
Alana terdiam sambil menatap pemandangan di luar sana. Semua terlihat berlarian seiring mobil melaju. Alana mengelus perutnya sendiri, merasa bingung dengan keadaan sekarang. Delano yang tiba-tiba datang ke tempat kerjanya dan membawa Alana pergi dengan caranya sendiri.
"Delan aku tidak bisa ikut dengan kamu"
Ucapan Alana itu membuat Delano langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menatap Alana dengan tatapan matanya yang sendu.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sedang hamil? Itu anakku 'kan?"
Alana ingin mengiyakan, tapi dia mengingat jika beberapa hari lalu dia melihat Delano yang bersama Lerita. Alana berpikir jika saat ini dia tidak boleh merusak hubungan Delano dengan Lerita. Atau mungkin memang mereka sudah menikah. Gumamnya dalam hati.
"Aku tidak bisa ikut dengan kamu Delan, aku tidak bisa"
Delano meraih tangan Alana dan menggenggamnya, mengecup punggung tangan Alana dengan lembut. "Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa ikut denganku? Aku tahu jika selama ini aku telah menghancurkan kehidupan kamu dan masa depan kamu. Tapi apa kamu tidak bisa memberikan aku satu kali kesempatan saja?"
Alana memalingkan wajahnya, dia tidak bisa jika harus menatap mata Delano terlalu lama. Alana terlalu lemah jika harus menatap mata pria yang dicintainya itu. Dia menarik tangannya dengan perlahan dari genggaman tangan Delano.
"Maaf Delan, tapi aku benar-benar tidak bisa bersama dengan kamu lagi" Aku tidak mau merusak pernikahan kamu dan Lerita. Dan aku juga tidak siap menerima kemarahan Tuan Dario, karena aku berani muncul lagi dalam kehidupan Delano.
Alana masih ingat jelas bagaimana marahnya Dario saat mengetahui jika dirinya dan anaknya bermain di belakangnya. Alana juga masih mengingat ancaman dan perkataan Dario saat itu. Bagaimana dia yang mengatakan jika dirinya tidak akan pernah rela jika anaknya bersama dengan wanita kotor seperti Alana. Perkataan yang begitu menusuk hatinya yang terdalam.
"Alana, aku bisa menikahi kamu dan kita akan hidup bahagia bersama dengan anak kita ini" Delano meberanikan diri untuk mengelus perut Alana, dan tidak di duga dia mendapatkan respon langsung dari anak di dalam kandungan Alana ini.
Alana terdiam saat Delano mengelus perutnya, ada sebuah getaran yang berbeda dalam dirinya. Sudah lama sekali dia mengharapkan hal ini terjadi. Bagaimana perutnya akan di elus oleh Ayah dari bayinya. Namun kenyataan masih membuat Alana trauma jika harus kembali dengan Delano. Alana masih tidak yakin jika dirinya benar-benar bisa kembali lagi dengan Delano setelah apa yang dirinya lalui selama ini.
"Sayang, aku tidak bisa harus kehilangan kamu lagi. Aku tidak bisa melepaskan kamu lagi"
Alana terdiam, dia tidak bisa melakukan apapun. Namun dia tetap tidak bisa kembali pada Delano yang sudah mempunyai istri. Alana tidak mau menghancurkan kembali pernikahan, cukup pernikahan dirinya yang hancur.
"Maaf Delan, aku tidak bisa kembali padamu. Aku mohon kamu untuk mengerti aku"
Delano melepaskan genggaman tangannya. Dia menyandarkan kepalanya dengan mengusap wajah kasar. "Yaudah kalau memang kamu tidak mau kembali padaku. Aku akan tetap menemui kamu dan meyakinkan kamu kalau aku memang benar-benar ingin menikahimu, aku serius dengan ucapanku itu. Aku akan buktikan semuanya. Aku tahu kamu masih trauma dengan semua ini"
Akhirnya Delano membuat alibi sendiri, dia tidak bisa memaksa Alana untuk kembali padanya saat ini. Sepertinya Delano memang harus lebih berjuang lagi untuk bisa mendapatkan Alana dan hidup dengan bahagia bersama wanita yang dicintainya itu.
