
Sebuah pernikahan akan semakin terasa lengkap ketik kita saling percaya. Pernikahan Alana dan Delano yang sudah lebih dari dua tahun. Alana tidak tahu harus mengucapkan terima kasih yang seperti apa lagi pada suaminya yang telah membuat hidupnya ini lebih bahagia. Bagaimana Alana yang pernah dalam posisi paling hancur dalam hidupnya, namun tetap ada Delano yang selalu menguatkan dan memberikan solusi dalam setiap bantuan yang dia rasakan.
"Sayang, kamu jangan terlalu banyak gerak ya, kehamilan kamu ini sudah sangat bersar"
Alana mengangguk, dia tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan suaminya jika dia bisa menjaga diri untuk kehamilannya yang memang tinggal menghitung hari saja.
"Iya Sayang, sudah sana pergi. Kamu segera selesaikan pekerjaannya. Biar bisa cepat pulang"
Delano menghela nafas pelan, sebenarnya dia tidak ingin pergi bekerja karena memang dia ingin menjaga istrinya yang sudah mendekati kelahiran itu. Namun hari ini benar-benar ada pekerjaan yang harus dia urus dan tidak mungkin untuk di wakilkan.
Delano mengelus perut besar istrinya, dia sangat bahagia dengan kehamilan kedua istrinya ini. Meski pada awal kehamilan memang tidak mudah bagi Delano yang harus menghadapi istrinya yang ngidam dan juga morningsickness. Namun sekarang, semuanya sudah kembali stabil.
"Baik-baik di perut Ibu ya, Ayah pergi bekerja dulu"
Alana menangkup wajah suaminya, lalu dia berjinjit dan mengecup bibir suaminya. "Semangat kerjanya ya Sayang"
Delano mengangguk, wajahnya langsung berbinar ketika mendapatkan amunisi dari istrinya ini. Semakin bersemangat untuk bekerja.
"Aku pergi dulu ya"
Alana langsung menyalami Delano, masih berdiri di teras depan rumah sampai mobil suaminya keluar dari gerbang rumah. Alana mengelus perutnya dan kembali masuk ke dalam rumah. Duduk di atas sofa yang ada di ruang tengah.
"Baik-baik ya Nak, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Ibu, Ayah dan Kak Aini"
"Bu.."
Alana menoleh ketika suara anaknya yang memanggilnya. Aini berjalan bersama dengan pegasuhnya, dia sudah cantik dan wangi. Alana langsung menggendongnya dan mendudukannya di atas pangkuan.
"Anan gadis Ibu sudah wangi, sudah, mandi ya?"
Aini mengangguk dengan wajah yang menggemaskan. Tangan mungilnya memegang perut Alana yang membesar. "Dik bayi.."
"Iya Sayang, dalam perut Ibu ada calon adik bayinya Aini"
Alana memegang pinggangnya, merasa tidak nyaman. "Aduh Nak, kamu turun dulu sebentar"
"Sini sama Mbak"
Alana mengelus perutnya yang terasa begitu kencang. Alana juga merasa tidak nyaman, mulai terasa kontraksi kecil. "Mbak, tolong panggilkan supir ya. Sepertinya saya merasakan kontraksi. Entah ini asli, atau hanya kontraksi palsu saja. Saya harus periksa dulu ke Dokter"
"Iya Nona, tunggu sebentar. Apa saya langsung hubungi Tuan?"
"Tidak usah, saya belum tentu benar-benar akan melahirkan sekarang. Ke rumah sakit dulu saja"
Setelah supir dan segala perlengkapan siap, Alana langsung pergi ke rumah sakit. Dia mencoba untuk tenang, ini bukan pengalaman pertamanya. Jadi Alana bisa lebih tenang dan tahu apa yang harus dia lakukan.
