
Alana turun dari taksi yang dia tumpangi, dia meminta pada supir taksi untuk mnunggunya sebentar. Dengan langkahnya yang sedikit ragu, Alana berjalan menuju rumah minimallis yang ada di depannya ini. Hingga dia sampai di depan pintu rumah, Alana mengetuk pintu tanpa berkata apapun. Ketukan pintu ketiga kali hingga akhirnya pintu terbuka.
Alana terdiam melihat Ibunya yang membukakan pintu rumah dan dia melihat bagaimana Ibunya yang sehat. Alana bersyukur karena Ibunya baik-baik saja.
"Bu, apa kabar?"
"A-alana?"
Alana tersenyum melihat Ibu yang begitu terkejut akan kehadirannya itu. Dia menyalami Ibunya dan memeluknya dengan hangat, layaknya seorang anak yang baru bertemu dengan Ibunya kembali.
"Ka-kapan kamu kembali Alana? Dan darimana kamu mengetahui tempat tinggal kami yang baru?"
Pertanyaan Ibu jelas menunjukan jika dirinya tidak menginginkan kehadiran Alana disini. Ibu terlihat tidak senang melihat kedatangannya ini.
"Kenapa Bu? Apa Ibu tidak suka melihat aku datang kesini? Apa memang kehadiran aku tidak kalian harapkan?"
"Bukan seperti itu Alana, tapi tolong kamu mengerti keadaan Ibu. Sekarang Ibu sedang bahagia bersama dengan Ayah dan adik kamu. Kalau kamu kembali kesini, maka semuanya akan berbeda"
Tes..
Air mata Alana menetes begitu saja mendengar ucapan Ibu barusan. Seolah dirinya memang tidak berharga apapun untuk Ibunya. "Tapi kenapa Bu? Alana sudah Ibu korbankan untuk membayar hutang Ayah, hingga hidup Alana benar-benar hancur sekarang. Tapi sekarang Ibu malah terlihat bahagia tanpa kehadiran Alana. Apa salah Alana Bu?"
"Kamu tidak salah Alana, tapi harus kamu tahu kalau Ayah kamu saat ini bukan Ayah kandung kamu. Ibu menikah dengannya di saat kamu masih bayi, karena Ayah kandung kamu meninggal di saat Ibu mengandung kamu..."
"...Ayah tidak pernah mencintai Ibu, dia hanya terpaksa menikah dengan Ibu karena paksaan orang tuanya, hingga akhirnya kami bisa memiliki Vina. Maka Ayah berubah menjadi sosok suami yang mencintai istrinya. Jadi tolong jangan hancurkan keluarga Ibu ini"
Sebuah hantaman besar yang Alana rasakan saat ini. Kenyataan yang bahkan tidak dia ketahui selama ini. Tubuh Alana mematung di tempat, dia mulai merasa pening dan masih terlalu terkejut dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui barusan.
Brukk...
Alana tidak mampu menahan tubuhnya lagi, kepalanya sangat pusing hingga dia jatuh pingsan. Kenyataan yang baru saja di ucapkan oleh Ibunya, membuat dia sangat terkejut hingga jatuh pingsan.
######
"APA?"
Delano yang baru saja mendapatkan kabar jika istrinya sedang berada di rumah sakit sekarang, tentu saja dia sangat terkejut hingga tidak bisa berpikir apapun lagi selain langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya.
Sampai di rumah sakit, Delano langsung menuju ruangan istrinya. Disana masih ada Ibu, setidaknya Ibu masih mempunyai rasa kasihan karena dia masih menolong anaknya ini dan membawanya ke rumah sakit.
"Syukurlah kamu sudah datang, Alana masih belum sadarkan diri. Saya harus segera pulang karena Vina sebentar lagi akan pulang kuliah"
Delano tidak menjawab apapun, dia tahu kalau Ibu dari istrinya itu memang tidak pernah peduli pada Alana, anaknya sendiri.
Delano masuk ke dalam ruangan istrinya, dia melihat Alana yang masih terbaring di ranjang pasien dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Dokter juga masih berada disana, baru saja selesai memeriksa keadaan Alana.