"Kalau begitu, aku turun disini saja"
"No! Aku akan mengantarkan kamu ke Apartemen punyaku. Aku tahu kalau kamu tidak mempunyai tempat tinggal saat ini. Aku tahu kalau kamu hanya menjadi pekerja di Restaurant itu dan kamu juga tinggal disana. Jadi mulai sekarang kamu tinggal disana dan aku yang akan memenuhi kebutuhan kamu itu"
"Anggap saja ini sebagai bentuk pertanggung jawaban aku padamu dan anak dalam kandungan kamu itu. Kalau memang kamu tidak mau menikah denganku"
Alana tidak menjawab, dia bukannya tidak mau menikah dengan Delano. Tapi sekarang situasinya sudah berbeda, Delano telah menikah dan mempunyai istri. Alana hanya tidak mau merusak pernikahan Delano dan Lerita. Cukup pernikahannya saja yang hancur berantakan.
Sampai di Apartemen, Delano langsung membawa Alana untuk masuk ke dalam Apartemen miliknya ini. Delano mengantar Alana ke kamarnya, dengan membantu Alana membawakan barang milik Alana.
"Ini adalah kamar kamu, aku juga sering datang kesini dan terkadang menginap disini karena memang jaraknya yang lebih dekat dengan Kantor. Tapi kau tenang saja, karena disini ada dua kamar"
Sebenarnya Delano mengatakan itu sengaja, agar dia mempunyai waktu banyak dengan Alana. Padahal komplek perumahannya saja sudah berjarak dekat dengan Kantor. Hanya Delano sedang mencoba mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Alana dan meyakinkan gadis itu jika dirinya akan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada Alana.
Alana masuk ke dalam kamar yang di tunjukan oleh Delano. Langsung menutup pintu kamar karena takut Delano ikut masuk ke dalam kamarnya ini. Alana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan matanya yang berkaca-kaca. Rasanya Alana tidak pernah berpikir kisahnya akan seperti ini. Alana tidak pernah berpikir jika dia akan bertemu lagi dengan Delano, namun dengan status pria itu yang telah menikah.
"Semuanya memang sudah takdir untuk aku, tapi kenapa harus sepahit ini Tuhan?"
Ingin menyalahkan takdir, namun apa yang bisa Alana lakukan saat ini? Karena semuanya juga sudah terjadi, dan tidak mungkin dirinya menyalahkan takdir Tuhan ini. Semuanya telah terjadi dan tidak akan bisa di ulang kembali.
Alana mengelus perut buncitnya itu, jika tidak mengingat tentang anaknya yang sekarang masih berada di dalam kandungannya itu, mungkin Alana sudah mengakhiri hidupnya jauh-jauh hari. Namun dia juga tidak mau menjadi sosok Ibu yang berdosa terhadap anaknya karena tidak membiarkan anaknya ini lahir ke dunia.
Ibu bertahan hanya demi kamu, Nak.
######
Delano tidak langsung pergi dari Apartemen ini. Dia duduk di atas sofa dengan kepala yang menyandar. Menatap langit-langit dengan tayapa yang menerawang. Semuanya terjadi juga karena kesalahan dirinya.
Salah Delano karena tidak memberi tahu lebih awal pada Ayahnya jika dia mempunyai kekasih, yaitu Alana. Semuanya hanya karena dirinya yang masih marah dan kesal pada Ayahnya itu. Namun semuanya telah membuat kisah cintanya bersama dengan Alana berubah menjadi kacau.
Aku akan meyakinkan Alana jika aku benar-benar serius dengan perkataanku untuk menikahinya. Aku tidak akan menyerah begitu saja, yang terpenting sekarang aku sudah menemukan Alana.
Tekad Delano yang begitu yakin untuk menikahi Alana dan meyakinkan gadis itu untuk percaya kembali padanya dan mau menikah dengan Delano.
Sampai kapan pun aku hanya mencintaimu, Alana. Kau adalah cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhir ku juga.
Cinta Delano yang memang begitu besar dan tulus pada Alana.
Bersambung