Sebenarnya aku juga belum mengizinkan karena aku harus membicarakan ini dulu dengan kamu"


Delano menatap istrinya dengan tenang, dia tahu bagaimana Alana yang menyayangii adiknya. Terlepas dari apa yang pernah terjadi diantara keduanya. Alana tetap menyayangi adiknya.


"Kalau memang Vina sudah memikirkan keputusannya ini dengan matang, maka aku tidak akan melarangnya. Untuk tinggal terpisah dari kita, aku tahu kalau adik kamu itu merasa canggung dan tidak nyaman berada di sini bersama dengan kita. Tidak papa kalau memang dia ingin tinggal sendiri. Asalkan tetap dalam pengawasan kita. Untuk masalah pekerjaan, dia bisa bekerja di perusahaan aku"


Alana menatap suaminya itu, mungkin memang Vina harus tinggal terpisah agar dia tidak merasa canggung lagi. Karena pastinya berada di rumah ini, Vina akan merasa sangat canggung pada suaminya. Karena mau bagaimana pun, tentu Delano mengetahui semua tentang dirinya dan tentang hubungan Vina dan Alana di masa lalu yang tidak baik-baik saja.


Jadi Vina akan selalu merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Karena dia yang merasa malu dengan perbuatannya di masa lalu, dan sekarang tetap Kakaknya yang menolong kehidupannya di saat dia benar-benar hacur.


"Sayang terima kasih ya"


Entah apa yang harus dilakukan Alana untuk berterima kasih pada Delano. Beruntung sekali karena Alana bisa mendapatkan suami seperti Delano.


"Aku akan selalu memberikan yang terbaik untuk kamu, apapun yang terjadi nantinya. Kalau memang adik kamu ingin tinggal terpisah dari kita. Maka aku juga akan memberikan yang terbaik, karena aku tahu kamu akan khawatir dengan Vina jika dia harus tinggal jauh tanpa pengawasan kita"


Alana mengangguk, dia berdiri dan berjalan ke arah suaminya. Memeluk Delano dengan hangat dan mencium pipi Delano dengan lembut.


"Sayang, terima kasih ya untuk semuanya. Aku benar-benar sangat beruntung bisa memiliki kamu"


Delano mencium tangan Alana yang melingkar di lehernya itu. "Asalkan kamu bahagia, maka semuanya akan aku lakukan. Sudah terlalu banyak air mata kesedihan yang kamu keluarkan selama ini. Jadi sudah saatnya aku memberikan yang terbaik untuk kamu agar kamu tetap bahagia bersama denganku"


######


Pagi ini setelah suaminya pergi bekerja, Alana menemui adiknya di dalamkamar. Vina baru saja bersiap untuk berangkat kuliah.


"Kak, ada apa?"


Alana duduk di pinggir tempat tidur sambil memangku Aini yang dia bawa. "Semalam Kakak sudah berbicara tentang kamu yang ingin pindah. Suami Kakak sudah memberikan izin, kamu bisa tinggal di Apartemen miliknya dan juga kamu bisa bekerja di perusahaan dia. Sebenarnya itu bukan sebuah penawaran untuk kamu, tapi itu adalah sebuah syarat jika kamu ingin tinggal terpisah dari kamu"


Vina memegang tangan Kakaknya, tentu saja dia tidak akan pernah bisa mengecewakan Kakaknya lagi setelah selama ini dia menerima kebaikan dari Alana.


"Kalau memang itu yang akan membuat Kakak tenang di saat aku tinggal terpisah dari Kakak, maka aku akan lakukan. Terima kasih ya Kak, karena Kak Alana dan suami Kakak sudah begitu baik padaku"


Alana mengangguk, dia tahu bagaimana Vina yang memang telah berubah sekarang. Jadi tidak adalagi yang perlu di khawatirkan oleh Alana jika memang Vina ingin tinggal terpisah.


"Kamu harus menjadi gadis yang baik dan sukses Vin. Biar Ibu bahagia di atas sana dan dia bisa tahu bagaimana Kakak yang menjaga kamu dengan begitu baik"


"Iya Kak, aku janji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Mulai saat ini dan seterusnya aku akan berubah, menjadi Vina yang lebih bai lagi"


Alana mengangguk dan tersenyum mendengar itu. Tentu saja dia sangat senang mendengarnya. Alana memang sudah melihat bagaimana adiknya yang sudah lebih baik sekarang. Vina benar-benar sudah berubah sekaran.


"Tetaplah seperti ini Vin, karena Kakak tidak mau kalau sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama yang hanya akan membuat kamu sulit dan menyesal akhirnya"


Vina mengangguk, tentu dia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Vina akan tetap menjadi gadis yang baik seperti yang di inginkan oleh Kakaknya ini.


Bersambung