
Akhirnya Alana bisa mengejar motor yang di tumpangi Vina. Mereka masuk ke dalam basement Apartemen. Alana turun dari mobil dan mengejar adiknya ke dalam basement Apartemen. Parkiran Apartemen ini yang cukup geap, hanya di terangi dengan cahaya remang-remang.
Tubuh Alana mematung seketika melihat adegan di depannya. Tubuhnya bersandar di sebuah mobil yang terparkir disana, jelas Alana melihat bagaimana Vina yang bercumbu mesra dengan kekasihnya selepas mereka turun dari motor.
Mata Alana mulai berair saat jelas adiknya hanya diam saja ketika tangan pria itu masuk ke dalam dress yang di pakai oleh Vina.
"VINA!"
Teriak Alana dengan begitu keras, dia menghampiri Vina dan menampar adiknya dengan keras. "Kamu kenapa diam saja pas pria ini melakukan hal seperti ini sama kamu. Kalau memang alasannya cinta, itu hanya hal bodoh Vina"
Vina menatap Kakaknya, dia tidak tahu kalau Alana sampai mengikutinya sampai kesini. "Kakak mau apa kesini? Apa tidak cukup mencampuri kehidupan aku dan keluarga aku, Kak?"
"Apa maksud kamu? Kakak hanya tidak mau kamu bersama dengan pria yang sama sekali tidak menghargai kamu. Dia bukan yang terbaik untuk kamu, Vina!"
"Terbaik apa? Selama ini Kakak yang selalu menjadi sumber pertengkaran Ibu dan Ayah. Hingga Kakak pergi dari kehidupan kami pun, Kakak tetap saja semuanya hancur. Karena suami Kakak itu yang membuat Ayah di penjara dan semuanya hancur seperti ini karena Kakak"
Tubuh Alana mematung seketika mendengar itu. Suaminya? Itu artinya adalah Delano, dia tidak tahu apa-apa tentang itu. Alana benar-benar tidak tahu apa-apa tentang itu semua.
"Delano tidak mungkin melakukan hal itu tanpa memberi tahu Kakak"
"Hahaha... Kakak pikir suami Kakak itu selalu berkata jujur pada Kakak? Banyak hal yang dia sembunyikan dari Kakak, termasuk tentang Ayah yang dia masukan penjara"
Vina menarik tangan kekasihnya dan berbalik untuk meninggalkan Alana. "Jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi Kak, kehidupan aku hancur karena Kakak!"
Alana terdiam mendengar ucapan adiknya, dia melihat punggung adiknya yang menghilang di balik lift. Alana keluar dari sana dengan air mata yang menetes di pipinya yang langsung dia usap dengan kasar.
Masuk ke dalam mobil dengan tangisan yang pecah begitu saja. "Langsung pulang ke rumah saja Pak"
"Loh tidak jadi ke Kantor, Nona?"
"Tidak Pak, keadaan saya sedang tidak baik. Saya ingin kembali ke rumah saja"
"Baik Nona"
Alana mengusap wajah kasar, dia sudah tidak bisa datang ke Kantor dan menemui suaminya dengan keadaan dia yan seperti ini. Alana tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada Delano nanti, dia tetap harus menunggu sampai Delano datang di rumah. Karena Alana tidak mau membuat keributan di Kantor suaminya.
Drett...Drett..
Alana merogoh tasnya dan melngambil ponselnya. Sudah tahu siapa yang menelponnya, pasti Delano yang pastinya kebingungan karena Alana belum juga sampai di Kantor.
"Hallo"
Alana masih mencoba untuk biasa saja, dengan suaranya yang dia buat sebiasa mungkin.
"Sayang, kamu dimana? Kok belum sampai juga"
"Emm. Sepertinya aku tidak jadi datang kesana. Aku lagi malas ke Kantor kamu, aku mau pulang saja ke rumah"
"Udahlah, aku pulang ya"
Alana langsung memutuskan sambungan telepon dengan suaminya. Alana menghela nafas pelan, dia menyandar di sandaran kursi dengan memejamkan matanya. Terlalu banyak beban pikiran yang membuat Alana merasa lelah.