"Pasien mengalami shock berat hingga dia tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Sekarang sudah baik-baik saja, hanya tinggal menunggu keadaannya semakin pulih"
"Baik Dok, terima kasih"
Setelah Dokter pergi, dia duduk di kursi dekat ranjang pasien itu. Delano mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Kenapa kamu harus datang menemui orang tuamu, sekarang malah seperti ini akhirnya"
Alana mulai mengerjap dan membuka kedua matanya. Kepalanya masih terasa pusing, Alana menoleh pada suaminya yang berada di samping ranjang pasien yang dia tempati itu.
"Sayang.." Alana tidak bisa berkata-kata lagi karena dirinya juga bingung harus memulai semuanya darimana.
Delano menghela nafas pelan, dia berdiri dan memberikan kecupan di kening istrinya. "Jangan memikirkan tentang apapun lagi. Kamu hanya perlu bersama denganku dan bahagia bersamaku"
Alana mengangguk dengan air mata yang menetes di sudut matanya. Mungkin memang hanya dengan cara tidak peduli dan tidak ingin tahu tentang keluarganya lagi akan membuat Alana bisa hidup lebih tenang.
"Sekarang pikirkan tentang kesehatan kamu dan bayi kita. Jangan memikirkan hal lain lagi"
Alana mengangguk, dia mencoba bangun dan Delano langsung membantunya untuk bangun terduduk di atas ranjang pasien. Lalu Alana memeluk suaminya dengan erat. Saat ini dia hanya mempunyai Delano yang akan membuatnya tenang.
"Aku tidak akan menemui mereka lagi, jika bukan mereka yang menemuiku. Sekarang aku mengetahui hal lain yang tidak aku ketahui sebelumnya"
Delano mengelus kepala Alana dan mengecupnya dengan lembut. "Sudah tidak perlu di ceritakan. Sekarang kamu istirahat saja agar bisa segera pulang"
Sebenarnya Delano memang sudah mengetahui tentang hal yang dikatakan oleh Alana barusan. Itulah sebabnya kenapa dia sangat tidak mengizinkan istrinya untuk bertemu dengan keluarganya. Karena Delano tidak mau kalau sampai Alana terluka dengan kenyataan yang dia ketahui. Dan benar saja, karena sekarang Alana sudah mengetahuinya, dan dia terlihat sangat sedih dan terluka.
"Tidurlah, aku akan menjaga kamu disini. Tidak perlu memikirkan apapun lagi"
Delano menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, memberikan kecupan lembut di kening istrinya. Alana mulai memejamkan matanya, karena pengaruh obat juga yang membuat Alana terlelap dengan mudah sekarang.
Setelah memastikan istrinya tidur, Delano pergi sebentar dari rumah sakit. Dia menitipkan Alana pada perawat disana. Delano pergi ke rumah yang tadi di datangi oleh istrinya. Saat ini semua anggota keluarga itu sedang berkumpul, membuat Delano lebih mudah untuk berbicara dengan mereka.
"Jangan pernah menemui istriku lagi atau menghubunginya. Dia sudah sangat kecewa dan terluka oleh kalian semua, jadi tolong jangan menemuinya lagi. Karena akan semakin membuat Alana terluka"
"Ya, kami memang tidak akan menemuinya lagi. Kami sudah bahagia tanpa dia disini" kata Vina yang begitu berani, membuat Delano langsung mengepalkan tangannya dan menatapnya dengan tajam.
"Seharusnya kau yang menanggung hutang Ayahmu pada Daddy saat itu. Karena kamu anak kandungnya, bukan Alana. Kamu yang seharusnya menanggung segala konsekuensi dari apa yang Ayahmu lakukan. Ingat, saya masih memberikan kalian toleransi saat ini. Tapi jika kalian kembali mengusik Alana dan membuatnya sedih. Aku tidaka kan diam saja!"
Delano berlalu pergi dari rumah itu setelah memberikan ancaman yang cukup membuat keluarga istrinya itu jera.
Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat istriku bersedih.
Bersambung