My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Selamanya Akan Bersama Dan Bahagia



Untuk pertama kalinya Abraham berkunjung lagi ke rumah anaknya dan dia melihat Vina yang berada disana. Sebenarnya bagi Abraham tidak terlalu memikirkan tentang keberadaan Vina di rumah anaknya ini. Dia merasa wajar saja, karena mau bagaimana pun Vina adalah adiknya Alana. Jadi wajar di saat Ibu mereka tidak ada dan Ayahnya Vina juga sedang tidak bisa menjaga Vina karena dirinya juga sedang berada di dalam sel tahanan.


Namun, sepertinya Vina cukup merasa canggung dengan keberadaan Abraham saat ini. Dia tahu jika Abraham adalah Ayah kandung dari Kakaknya, dia sudah mendengar cerita dari Kakaknya itu tentang Abraham ini.


"Kak Alana masih di kamar Tuan, biar saya panggilkan ya"


Abraham duduk di atas sofa, dia menatap Vina yang semakin terlihat gugup karena keberadaan dirinya. "Kamu Vina ya, adiknya Alana?"


Vina mengangguk dengan wajah yang semakin tegang. "I-iya Tuan, saya Vina"


"Tidak usah tegang begitu, saya tidak akan melakukan apapun padamu. Selama kamu bersikap baik pada putri kesayangan saya itu, maka saya juga tidak akan mengganggu hidup kamu"


Ucapan Abraham itu bukan membuat Vina semakin tenang, tapi malah semakin tegang. Dia tahu jika ucapan Abraham yang seperti itu hanya untuk memperingati Vina tentang dirinya yang dulu yang selalu bersikap tidak baik pada Alana. Namun sekarang ini, Vina benar-benar akan berubah dan tidak akan membuat Kakak perempuannya itu kecewa lagi padanya.


"Papa, kok datang tidak bilang-bilang si"


Alana yang baru keluar kamar dengan menggendong anaknya, langsung menghampiri Abraham dengan senyuman ceria. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan Ayahnya ini. Karena Abraham akan datang di aktu-waktu dia tidak sibuk dalam pekerjaannya di luar kota.


"Papa sengaja datang karena lagi punya waktu luang. Lagian Papa sangat merindukan cucu Papa ini"


Abraham langsung mengambil Aini dari gendongan Alana. Memangkunya dan mengajaknya main di atas sofa. Alana duduk di samping Ayahnya, dia berniat memanggil pelayan untuk membuatkan minum buat Ayahnya ini.


"Biar Vina saja Pa"


Alana menatap adiknya yang menawarkan diri untuk membuatkan minum. "Gak papa Vin?"


"Iya Kak, biar Vina saja yang buatkan minum. Mau minum apa?"


Alana langsung menoleh pada Ayahnya. "Papa mau minum apa?"


"Kopi hitam saja Nak"


"Jangan kebanyakan minum kopi, Papa sudah tua juga"


Abraham tersenyum mendengar omelan dari anaknya itu. Tentu saja dia merasa sangat tersentuh karena akhirnya dia bisa merasakan di omeli oleh anaknya di masa tuanya seperti ini.


"Kali ini saja Nak, lagian Papa juga jarang kok minum kopi. Sekarang lagi penat saja habis perjalanan cukup jauh"


"Yaudah Vin, kopi hitam saja"


"Iya Kak, tunggu sebentar ya"


Vina berlalu ke dapur untuk membuatkan minum. Jelas Vina melihat bagaimana Alana yang begitu perhatian pada Ayah kandungnya itu. Mungkin semuanya Alana luapkan saat ini, ketika dia bisa bersama dengan Ayah kandungnya. Karena dia masih dengan Ayah tirinya, tentu Alana tidak bisa menunjukan kemanjaannya ini.


#######


Abraham sengaja menginap, karena memang dia begitu merindukan anak dan cucunya ini. Seharian bermain dengan cucunya hingga sekarang Aini sudah terlelap. Abraham selalu merasa sangat bersyukur karena dia bisa kembali bertemu dengan anaknya ini setelah sekian lama berpisah.


"Oh ya Delan, bagaimana tentang hukuman yang diberikan pada Ayah tiri Alana?"


Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang berada di teras belakang. Menghadap langsung ke arah taman dan menatap lampu taman yang berkelap-kelip indah.


"Dijatuhi 10 tahun penjara Pa, banyak bukti yang memberatkannya hingga dia tidak bisa melakukan pembelaan apapun"


Abraham mengangguk, sebenarnya dia sedikit lega dengan hukuman yang di terima pria itu. Tentunya karena rasa sakit hati Abraham masih belum bisa terobati begitu saja. Abraham yang mencintai Rina dengan tulus, namun ternyata ada sosok pria lain yang berhasil merebut istrinya dan kesetiaannya itu. Semuanya hanya karena harta dan uang.


Abraham menepuk bahu Delano, dia sangat percaya pada menantunya ini jika Delano pasti bisa menjaga putrinya dengan sangat baik.


"Jangan pernah menyia-nyiakan Alana, karena seseorang yang sudah memberikan hati dan cintanya dengan tulus padamu, maka dia tidak akan pernah berpaling darinya. Jadi, jangan pernah kamu mencoba untuk menodai pernikahan kamu ini"


"Tentu saja Pa, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu yang aku lewati untuk berjuang sampai bisa di titik ini. Ketika Alana yang pernah menikah dengan Ayahku sendiri, tentunya itu membuat pukulan telak dalam hidupku. Namun demi cintaku pada Alana, aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkannya. Meski yang aku lakukan memang salah"


Abraham tersenyum mendengar itu, tentu saja dia tidak terlalu tahu tentang cerita itu. Namun, Abraham jelas bisa membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan anak dan menantunya saat itu. Ketika kejadian itu terjadi.


"Papa bangga karena kalian bisa melewati badai yang begitu besar dalam hubungan kalian dan tetap bisa mempertahankan cinta kalian berdua"


Ya, semuanya hanya karena cinta mereka yang terlalu besar hingga sangat sulit untuk di pisahkan. Delano maupun Alana sama-sama berjuang untuk bisa kembali dan sampai ke pernikahan ini. Bahkan sekarang mereka sudah mempunyai anak.


Di dalam kamar, Alana yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Menatap suasana malam hari di luar sana, cukup terkejut saat Delano masuk dan memeluknya dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahu Alana.


"Terima kasih ya Sayang, karena kamu sudah bertahan untuk aku sampai sekarang"


Kening Alana berkerut dalam mendengar itu, tentu saja dia tidak mengerti apa yang di ucapkan Delano. "Kamu kenapa? Kok tiba-tiba saja berkata seperti itu?"


"Tidak papa, aku hanya sedang ingin berterima kasih saja padamu, setelah banyak cobaan dan rintangan yang kita hadapi selama ini. Dan akhirnya sekarang kita bisa bersama"


Alana tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia memegang tangan Delano yang melingkar di perutnya itu. "Semuanya akan indah pada waktunya, percaya saja itu. Karena sejauh mana pun kita berpisah dan sesulit apapun rintangan yang kita hadapi. Tentu tidak akan berarti apa-apa jika memang kita berdua telah di takdirkan untuk bersama. Karena jodoh ada di tangan Tuhan. Sejauh apapun itu, jika memang sudah berjodoh sudah pasti akan bersama"


Delano mengangguk setuju, memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Karena memang sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin jika memang Tuhan telah berkehendak.


"Selamanya kita akan bersama dan bahagia"


"Iya Sayang"


Bersambung