Aku tidak akan marah sama suamiku, aku tetap harus mempertanyakan dulu apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku yakin, Delano melakukan semua ini dengan alasannya.
Alana hanya mencoba untuk tenang menyikapi semua ini. Alana tidak boleh untuk langsung marah pada suaminya, karena Alana tidak mau memulai pertengkaran dengan apa yang belum dia ketahui kebenarannya.
#######
Delano pulang ke rumah malam hari, wajahnya terlihat sangat lelah dengan pekerjaan seharian ini. Delano langsung masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang sudah tertidur di atas tempat tidur. Delano menghampiri istrinya, duduk di pinggir tempat tidur. Mengelus kepala istrinya dan memberikan kecupan disana.
"Kasihan Sayangnya aku, pastinya kamu sangat lelah ya mengurus Aini seharian ini"
Delano berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan berganti pakaian. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Delano butuh untuk berendam sebentar dengan air hangat di dalam bak mandi.
Delano keluar dari ruang ganti dengan wajah yang lebih segar. Dia melihat istrinya yang duduk di sofa. Delano malah bingung sendiri kenapa Alana malah terbangun.
"Sayang, kamu bangun ya"
Delano duduk di samping Alana, namun entah kenapa dia merasakan hawa yang berbeda dari suaminya ini. Bahkan Alana tidak tersenyum padanya, membuat Delano merasa bingung saja dengan sikap istrinya ini.
"Sayang ada apa?"
"Apa benar kamu melakukan hal yang tidak aku ketahui selama ini?"
Delano mengerutkan keningnya dalam mendengar itu. Jelas dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya. "Maksud kamu bagaimana? Kenapa kamu bertanya begitu?"
Alana menoleh, menatap Delano dengan matanya yang berkaca-kaca. "Tadi aku ketemu Vina, aku mencoba bicara dengan dia. Tapi, kamu tahu apa yang dia katakan? Dia bilang kalau aku adalah penyebab kehancuran hidupnya, karena Ayah di penjara juga karena kamu. Sekarang Vina benar-benar menyalahkan aku sebagai penghancur keluarganya"
Hah..
Delano menghembuskan nafas pelan mendengar itu. Jelas saat ini sudah Delano duga, sudah saatnya Delano menceritakan semuanya pada Alana. Apa yang dia sembunyikan darinya selama ini.
"Ya, aku yang melaporkan dia ke polisi. Tapi bukan aku yang menyebabkan Ayah tiri kamu itu masuk penjara. Karena aku hanya melaporkan bukti penggelapan dana yang di lakukan oleh Ayah pada perusahaan. Jelas aku hanya membela sebuah kebenaran, karena Ayah kamu sudah pantas mendapatkan semua ini. Hukum akan sesuai dengan kesalahan apa yang kita lakukan"
Alana menghela nafas pelan, dia tidak mempunyai alasan untuk menyalahkan suaminya. Karena pada kenyataannya memang apa yang Delano lakukan memang murni atas semua kesalahan yang di lakukan oleh Ayah.
"Aku capek, sekarang Vina menyangka jika aku adalah penyebab dari kehancuran keluarganya itu. Sementara aku juga tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Vina bisa menurut padaku dan tidak terus tinggal bersama pacarnya dengan hubungan bebas yang dia jalani itu. Aku hanya takut akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Vina"
Delano mengelus kepala istrinya, lalu memeluk tubuhnya. Tentu Delano tahu perasaan istrinya itu. "Yaudah Sayang, kamu harus tenang. Aku yakin kalau kamu pasti bisa menghadapi semua ini, Vina akan sadar suatu saat nanti jika kamu adalah Kakak yang baik untuknya"
"Semoga saja ya"
Bersambung