My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Vina Menghilang?!



Alana terdiam di atas sofa, malam ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu tentang adiknya. Suaminya tidak memberikan informasi apapun tentang adiknya karena memang Delano tidak ingin jika Alana akan kembali kecewa karena hal yang di ucapkan adiknya pada Delano begitu menyakitkan. Alana aka sangat sakit hati jika mendengarnya.


"Kamu datang kesana lagi? Kan aku sudah bilang sama kamu kamu tidak perlu datang untuk menemui Vina, karena tidak mungkin juga Vina akan mau menerima kamu kembali. Lihat bagaimana dia yang begitu keras tidak mau mendengarkan ucapan kamu"


Alana menghela nafas pelan mendengar itu, tentu saja dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Karena meskipun suaminya berkata seperti itu, tapi hati dna perasaan Alana tetap tidak bisa tenang. Seolah akan ada yang terjadi pada VIna tanpa sepengetahuan dia.


"Tapi aku takut ada sesuatu yang terjadi padanya. Saat tadi aku menemuinya, aku jelas melihat wajahnya yang tidak tenang. Seolah dia sedang tertekan dengan semuanya"


Delano menghembuskan nafas kasar, tentu da tahu bagaimana Alana yang begitu peduli pada adiknya itu. Meski Vina sama sekali tidak pernah bersikap baik padanya.


"Begini saja, kalau memang kamu tetap ingin tahu keadaan Vina yang sebenarnya bersama dengan kekasihnya itu. Besok pagi aku akan datang ke Apartemennya dan memastikan semuanya"


Alana mendongak dan menatap suaminya yang berdiri di depannya dengan wajahnya yang frustasi. Mungkin Delano yang merasa bingung untuk menghadapi Alana yang masih berharap bisa membawa Vina kembali padanya.


Alana berdiri dan memeluk suaminya, dia tahu bagaimana dia yang membuat Delano pusing. Namun mau bagaimana pun juga, Alana tetap tidak mau melihat Vina terus bersama dengan pria itu. Karena memang Alana yakin jika Vina tidak tenang hidup bersama dengan pria itu.


"Maafkan aku ya Sayang, karena aku selalu merepotkan kamu"


Delano menghela nafas pelan, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Aku tahu dan mengerti bagaimana kamu yang menyayangi adik kamu itu dan tidak mau melihat Vina terluka dan menjalani hidup yang membuatnya tertekan. Tapi kamu jangan terlalu memaksa juga karena semua ini adalah keputusan Vina dalam menjalani kehidupannya"


Alana mengangguk dalam pelukan suaminya, memang dia tahu jika semua yang terjadi memang sudah pilihan hidupnya dan juga pilihan Vina. Mungkin Vina sama dengan posisi Alana pada saat itu. Merasa jika pilihannya adalah yang terbaik, bagaimana Alana yang pernah menjadi pasangan gelap di saat Alana sudah menikah dengan Ayahnya.


Hubungan terlarang itu terjadi juga karena pilihan Alana sendiri. Karena Alana yang selalu merasa jika Delano yang terbaik untuknya. Tidak tahu jika akibat dari semua itu akan separah ini. Bahkan dia harus hamil diluar nikah dan harus lari jauh dari kehidupan Delano. HIdupnya pada saat itu benar-benar seperti seorang penjahat yang sedang melarikan diri.


######


"Maaf Tuan, pemilik Apartemen ini telah pergi tadi pagi. Karena sewa Apartemen yang sudah tidak terbayar beberapa bulan terakhir"


Seorang pihak keamanan di Apartemen itu memberi tahu Delano ketika dia terus menekan bel di depan pintu Apartemen yang di tempati Vina beberapa waktu terkhir. Dan tentunya Delano juga sangat terkejut mendengar ucapan dari pihak keamanan itu.


Akhirnya Delano kembali ke rumah tanpa mendapatkan informasi apa-apa dari Vina. Delano menemui istrinya yang sedang mengasuh anak mereka di taman belakang.


"Sayang, kamu baru pulang ya" Alana langsung mencium punggung tangan suaminya ketika Delano sudah berada di hadapannya.


"Iya, kamu sedang ada disini? Masuk yuk, nanti masuk angin, ini juga sudah sore"


Alana mengangguk, dia mengikuti suaminya yang menggendong Aini untuk membawanya masuk ke dalam rumah. "Sayang, bagaimana? Apa kamu menemukan kabar terbaru dari Vina? Atau mungkin kamu sudah mengetahui bagaimana keadaan Vina bersama dengan pria itu"


"Aku mau mandi dulu Sayang, bisa tolong siapkan air untuk aku mandi"


Alana mengangguk, dia berlalu ke ruang ganti dan ke kamar mandi untuk menyiapkan segala perlengkapan mandi suaminya.


Mungkin setelah dia mandi, barulah dia aku akan bertanya lagi. Kasihan sekarang masih lelah.


Alana menunggu suaminya selesai mandi sambil menyusui Aini yang berada di dalam gendongannya. Setelah anaknya terlelap, barulah Alana menidurkannya di box bayi.


"Tidur yang nyenyak ya Sayang, Ibu mau bicara dulu dengan Ayah tentang Tante kamu"


Mungkin jika ada Ibu, Alana tidak akan terlalu memikirkan Vina dan mengkhawatirkannya. Karena mau bagaimana pun Vina adalah adiknya, meski berbeda Ayah.


Namun saat ini Alana tidak mempunyai alasan untuk tidak memperdulikan Vina, karena dia tahu bagaimana Vina yang tidak mempunyai sandaran dalam hidupnya lagi. Ibunya meninggal dan Ayahnya yang sedang berada di dalam sel tahanan. Alana hanya takut Vina frustasi dan akhirnya akan melakukan hal yang tidak di harapkan.


"Sayang, kita makan di luar yuk. Sudah lama kita tidak makan malam diluar"


Alana menoleh pada suaminya yang baru saja keluar dari ruang ganti. Delano sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Entah kenapa Alana malah merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya ini.


Sudah tahu Alana sangat mengharapkan penjelasan dan jawaban dari Delano atas pertanyaannya tadi. Namun Delano malah mengajaknya untuk makan malam di luar. Seolah memang tidak berniat untuk berkata dan menjelaskan semuanya.


"Yaudah, aku siap-siap dulu"


Alana juga tidak mungkin menolak ajakan dari suaminya itu. Alana berpikir jika memang suaminya ingin mengajaknya makan malam di luar untuk menceritakan tentang adiknya itu juga.


Ya Tuhan, bagaimana aku menceritakan pada dia jika adiknya sudah tidak ada di tempat di tinggal. Aku juga tidak tahu kemana dia pergi.


Sebenarnya Delano hanya sengaja mengundur waktu karena memang dirinya belum menemukan cara yang pas untuk menjelaskan pada Alana apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka pergi ke sebuah Restaurant yang sudah Delano reservasi terlebih dulu. Sebenarnya Alana sangat ingin bertanya pada Delano tentang adiknya saat mereka sedang berada di perjalanan ini. Namun ketika melihat suaminya yang hanya diam dan seolah sedang tidak ingin bicara apapun. Membuat Alana mengurungkan niatnya.


"Kita mau makan dimana Sayang?"


Alana mencoba membuka pembicaraan dengan suaminya itu. Namun Delano hanya menjawab dengan singkat, menyebutkan nama Restaurant yang akan mereka kunjungi malam ini. Hal itu tentu saja membuat Alana sedikit bingung.


Bersambung