Sampai di rumah sakit, Alana langsung di periksa oleh Dokter. "Masih pembukaan awal, jadi masih ada jarak waktu. Lebih baik diam saja disini, biar tidak harus bolak-balik rumah sakit"
"Jadi benar kontraksi Dok? Saya takutnya hanya kontraksi palsu saja, seperti yang pernah di jelaskan oleh Dokter"
"Tidak, ini memang benar kontraksi. Persiapkan saja hati dan mental anda ya"
Alana mengengguk, dia mengelus perutnya dengan lembut. "Kita berjuang bersama ya, nanti kita hubungi Ayah kalau dia sudah selesai dengan pekerjaannya"
Delano baru saja kembali dari ruang meeting. Dia mengambil ponselnya yang tidak sengaja tertinggal di atas meja kerjanya. Melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari istrinya dan juga dari Pak supir.
"Ada apa ini, kenapa bisa banyak sekali banyak panggilan tidak terjawab"
Delano langsung menelepon balik nomor istrinya, namun tidak terjawab. Lalu dia menelepon nomor Pak Supir.
"Hallo Tuan, anda dimana?"
"Saya di Kantor, ada apa kamu telepon saya?"
"Tuan, Nona Alana sedang di rumah sakit. Dia akan melahirkan sekarang"
Deg..
Delano tidak menjawab apapun lagi, dia langsung menyambar kunci mobil dan berlari ke luar ruangan. Benar-benar panik dan cemas, memikirkan keadaan istrinya saat ini. Delano melajukan mobilnya dengan cepat, dia benar-benar panik dan khawatir dengan semua ini.
Sampai di rumah sakit dia langsung berlari ke ruangan bersalin, namun ternyata istrinya sudah melahirkan dan dia baru saja dia bawa keluar dari ruang bersalin untuk di pindahkan ke ruang rawat.
"Sayang..." Delano menghampirinya dan meraih tangan Alana. "...Maafkan aku karena tidak menemani kamu lahiran"
Alana tersenyum, dia tahu jika suaminya tidak mungkin sengaja tidak mengangkat telepon. "Aku dan bayi kita sudah selamat dan bayi kita lahir dengan sehat"
Delano mengelus kepala istrinya itu, dia tahu bagaimana perjuangan Alana ketika dia melahirkan. "Terima kasih karena sudah berjuang untuk anak kita"
########
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, dan Alana juga sudah boleh pulang. Saat ini mereka sedang mengadakan acara syukuran atas kelahiran anak kedua mereka ini. Semua orang juga ikut bahagia dengan kelahiran anak kedua Delano dan Alana.
"Selamat ya Kak, sudah menjadi Ibu dua anak nih"
Alana hanya tersenyum dengan ucapan adaiknya itu. Dia bahagia sekali karena sekarang dia bisa berkumpul dengan Ayah dan adiknya juga, meski sudah tidak ada Ibu. Namun dia tetap sangat bahagia, karena sekarang Alana bisa menikah dna hidup bersama pria yang dia cintai.
Abraham berjalan menghampiri anaknya itu, dia mennggendong Aini. "Selamat ya Nak, akhirnya kamu telah menemukan kebahagiaan kamu"
"Iya Pa, terima kasih ya atas dukungan Papa selama ini"
Delano merangkul bahu istrinya, dia tersenyum melihat istrinya yang kini telah bahagia. Pancaran kebahagiaan yang terlihat di wajah Alana, membuat Delano merasa berhasil sebagai seorang suami. Meski sudah banyak sekali rintangan yang harus mereka lewati selama ini.
"Aku bahagia bisa bersamamu. Terima kasih untuk semua hal yang pernah kamu berikan padaku. Aku mencintaimu"
Alana mengangguk, dia tahu bagaimana suaminya yang begitu banyak berjasa untuk kebahagiaanya ini. Delano yang selalu sabar menghadapi semuanya.
"Aku juga mencintaimu, terima kasih sudah menjadi suami yang terbaik untuk aku"
Semua rintangan dan cobaan yang pernah mereka lalui, kini telah bisa mereka hadapi hingga usai. Alana dan Delano telah bisa menemukan kebahagiaannya.
Aku pernah menjadi istri dari Ayah kekasihku, namun takdirku hanya Delano.
Begitulah takdir hidupnya yang harus dia jalani. Namun bersyukur karena Yara bisa kembali bersama dengan Delano yang menjadi cinta pertama dan terakhir dalam hidup Alana.
...End...